-->

Lainnya Toggle

Buku Tua Jenaka Karya Ilmuwan Muslim Ditemukan

Sebuah buku dari abad ke-11 yang ditulis seorang muslim Baghdad yang dihormati para sarjana pada zaman itu, ternyata menjadi panduan kejenakaan. Menurut peneliti yang menerjemahkan jilid ini ke dalam bahasa Inggris, awalnya buku itu ditulis al-Khatib al-Baghdadi, seorang sarjana terkenal zaman Nabi Muhammad. Buku tersebut dalam versi bahasa Inggris berjudul “The Art of Party Crashing,” diterbitkan Syracuse University Press.

Menurut Emily Salove dari Universitas Manchester yang menerjemahkannya, al-Baghdadi menulis buku itu untuk mengingatkan pembaca bahwa setiap orang yang berpikir serius pun perlu istirahat. “Buku ini berisi godaan, hal senonoh dan bahkan sedikit mabuk-mabukan. Ini sangat menyenangkan dan menawarkan perspektif yang agak berbeda dengan citra keras Islam pada periode itu,” katanya.

Salove juga menganalisis bahwa Baghdad 1.000 tahun yang lalu sebetulnya agak Bohemian dan bahkan tidak sesempurna, sekeras dan serepresif yang terbayang selama ini.

Ketidaktahuan itu adalah kenyataan bahwa memang sedikit literatur yang dihasilkan pada waktu itu. Apalagi yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. “Meskipun ini benar-benar bacaan ringan dan cukup menyenangkan, ada pesan serius juga,” kata Salove.

Menurut dia, buku itu adalah tentang individu kemurahan hati dan cara untuk mengekspresikan diri secara fasih dan jelas.

Potongan cerita jenaka itu seperti ini. Dalam sebuah pesta terdapat perbincangan antara seorang pria sebut saja A dengan pria lain yang tak diundang atau B. Satu kali, A berbicara kepada B. “Pergilah dan beli beberapa daging untuk kita,” kata A pada B.

“Tidak, demi Tuhan, saya tidak punya kendaraan ke sana,” ujar B. Maka A pergi dan membeli daging. Kemudian A berkata kepada B, “Bangun dan masaklah.”

“Saya tidak pandai memasak,” ujar B. Maka memasaklah A. “Bangun dan celupkan roti itu,” kata A. “Demi Tuhan, saya sangat lelah,” kata B

Lagi-lagi pria ini mencelupkan roti itu. “Bangun dan sendoklah rebusan itu,” kata A pada B. “Saya takut akan menumpahkannya di jubah saya,” ujar B. Maka rebusan itu disendok sendiri oleh A.

“Bangun dan makanlah,” kata A pada B.
“Demi Tuhan,” kata B, “saya sungkan untuk menolak Anda berkali-kali.” Dan B maju ke depan lalu memakannya.

Selain kisah jenaka, buku ini juga berisi nasehat tentang moral, tata krama maupun agama sesuai dengan ajaran Nabi pada zaman itu.

*)Tempo.co, 29 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan