-->

Kronik Toggle

Guntur Luncurkan Buku Bung Karno yang Jenaka

JAKARTA – Guntur Soekarnoputra meluncurkan sebuah buku berjudul ‘Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku’, yang menceritakan 26 kisah dirinya bersama ayahanda, Soekarno.

Peluncuran buku dilakukan Guntur di Gedung Sampoerna Strategic Jakarta, Sabtu (17/11/2012). Penerbit sekaligus putri pertama Guntur Soekarno, Puti Guntur Soekarno mengatakan, buku ini bercerita tentang pengalaman pribadi Guntur dengan sang ayah, Bung Karno.

Menurut Puti, kisah-kisah yang tertuang dalam buku setebal 272 halaman, dikemas dalam kalimat yang sederhana, namun jenaka.

Tak ada bahasa ilmiah yang membuat pembaca mengerutkan dahi. Namun, pesan yang disampaikan sarat makna, dan menawarkan kisah yang menghapus jarak antara Guntur dengan Bung Karno.

“Ada makna humanis, filosofis, ideologis, nasionalisme di dalam kisah-kisahnya,” ujar Puti.

Dengan pengemasan seperti itu, Puti optimistis karya ayahnya bisa diterima kalangan muda. Dalam buku itu, Guntur mencatat kisah-kisah humanis dari seorang Soekarno.
Guntur dengan gaya tulisan santai menceritakan betapa sang ayahanda terkenal garang ketika melawan kolonialisme dan imperialisme, tapi tetap lah seorang ayah yang berhati lembut dan penyayang kepada putra-putrinya.

Namun, bila bicara soal penjajahan kepadanya, Soekarno bisa berubah berapi-api, bila tahu ada negara yang masih tunduk pada penjajahan.

“Dilihat sepintas, banyak canda tawa dan cerita menggelikan, tapi kalau dipahami seksama, ada filosofinya, ada nilai-nilai semangat patriotisme, yang dari kecil sudah diajarkan kepada ayah saya,” kata anggota Komisi X DPR yang bernama asli Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri.

“Jadi, Bung Karno bisa jadi seorang bapak, kawan, dan guru. Buku ini menjadi satu inspirasi generasi muda, bukan hanya sebagai politikus, tapi juga sosok pribadinya,” tutur Puti.

Sejumlah makna yang tertuang dalam buku ini, di antaranya diceritakan dalam kisah ‘Bung Karno Tarzan Indonesia’.

“Kisah itu bertutur tentang Bung Karno adalah manusia biasa yang tidak bisa berenang,” jelas Puti diikuti senyumnya.

Menurut Puti, sebenarnya buku ini sempat diterbitkan ketika rezim Orde Baru sementara tumbuh, yakni pada 1977. Saat itu, kondisi politik membuat penerbitan tidak seperti sekarang ini.

Buku tersebut diterbitkan kembali untuk kali kedua tanpa ada penambahan cerita, karena banyaknya pihak yang mencari buku tersebut.
“Akhirnya, kami minta bicara pada papah untuk menerbitkan ulang,” ungkap Puti.

Puti menambahkan, tak ada kepentingan atau motif apapun di balik peluncuran buku, yang waktunya berdekatan dengan penganugerahan Pahlawan Nasional dari pemerintah belum lama ini.

“Ini salah satu jalan dari Allah. Kami juga tidak mengira kalau Bung Karno kemarin dapat penganugerahan itu. Tapi, peluncuran buku ini memang sudah direncakan jauh hari,” paparnya. (*)

*)Tribunnews, 17 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan