-->

Peristiwa Toggle

Di Blora, Ada Perpus Keluarga Pramoedya Ananta Toer

BLORA – Pengunjung perpustakaan Pramodya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) di Blora, Jawa Tengah, tidak hanya lokal, tapi juga dari mancanegara yang ingin membaca dan studi literatur. “Pengunjungnya rata-rata sekitar 100 orang per bulannya, sejak perpustakaan didirikan, setelah Pramodya Ananta Toer meninggal pada 2006,” kata Soesilo Toer, 75, adik Pramoedya Ananta Toer di lokasi perpustakaan, Minggu (9/12), sebagaimana dikutip daring Media Indonesia 10 Desember 2012.

Soesilo Toer menjelaskan tujuan pendirian Perpustakaan Pataba ini merupakan inisiatif pribadinya sebagai usaha mengenang almarhum kakaknya Pramodya Ananta Toer. “Kenangan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk seluruh masyarakat yang mengenal Pram (Pramodya Ananta Toer), selaku penulis maupun pribadi dan mereka yang ingin mengenalnya,” paparnya.

Menurut Soesilo Toer, yang juga Pengelola dan Penanggung Jawab Pataba, pengunjung yang datang ke Pataba di Desa Jetis, Blora itu, di antaranya asal Korea, Jepang, Rusia, Belgia, Amerika Serikat, termasuk sejumlah tokoh penulis dalam negeri. “Hanya pengunjung dari Afrika yang belum ada,” ucapnya.

Ia menyebutkan jumlah buku di perpustakaan setempat sebanyak 5.000 buku, mulai sastra, teknik, juga buku yang lainnya, bahkan juga terdapat sejumlah buku berbahasa Rusia.

Buku-buku yang ada di perpustakaan itu, jelasnya, sebagian miliknya, juga buku miliki Pramodya Ananta Toer, dan Koesalah Soebagya Toer, yang juga saudara kandungnya. “Ada juga lima buku terbitan Pataba yang ditulis kalangan pelajar dari berbagai daerah,” jelasnya.

Namun, Soesilo Toer mengaku, tidak hapal judul buku yang ada di perpustakaan setempat dengan alasan belum pernah memilah-milah. “Buku Pramoedya Ananta Toer, termasuk buku mengenai dia yang saya tulis, ada sekitar 200 buku,” katanya, menjelaskan.

Buku-buku di perpustakaan Pataba menempati ruangan seluas 5X4 meter, di bagian samping masih menyatu dengan bangunan rumah di atas tanah berukuran 3.250 meter persegi.

Sementara di bagian depan rumah dimanfaatkan untuk memajang berbagai foto Pramodya Ananto Toer, selain foto di masa kecilnya, juga foto masa tua, dan berbagai foto lainnya termasuk masa remaja Ibu Kartini dengan dua saudaranya. “Foto-foto Ibu Kartini ini asli, masih hitam putih,” ungkapnya, sambil menunjukkan tiga buah foto Ibu Kartini di dalam bingkai secara terpisah. Demikian diberitakan Antara dan daring Media Indonesia.

*) Media Indonesia, 10 Desember 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan