-->

Kronik Toggle

Digitalisasi Bukan Ancaman dan Indonesia 2015

Tema Frankfurt Book Fair tahun ini (10-14 Oktober): ”Digitalisasi Buku Anak dan Remaja”. Diikuti 7.400 peserta yang berasal dari sekitar 100 negara, dikunjungi lebih dari 70.000 orang per hari, pameran ini tercatat sebagai pertemuan terbesar dunia segala hal yang berurusan dengan buku.

Kalau selama tiga tahun terakhir buku elektronik (e-book), turunan digitalisasi, mulai digelar bersamaan dengan produk buku cetak (print book), diselingi sebentar dengan teknologi cetak sesuai permintaan (print on demand), tahun ini digitalisasi buku mendominasi.

Tema pameran yang sudah ditentukan sejak tahun lalu itu tepat. Kondisinya mewakili yang terjadi dalam industri media. Buku adalah industri idealisme dan bisnis sekaligus. Konten berupa pengetahuan dan informasi disampaikan dalam berbagai cara (multichannel, multiplatform, multimedia). Ketika anak muda kurang tertarik memperoleh informasi lewat cetak, ditawarkan teknologi multimedia. Digitalisasi menjadi salah satu terobosan, dengan representasi salah satunya dalam bentuk buku elektronik.

Frankfurt Book Fair ke-64 tahun ini menyediakan beberapa lorong di tiga ruangan (hall) yang berurusan dengan digitalisasi. Tidak termasuk Hall 3.0 yang terkait langsung dengan tema tahun ini. Di ruangan terakhir ini, buku anak dalam bentuk digital berikut segala variasi turunannya terlihat dominan.

Tidak terancam

Dari penelitian panitia, selama sepuluh tahun terakhir, dalam tiga kali pameran terakhir rata-rata pengunjung 280.000 orang. Ketika Eropa mengalami krisis ekonomi tahun 2008, pengunjung justru mencapai jumlah tertinggi (299.112) selama sepuluh tahun terakhir.

Menurut survei itu, dari 280.194 pengunjung, 173.427 pengunjung merupakan pebisnis buku atau pedagang buku dari 129 negara. Jerman duduk di peringkat pertama, 64,4 persen, disusul negara Eropa selain Jerman 25,7 persen, Asia 5,7 persen, Amerika Serikat (AS) 3,6 persen, serta Afrika dan Australia 0,6 persen.

Dari sepuluh profesi terbesar pengunjung, setelah pedagang buku dan penerbit di urutan pertama dan kedua, peringkat ketiga diduduki pustakawan. Wartawan terakreditasi, yang tahun lalu tercatat 9.000 orang dari 61 negara, duduk di peringkat keenam.

Mengenai tingkat kepuasan peserta pameran, 90 persen mengaku berhasil atas enam tujuan mereka, di antaranya bertemu dengan pelanggan lama, membuat kontak baru, dan jual-beli hak cipta.

Menyambut tren digitalisasi, panitia tahun ini mengintroduksi inisiatif digital Frankfurt SPARKS di Hall 8.0. Perluasan area untuk buku digital lebih besar dibandingkan tahun lalu, meningkat 39 persen daripada tahun sebelumnya 36 persen. Perluasan itu memenuhi meningkatnya permintaan ruang pameran digital yang tahun lalu saja 47 persen.

Gencarnya buku elektronik berikut segala variasi dan turunannya mengancam buku cetak? Beberapa negara mengalami penurunan penjualan buku cetak, termasuk AS, Irlandia, dan Inggris. Industri buku cetak akan mati? Tidak, jawab Monica Azulay Gaspar, Regional Sales Manager Bowker, salah satu industri yang menawarkan produk sistem digitalisasi. Buku elektronik terus melaju, tetapi buku cetak juga tidak akan mati. Ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Masalah konten tetap yang utama. ”Sama seperti industri media,” katanya.

Secara tidak langsung, pernyataan Monica mewakili pendapat para penerbit dan pebisnis buku yang dijumpai dalam stan-stan dari sejumlah negara peserta. Buku cetak tetap akan hidup, pun di tengah gencarnya buku elektronik. Keduanya akan saling melengkapi. Tinggal mempertahankan konten dan memperbarui terus cara menyampaikan dan menjualnya. Soal hak cipta pun rupanya sudah bisa diselesaikan. ”Buku cetak akan lestari,” ujar Rafli Lindarjadi, Associate Publisher BAB Publishing, di Hall 4.1. Buku elektronik bukan ancaman, bukan transformasi budaya, melainkan pelengkap buku cetak.

Tamu kehormatan 2015

Sudah menjadi tradisi setiap pameran, ada salah satu negara sebagai tamu kehormatan. Tahun ini Selandia Baru, tahun depan Brasil. Tidak pernah ada penjelasan kriteria khusus, semua negara anggota PBB bisa terpilih. Bahkan, Brasil tahun depan adalah yang kedua setelah yang pertama tahun 1994.

Indonesia sudah ditentukan tahun 2015 menjadi tamu kehormatan. Direktur Frankfurt Book Fair Juergen Boss aktif berkeliling mengingatkan dan melihat seberapa jauh persiapan dilakukan. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan beberapa penerbit besar tentu lembaga yang paling kompeten soal ini, termasuk seberapa jauh Indonesia memanfaatkannya secara maksimal.

China yang pernah menjadi tamu kehormatan beberapa tahun lalu memanfaatkan kesempatan itu. Sosial budaya China terwakili dan tampil menonjol, membuat decak kagum. Selandia Baru, selain tampil beda, juga aktif mengisi acara di halaman tengah arena Frankfurt Book Fair—yang selalu dipadati pengunjung di tengah jam buka pameran pada pukul 09.30-17.30.

Seberapa jauh Indonesia mempersiapkan diri sebagai tamu kehormatan merupakan pekerjaan rumah yang tak kalah menyibukkan dibandingkan dengan mempersiapkan pameran-pameran internasional lain. Sementara keikutsertaannya dalam pameran itu selama ini terkesan seadanya. Satu-dua penerbit nasional rutin kecil-kecilan ikut pameran, sedangkan pameran yang diorganisasi Ikapi belum pernah tampil semarak.

Kecilnya jumlah judul dan eksemplar yang terbit setiap tahun serta sedikitnya buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris termasuk faktor tidak diperhitungkannya Indonesia. Apalagi mengenai pameran Frankfurt, umumnya penerbit di Indonesia kurang antusias. Selain berburu hak cipta—sekarang sudah berkurang karena sudah saling kontak lewat internet—mengunjungi pameran alih-alih sebagai bonus kerja keras.

Kita syukuri kepedulian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang tahun ini terasa lebih baik. Tidak hanya menyelenggarakan pameran dengan materi lebih lengkap, menyediakan anggaran Rp 400 juta untuk ruang pamer seluas 132 meter persegi, Rp 400 juta untuk persiapan konstruksi pameran, memberikan transportasi dan akomodasi untuk 5 atau 6 personel Ikapi, tetapi juga aktif dalam menjaga stan yang ditengok satu-dua pengunjung.

Menurut Harwignyo bin Sumadi dari Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, sesuai proposal panitia, tahun 2015 panitia menyediakan arena seluas 1.500 meter persegi untuk pameran produk budaya Indonesia. Sementara untuk pameran buku-buku penerbit Indonesia di hall lain. Berdasarkan pengalaman sejumah negara lain, Harwignyo memperkirakan biaya mencapai Rp 50 miliar-Rp 60 miliar. Korea Selatan dan China bersaing sehingga jor-joran.

Kesempatan sebagai tamu kehormatan niscaya perlu dipersiapkan. Tidak hanya para penerbit yang tergabung dalam Ikapi, tidak hanya Kemdikbud, tetapi juga kerja bareng. Terkait besarnya biaya yang dibutuhkan, tampaknya perlu digalang kesadaran bersama tentang kesempatan ”emas” ini, termasuk persetujuan DPR.

(ST SULARTO, dari Frankfurt, Jerman)

*)KOmpas, 4 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan