-->

23Tweets Toggle

#23Tweets | Angkringan Buku – Lupa Endonesa dan 5 Buku Lainnya | Sudjiwo Tejo

Dia menyebut dirinya dalang. Dalang edan. Memiliki pikiran yang meloncat-loncat. Tak biasa. Menabrak pakem. Tapi logis setelah direnungkan dengan berlapis-lapis makna. Mewarisi darah dalang dari ayahnya yang bernama Soetedjo. Bagi seorang dalang, demikian mahasiswa jebolan Matematika dan Teknik Sipil ITB ini mengaku, menulis buku adalah tugas konstitusionalnya. Mbah Tedjo yang memiliki akun twitter @sudjiwotedjo ini menuturkan dengan runut buku-buku yang pernah ditulisnya hingga saat ini. Ia juga berkisah tentang proses kreatifnya. Buku-buku yang pernah menuntun pikirannya. Bahkan tentang kehidupan separuh bohemian di Bandung bersama teman-temannya sesama seniman di luar jurusan Matematika dan Teknik Sipil.

1. Suluk dari Mbah @SudjiwoTedjo membuka Program Angkringan Buku radiobuku.com #23Tweets

2. Pada mulanya adalah kata, tapi pada akhirnya adalah sampah. @SudjiwoTedjo #23Tweets

3. Dengan segala kebanggaan kata adalah penting, maka marilah merendah hati bahwa pada akhirnya adalah sampah. #23Tweets

4. Kita terlalu sibuk dengan tujuan. Jarang sibuk dengan asal. Sangkan paran ing dumadi. Kita tidak bisa merumuskan tujuan dengan baik tanpa kita tahu asalnya. #23Tweets

5. Kitab Lupa dan Gelak Tawa – Milan Kundera menginspirasi @SudjiwoTedjo untuk memberi judul Lupa. Orang Jawa dan Madura menyebut Indonesia dengan Endonesa. #23Tweets

6. Sebagian besar isi tulisan-tulisan kolom 2009-2011 @SudjiwoTedjo yang diseleksi penerbit. #23Tweets | @bentangpustaka

7. Dengan pengalaman Mbah @SudjiwoTedjo sebagai jurnalis selama 10 tahun, ia terbiasa menulis dengan sangat cepat. Termasuk ngetwit. #23Tweets

8. Saking cepatnya, Mbah @SudjiwoTedjo mengaku kecepatan ngetwitnya sama cepat dengan ngomong. #23Tweets

9. Pada ketiga buku awal, Mbah @SudjiwoTedjo mencari penerbit sendiri. Capek, kapok, males. #23Tweets

10. Belakangan malah banyak penerbit yang tertarik membukukan tulisan-tulisan Mbah @SudjiwoTedjo. Tiga buku langsung terbit dalam tahun 2012. #23Tweets

11. “Kelakar Madura untuk Gus Dur” berisi stok lawakan madura yang jarang dipublikasikan. Hanya sekali cetak. Masih ada 13 eksemplar lagi. Ingin memilikinya, silakan kontak gelda.surya@gmail.com #23Tweets

12. Kalau buku-buku Mbah @SudjiwoTedjo adalah masakan, buku “Dalang Edan” adalah kaldunya. Buku ini tebalnya hampir 500 halaman. Berisi sikap dasar. Pancasila buku-bukunya. Buku ini tersisa 33 eksemplar. #23Tweets

13. Dalang Edan itu ungkapan yang disandingkan ke Mbah @SudjiwoTedjo karena mementaskan Semar Mesem ke mana-mana. #23Tweets

14. “The Sax” adalah novel kehidupan seksual liar pemain-pemain saxhophone. Menurut banyak orang novelnya tidak begitu bagus. Menurut mbah @SudjiwoTedjo sendiri bagus. #23Tweets

15. Bakatnya tidak menulis novel atau puisi. Tapi Booklovers harus berpikir dua kali kalau mau melawannya dengan menulis esai. #23Tweets

16. “Ngawur Karena Benar” sebagian berisi tentang Ponokawan. Lebih banyak unsur logika dalam bernegara. #23Tweets

17. Judul “Jiwo J#ncuk” maunya tanpa tagar, tapi penerbit meminta dengan tagar. Sempat dikatakan munafik oleh followernya. #23Tweets

18. Jancuk itu kata menunjukkan keakraban, mencairkan suasana, bukan umpatan. Revitalisasi makna kata Jancuk. #23Tweets

19. Majalah Jaya Baya dan Panjebar Semangat dibaca @SudjiwoTedjo semasa SD-SMP dari ibu. Di Bawah Bendera Revolusi – Soekarno dan Penyambung Lidah Rakyat – Cindy Adams menginspirasinya untuk masuk ITB. #23Tweets

20. Ketika kuliah, @SudjiwoTedjo menyerap banyak buku milik teman kontrakannya, Kunto. Kunto mahasiswa asal Semarang. Dari Kunto, Mbah @SudjiwoTedjo membaca banyak buku sastra. Dari Pram sampai Tolstoy. #23Tweets

21. Tulisan-tulisan M.A.W Brouwer, Mahbub Djunaidi, Goenawan Mohamad @gm_gm, dan Emha Ainun Nadjib, memicu @SudjiwoTedjo untuk menulis. #23Tweets

22. Selain bergaul dengan sastrawan, @SudjiwoTedjo membaca puisi-puisi Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Nirwan Dewanto, Dorothea Rosa Herliany. #23Tweets

23. Mungkin kita bangga berbicara di depan seratus orang, tapi tulisanmu bisa lebih banyak dibaca orang. Dan tersimpan. Karena dengan menulis kita abadi. Demikian sabda Mbah @SudjiwoTedjo #23Tweets

Booklovers, demikian transkrip obrolan Mbah @SudjiwoTedjo. Saya, Fairuzul Mumtaz, @fairuzulmumtaz, melaporkan

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan