-->

Kronik Toggle

Gemasaba Perjuangkan Resolusi Jihad Masuk Buku Sejarah

JAKARTA – Rangkaian peristiwa dibalik aksi heroik arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945 tampaknya belum banyak diketahui oleh publik. Untuk itu, Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) mendesak pemerintah memasukkan sejarah Resolusi Jihad NU dalam buku-buku sejarah nasional Indonesia.

“Gemasaba mendesak pemerintah agar fakta sejarah resolusi jihad segera dimasukkan dalam kurikulum mata pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi, sehingga tidak terjadi penyembunyian fakta sejarah para pahlawan dan syuhada yang telah gugur membela kemerdekaan negeri ini,” ujar Ketua Umum DPN Gemasaba, Ghozali Munir dalam keterangan tertulis kepada Okezone di Jakarta, Senin (12/11/2012).

Untuk itu, pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini, DPN Gemasaba menyerukan pelurusan sejarah resolusi jihad sebagai wujud penghargaan atas jasa para pahlawan negeri ini.

Pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini, Gemasaba mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj untuk memberikan kuliah umum tentang fakta sejarah resolusi jihad yang menjadi cikal bakal dari peristiwa 10 November 1945 di hadapan 1.000 undangan dari berbagai kampus se-Jabodetabek di Wisma Syahida Kampus Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ghozali menyayangkan bahwa sejarah yang diajarkan kepada anak-anak di sekolah, tidak mengenalkan peran Resolusi Jihad yang dikomandoi oleh KH Hasyim Asy’ari yang berujung kepada meletusnya peristiwa 10 November 1945.

“Jadi tanpa resolusi jihad tidak akan pernah ada peristiwa dahsyat 10 November 1945 di Surabaya” jelas Ghozali.

Sementara itu, Ketua Fraksi PKB DPR RI yang juga Ketua Dewan Pembina Gemasaba, Marwan Jafar, menyatakan bahwa peringatan Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad ini sangat penting untuk mengungkap fakta sejarah di balik peristiwa 10 November 1945 di Surabaya karena selama ini telah terjadi distorsi sejarah.

“Resolusi jihad yang menjadi cikal bakal peristiwa 10 November 1945 harus disampaikan ke generasi muda agar mereka bisa mengetahui fakta sejarah yang sebenarnya dan juga agar bisa digunakan sebagai teladan anak cucu kita di masa depan ” tegasnya.

Menurut Marwan, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dahsyat dan peran besar para ulama dan kaum santri. Ironisnya, sejarah tidak pernah berkata jujur tentang peran laskar santri yang terhimpun dalam Hizbullah maupun laskar kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam berperang melawan penjajah.

“Peran kaum santri sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini namun sangat disayangkan kenapa sejarah peran kaum santri dalam melawan penjajah tidak banyak diketahui generasi muda bangsa karena sekolah tidak pernah mengajarkannya secara utuh,” Marwan menyesalkan.

Berdasarkan fakta sejarah, Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual KH. Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zainul Arifin. Adapun laskar Sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur.

Syahdan, pemuda pesantren dan anggota Ansor NU (ANU) adalah pemasok paling besar dalam keanggotaan Hizbullah. Peran kiai dalam perang kemerdekaan ternyata tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak di antara mereka yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Menurut hasil penelitian sejarawan Agus Sunyoto, dari 60 bataliyon tentara PETA, hampir separuh komandannya adalah para kiai. Perlu diketahui, Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di Indonesia. Meskipun dalam sejarah, keberadaan laskar tersebut disisihkan. Buktinya, perjuangan mereka tidak ditemukan dalam museum-museum di Indonesia, tetapi malah terdapat di museum negara Belanda.

(ful)

*) Okezone, 12 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan