-->

Tokoh Toggle

Ferry Setiawan: Tak Jera Membukukan Kebaya

Perancang busana  ini Mei lalu meluncurkan buku ke-4 berisi karya kebayanya. Lahir di Semarang, 12 Desember. tahunnya dirahasiakan, mantan  pegawai F&B di kapal pesiar ini mengaku belajar membuat kebaya secara otodidak. Ia juga  tidak mau terikat trend, melainkan  berusaha menciptakan trend tersendiri agar pasar mau menyerap karyanya.

Beberapa kali Anda meluncurkan buku. Bisa dijelaskan isinya?

Saya baru saja meluncurkan buku yang ke-4 di Jakarta,  10 Mei lalu, judulnya Galery Kebaya Eksotik 2 . Itu berisi berisi  kumpulan foto-foto kebaya karya saya yang terkumpul sejak tahun 2009 hingga 2012.  Ditambah beberapa kebaya ekstra large koleksi pelanggan saya. Mereka saya foto dengan mengenakan kebaya karya saya itu sebagai apresiasi saya kepada mereka.

Buku sebelumnya?

Buku pertama diterbitkan tahun 2009, berisi kumpulan kebaya karya saya dari tahun 2003 hingga 2008. Buku ini laris-manis hingga bisa cetak lima kali.  Judulnya Galery Eksotik 1 . Tanpa diduga buku ini sampai naik cetak lima kali. Buku kedua berisi koleksi kebaya pengantin, semua berwarna putih. Ada sekitar 54 kebaya. Bukunya saya beri judul Prameswari . Buku ketiga berjudul Kencono Wungu . Selain karena semua kebayanya berwarna ungu, saya terinspirasi seorang Ratu Kencono Wungu yang memiliki  cita rasa berbusana yang tinggi.

Sejak kapan,  berkecimpung di dunia rancang busana?

Tahun 2003. Keterampilan mendesain ini saya pelajari secara otodidak. Sebelumnya, saya kan bekerja di  kapal pesiar di bagian Food and Beverage. Saya berlayar sampai empat kali. Setelah itu saya diminta membantu seorang desainer asal Semarang.  Selanjutnya saya pindah ke Jakarta bekerja di Talisa House. Suatu kali saya diminta  owner Talisa House mengurusi butiknya yang di Semarang. Sampai akhirnya teman-teman mendesak saya untuk mandiri. Kebetulan, saya memang hobi menggambar, jadilah saya mandiri. Saya memulai dari 3 karyawan, sekarang sudah memiliki 35 karyawan, butik, work

Apa yang mendorong Anda membuat buku?

Dari awal saya berpikir, kalau cuma difoto, disimpan, hasilnya  hanya bisa saya nikmati sendiri. Tapi kalau dibukukan, bisa dinikmati masyarakat luas, dan menjadi inspirasi orang lain. Kebetulan setelah saya kumpulkan, karya saya ternyata  banyak juga. Waktu saya ke Jakarta bertemu penerbit. Dengan buku itu saya juga ingin menunjukkan bahwa di Semarang, ada desainer yang layak jual selain yang sudah terkenal.  Nyatanya animo masyarakat membeli buku saya bagus juga.

Puas bukunya terbit?

Iya. Apalagi buku saya seakan menjadi “buku wajib”  bagi para penjahit kebaya di Semarang. Suatu kali, saya ada di toko kain, melihat ada perempuan mencari bahan sembari menjunjukkan desain kebaya yang ada dalam buku saya.  Sejenak saya terharu da bangga, buku saya menjadi acuan dia. Ternyata kemudian saya memperoleh info buku saya  banyak dimiliki oleh para penjahit di Semarang.

Buku-buku itu menjadi gambaran perkembangan karya-karya Anda?

Betul. Asal tahu saja, saya cenderung tidak mengikuti trend yang ada. Saya justru berusaha bagaimana agar karya saya menjadi trend,  disukai pasar dan mereka mengikuti karya saya. Ternyata hal itu  terjadi. Buktinya, sejak tiga tahun lalu, saya sudah meluncurkan warna ungu, hingga sekarang warna ungu masih disukai. Bahkan calon pengantin pun mau mengenakan kebaya warna ungu. Padahal imejnya warga ungu selama ini kan warna janda, ha..ha..ha..

Begitu pula warna hitam saya pakai untuk kebaya pesta. Dari zaman kerajan dulu, para puteri keraton mengenakan kebaya beludru hitam, kenapa sekarang enggak dipakai? Warna hitam bagi saya warna eksklusif, elegan dan mahal.

Sejak kapan memiliki keterampilan menulis?

Sejak SMA saya sudah suka menulis, terutama puisi atau cerita lainnya. Lulus SMA saya pernah kuliah diploma jurusan Pariwisata tetapi tidak selesai lalu bekerja di kapal pesiar.

Siapa pelanggan Anda?

Banyak istri pejabat di Jakarta dan pejabat di Semarang. Artis dan calon pengantin dari Jakarta juga sering kemari. Zamannya mendiang Taufik Savalas dan Ulfa Dwiyanti ngetop, sayalah yang mendesain busana-busana mereka. Saya sengaja tidak mau pindah ke Jakarta karena di sana sudah terlalu banyak desainer. Saya ingin tunjukkan desainer Semarang layak jual.

Ciri khas rancangan busana Anda?

Glamour seksi, dan tidak terlalu tua. Misalnya, saya pakai kebaya lengan pendek.

Punya second line juga?

Iya. Atas desakan teman-teman dan pelanggan , mulai tahun ini  second line saya muncul lewat batik Semarangan, tenun lurik. Saya mempersembahkan untuk kalangan remaja .

Pernah meraih penghargaan?

Iya, April tahun lalu dalam even  Singapore Tour and Travel di Singapore Expo, saya memperkenalkan batik Solo dan Lurik Klaten. Hasilnya, rancangan saya menyabet penghargaan sebagai Second Runnur Up The Best Dress dan Best Perfomance.

Aktivitas Anda di luar rancang busana?

Waktu saya banyak yang buat kerja. Peak kerja saya  itu jam 7-10 untuk mendesain. Selanjutnya ke butik melayani pelanggan sampai jam 4. Tutup jam 5. Saya hanya terima pelanggan atas dasar janji dulu. Selebihnya saya ke workshop.  Atau  jadi stylist pemotretan  busana pengantin rancangan saya.

Masih bujangan apa nggak nyantai malam hari?

Malam, kadang saya kumpul dengan teman-teman dari berbagai profesi. Selain ngobrol, kadang malah dapat order baru. Jam 10 biasanya sudah pulang ke rumah. Jadi saya ini bukan tipe orang dugem.

Hobbi?

Hobi saya kerja, ha…ha..ha…Sebenarnya sih, travelling tapi kalau dirancang lebih sering gagal. Jadi selagi ada waktu dan ingin pergi, ya langsung pergi saja.

Kapan nikahnya?

Ha..ha..ha..belum aa calonnya, baru mau mencari. Maunya sih, perempuan yang biasa saja, bukan wanita karir. Wajah ya jangan yang jelek-jelek amat, kulitnya jangan terlalu  hitam.Syukur bisa membantu saya bekerja.

Rini Sulistyati

*)Tabloid Nova, 12 November 2012

Foto: mysemarang.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan