-->

Tokoh Toggle

Alanda Kariza, Kiprah Sang Pengejar Mimpi

Siapa yang tak kenal dengan Alanda Kariza (21), perempuan muda berbakat yang telah menelurkan banyak kiprah di dunia menulis sejak masih belasan tahun. Alanda yang mengaku awalnya mencari sendiri bakatnya, tak pernah merasa puas dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya hingga saat ini.

Dari tangannya telah terlahir sebuah yayasan non profit The Cure for Tomorrow (saat usianya masih 15 tahun), juga menjadi perwakilan Indonesia di ajang Global Changemakers , dan memprakarsai Indonesian Youth Conference.

Beberapa novel telah dihasilkan Alanda, diantaranya, Mint Chocolate Chips (saat Alanda masih 14 tahun), dan beberapa tulisan di majalah-majalah remaja seperti HAI, GoGirl, Kawanku,  dan Provoke! . Dan ditahun 2010, dirinya kembali menerbitkan kumpulan cerita pendek atau antologi Vice Versa, lalu yang terakhir dan menjadi perbincangan adalah novelnya “Dream Catcher”.

Kurang Percaya Diri Jadi Motivasi

Jika ditanya bagaimana rasanya meraih berbagai kebanggaan hingga dipercaya banyak perusahaan menjadi duta mereka, Alanda hanya tertawa kecil sembari mengatakan “tidak tahu”. Cucu dari pelopor  bedah plastik di Indonesia , Prof. Moenadjat Wiratmadja , ini hanya berusaha mengalir bersama percaya dirinya yang minim.

Ya, Alanda memang bukan tipe orang yang penuh percaya diri. Bahkan semenjak kecil dirinya pemalu dan tidak banyak bicara.

“Tapi kemudian akau menemukan, ternyata cara berkomunikasi yang lebih  enak dipakai adalah menulis,” ungkapnya.

Dari rasa kurang percaya dirinya inilah, Alanda menemukan dirinya lebih “berkomunikasi” dengan cara lain. Saat tak percaya diri berbicara dengan orang lain, dirinya kemudian menulis agar lebih dapat menyuarakan isi hatinya. “Lama kelamaan aku lebih suka ketemu orang lewat tulisan. Dan dari sana aku juga bisa berbagi banyak hal,” ujar Alanda kepada tabloidnova.com .

Berteman dengan yang Lebih Tua

Soal pertemanan, Alanda mengaku sedikit memiliki masalah ketika bersekolah. Perempuan cantik yang dulunya bersekolah di SD Pembangunan Jaya ini sedikit merasa kurang cocok dengan teman-teman seumuran. “Kalau teman seumuran belum tentu cocok, akhirnya berteman juga sama yang lebih tua,” jelasnya.

Pertemanan dengan orang-orang beraneka ragam usia ini, bagi Alanda memberinya banyak pengalaman baik. Dari sana Ia  juga bertemu orang-orang hebat dan semakin berkembang karenanya.

“Mereka inspiratif sekali, pengalaman ini juga inspiratif sekali buatku,” tandasnya.

Setelah beberapa kali berpengalaman menjadi  duta dan bekerja di usia belasan tahun, Alanda menjadi semakin percaya diri. “Mungkin karena akhirnya aku bisa membawa diri dan bisa masuk semua. Intinya, kalau percaya diri bisa bergaul,kok,”  Alanda sedikit berpesan pada remaja Indonesia.

Kendati kini sudah tak bisa dikatakan anak kecil bau kencur atas semua kiprahnya, Alanda mengaku masih suka canggung berada di antara orang-orang hebat yang berusia jauh di atasnya. “Kadang suka takut mau manggil apa. Mbak, mas, tante atau apa ya? Hahaha…”

Masih Membangun Mimpi

Beberapa kali didaulat menjadi duta perusahaan baik lokal maupun brand, seperti Coca Cola, XL Axiata, British Council dan sebagainya, tak membuat Alanda melepaskan kemampuan menulisnya. Seperti telah terlahir dengan takdir penulis, Alanda tetap bercita-cita menjadi besar di dunia menulis.

“Soal buku masih. Tapi aku tidak mau buku yang dibuat tapi isinya dari kumpulan blog atau foto-foto. Aku ingin menulis deg proses  kreatif,” ujarnya.

Jika ditanya sampai sejauh mana, Alanda berkeinginan membuat buku yang dicetak dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Menurutnya, menulis juga dapat menjadi sarana kebahagiaannya membantu orang-orang mencapai impian.

“Sekarang ingin menginspirasi orang lain dengan tulisan-tulisanku. Walau mereka tidak membeli buku yang kutulis, melihat mereka membaca atau meminjam buku karyaku, aku sudah senang,” akunya yang kerap terharu melihat orang-orang membaca bukunya di toko buku walau belum tentu mereka membeli.

Menurut Alanda, hal yang paling terpenting dari sebuah karya adalah pesan yang sampai pada banyak orang. Dalam hal ini, sasarannya adalah anak-anak muda Indonesia.

“Buat teman-teman, aku ingin menyampaikan kalau kalian harus membangun percaya diri, dan berani mengejar passion. Dengan begitu, kalian juga bisa sukses seperti orang lain. Aku, kan, dulu juga pengejar mimpi banget. Dari dulu aku  ingin seperti model dan cantik. Walau akhirnya aku tidak jadi model, tapi aku juga bisa tampil dan kasih model.”

Laili

*)Tabloid Nova, 30 September 2012

Foto: alandakariza.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan