-->

Kronik Toggle

Mengaduk Fiksi dan Fakta Sejarah

Aryo Wisanggeni G

Perdebatan tentang seberapa jauh seorang penulis cerita silat berlatar sejarah boleh berkreasi atas fakta sejarah yang melatari karya mereka mendominasi tiga hari penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural Festival. Perdebatan yang sengit, sekaligus menunjukkan kerasnya minat para penulis dan publik terhadap sejarah besar Nusantara.

Peluncuran novel Wali Sanga karya Damar Shashangka di pendopo Rumah Buku Dunia Tera, Senin (29/10) malam, riuh, didiskusikan tentang sejarah para wali penyebar agama Islam di Jawa. Ditemani kopi, teh, dan jajanan pasar, sesama penulis fiksi berlatar sejarah bersila dan duduk melingkar saling berdebat tentang bagaimana Damar mengaduk berbagai fakta sejarah dalam novel terbarunya itu.

Sang penyunting, Salahuddien Gz, hadir di atas panggung mewakili penulisnya yang sakit. Salahuddien diserbu pertanyaan apa tujuan Damar menulis, dan bagaimana Damar menulis novel 246 halaman yang dilampiri silsilah raja-raja Singasari dan Majapahit serta empat silsilah lain itu.

Salah satu bahasan kontroversial dari novel Wali Sanga adalah penyebutan Nyo Lay Wa, seorang Muslim China yang ditahbiskan menjadi raja Majapahit. ”Damar menemukan catatan itu dari sebuah berita China yang tersimpan di salah satu kelenteng di pesisir utara Jawa,” ujar Salahuddien membeber berbagai bahan riset Damar.

Agus Sunyoto, penulis beberapa buku dan novel Syekh Siti Jenar dan sejarah Islam di Nusantara, mengkritik keras. ”Tidak ada catatan lain yang menyebutkan nama Nyo Lay Wa sebagai raja Majapahit. Itu kesimpulan dari mana? Naskah berita China seperti apa yang ditemukan, sampai bisa mengikuti kesimpulan seperti itu? Hati-hati menulis silsilah takhta Majapahit,” ujar Agus dari barisan belakang peserta diskusi.

Perdebatan tentang sejauh mana novel berlatar sejarah harus patuh kepada fakta sejarah itu sudah berlangsung sejak sesi Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat yang berlangsung di Hotel Manohara, Borobudur, Senin pagi. Putra Gara, penulis novel Ksatria Nusantara, mengusulkan jalan tengah. ”Mari kita sepakati aturan menulis novel berlatar sejarah,” tantangnya.

Usul Putra Gara langsung dipotong Langit Kresna Hariadi, sang penulis serial novel Gajah Mada, yang laris. Langit sejatinya bukan pembicara dalam sesi peluncuran buku Senin malam itu, tetapi sepertinya ia geregetan mendengar gagasan membuat sejenis ”aturan menulis novel sejarah”.

”Apa pun yang ditulis pengarang dalam karya fiksinya, sah! Soal itu tepat atau tidak, serahkan kepada pembaca. Pembacalah yang akhirnya akan menilai. Setiap penulis fiksi adalah tuan atas karyanya, tidak ada yang boleh mengatur-atur,” kata Langit lantang.

Noda sejarah

Apa salahnya kalau penulis fiksi sejarah abai fakta sejarah? Salah satu peserta Borobudur Writers & Cultural Festival, Pavel Faigl, menjawabnya dengan pertanyaan santun yang disampaikannya kepada Langit dalam peluncuran buku terbaru Langit, Majapahit, Selasa malam.

”Masalahnya, satu saja. Langit selalu menulis dengan sangat indah, sangat memikat pembacanya. Itu mengapa saya yakin mungkin Langit akan menjadi salah satu penulis cerita silat dan sejarah yang akan terus dibaca. Apa jadinya kalau anak-anak sekolah telanjur meyakini bahwa apa yang ditulisnya adalah kebenaran, sementara ia sendiri justru menyatakan dirinya boleh menulis apa saja dalam novelnya?” ujar Faigl.

Saat menjadi pembicara dalam sesi ”Sriwijaya, Novel, dan Arkeologi”, Seno Gumira Ajidarma sang penulis novel Nagabumi menuturkan mengurai berbagai dokumen penelitian arkeologi selalu membingungkan bagi para awam sejarah, termasuk para penulis fiksi berlatar sejarah. Seno menyebut para arkeolog saja kerap saling berbeda pendapat dalam menafsir temuan arkeologi.

”Ada celah kekosongan fakta sejarah, dan itu memang bisa diisi oleh penulis fiksi. Fakta dan fiksi itu dua genre penulisan yang berbeda, namun harus memiliki titik temu dalam penyebutan nama, tahun, dan data keras lain yang bisa diteliti. Jalan amannya, saya memilih menokohkan rakyat biasa. Kalau terpaksa menciptakan istilah atau kata, saya berkonsultasi dengan banyak ahli sejarah dan filolog, mencari alternatif penyebutan kata,” ujar Seno.

Tak selalu mudah karena kebanyakan novel berlatar sejarah yang menjamur dalam lima tahun terakhir adalah novel yang justru menokohkan orang-orang yang namanya tercatat dalam berbagai prasasti atau kitab. Wali Sanga misalnya, membeber silsilah dalam sembilan paragraf panjang di empat halaman berturut-turut, berkisah tentang trah sah takhta Majapahit dan mendialogkan para wali. Novel sejarah kini selalu memilih kronik besar ketimbang berkelindan dalam kronik kecil yang aman dari penyimpangan sejarah.

Belum menukik

Tak ada yang salah mengupas dan menokohkan tokoh sejarah. Dunia sastra mengenal banyak mahakarya yang menguliti kesejarahan hidup seseorang, seperti yang dilakukan Eiji Yoshikawa dengan novel Musashi misalnya. Semua mensyaratkan tiga hal, riset, riset, dan riset.

Sayangnya, realitas hidup para penulis fiksi berlatar sejarah dan silat luput dari bahasan Musyawarah Agung yang berlangsung 29-31 Oktober itu. Realitas bahwa para penulis cerita silat dan sejarah itu kerap diposisikan sebagai ”pabrik cerita” menulis sebanyak mungkin novel.

Yudhi AW, penulis novel Diponegoro, menuturkan, seorang penulis fiksi sejarah kerap mendapatkan honor penerbit Rp 3 juta-Rp 4 juta per judul buku.

”Itu tergolong harga bagus untuk penulis yang belum tenar. Waktu penulisannya sekitar satu bulan. Bisa dibayangkan, honor seperti itu tidak akan cukup untuk membiayai riset mendalam dan panjang. Untuk bertahan hidup, para penulis terus-menerus menulis novel baru,” kata Yudhi.

Festival yang menghadirkan banyak arkeolog ternama demi merangsang gagasan baru penulisan sastra sejarah juga tidak menyentuh persoalan rendahnya posisi tawar para penerbit menghadapi konglomerasi jaringan toko buku yang mengambil keuntungan 40-60 persen harga penjualan. Padahal, kemeranaan penerbit adalah sumber kemeranaan para penulis, juga pembaca. Namun sebagai awal, Borobudur Writers & Cultural Festival telah mempertemukan para penulis, memuliakan mereka, dan mencerahkan tentang persoalan masa depan fiksi berlatar sejarah dan silat.

*)Kompas, 4 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan