-->

Kronik Toggle

5.000 Buku Bahasa Jawa Bermasalah Beredar

Surakarta – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus menarik buku lembar kerja siswa (LKS) berbahasa Jawa yang bermasalah. Penarikan itu dilakukan setelah adanya laporan dari SDN Barongan I Kudus soal isi dari LKS Bahasa Jawa yang bermasalah. “Dinas sejak Sabtu lalu sudah memerintahkan setiap sekolah di Kudus menarik buku LKS bahasa Jawa yang bermasalah itu,” kata Rusmadi, Kepala SDN 1 Barongan Kudus, Senin, 12 November 2012.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus Sujatmiko, sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, sekolah memiliki kewenangan memilah langsung buku LKS/buku ajar mereka. “Sekolah sudah diberikan wewenang guna menyeleksi buku LKS atau buku ajar sebelum digunakan siswanya,” kata Sujatmiko. “Karena desakan dari sekolah, buku itu kami tarik.” Buku LKS itu juga digunakan di tingkat madrasah ibtidaiyah, baik pada sekolah swasta maupun negeri. “Sekitar 90 persen SD dan MI negeri dan swasta di Kudus menggunakan buku ini,” kata Rusmadi.

Setiap buku harganya sebesar Rp 5.000. Menurut perkiraan Rusmadi, sedikitnya 5.000 eksemplar dipakai sebagai buku ajar di SD. Buku LKS yang bermasalah itu adalah mata pelajaran Bahasa Jawa kelas tiga sekolah dasar. Buku itu diterbitkan oleh penerbit Fokus bekerja sama dengan CV Sindunata, Kabupaten Sukoharjo, cetakan pada 2010. Dalam buku itu terdapat kata-kata yang tidak pantas dijadikan materi pelajaran. Dalam sampul buku itu, disebutkan telah mendapatkan pengesahan Gubernur Jawa Tengah No. 423.5/5/2010.

Beberapa hal yang tidak pantas jadi materi pelajaran itu terdapat di halaman 4 dan 5. Ada percakapan yang berjudul “Resepe Simbah”. Dalam percakapan itu digambarkan seorang pemuda menanyakan resep awet muda kepada seorang kakek. Sang kakek lalu menjawabnya dengan mengatakan nyimeng (mengkonsumsi ganja) dan ngombe rong gendul (mabuk). “Kata-kata dalam buku itu sangat tidak pantas bagi anak sekolah. Ini kan kebiasaan buruk, semestinya tidak dituangkan dalam buku,” kata Rusmadi.

Penerbit LKS tersebut adalah CV Sindunata yang berkantor di Kartasura, Sukoharjo. CV Sindunata menyatakan tidak ada yang salah jika materi itu dibaca dengan utuh. Juru bicara CV Sindunata, Yatim Arrohman, menyatakan bacaan di Bab I itu menceritakan seorang warga bernama Klituk yang sedang berjalan-jalan di Ngarsapura. Di lokasi itu, dia bertemu dengan kakek-kakek bernama Glendhoh. Meskipun terlihat renta, Glendhoh masih cukup bugar.

Klituk pun penasaran, lalu menanyakan resep bugar kepada kakek-kakek itu. Glendhoh memberi resep bahwa setiap hari dia mengkonsumsi ganja alias nyimeng, merokok, dan minum minuman keras. “Setelah Klituk menanyakan usianya, ternyata Glendhoh yang terlihat renta itu mengatakan bahwa usianya baru 25 tahun,” kata Yatim.

Ia menyatakan materi bacaan itu merupakan anekdot yang justru menceritakan bahaya mengkonsumsi narkoba. “Kata nyimeng juga kami sertakan agar siswa mengenalnya sebagai barang terlarang,” katanya. Yatim menyatakan penerbit siap menarik buku itu jika diperintahkan oleh instansi yang berwenang. Buku ini diedarkan di sebagian Jawa Tengah sebanyak lima ribu eksemplar.

*)Tempo, 13 November 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan