-->

Agenda & Donasi Toggle

23 November | Obrolan Senja – Catatan Harian Seorang Santri | Fahma Amirotulhaq @Fahma_Haq

Draft buku “Senja di Atas Menara Cinta: Catatan Harian Santriwati Gontor” karya Fahma Amirotulhaq ini didiskusikan pertama kali dalam forum Obrolan Senja yang dilaksanakan pada Jumat, 23 November 2012 | pukul 15:30-18:00 di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Judul: Senja di Atas Menara Cinta, Catatan Santriwati Gontor
Ditulis: Fahma Amirotulhaq, Siswi Akhir KMI 2011

Catatan harian pada dasarnya adalah catatan yang ditulis seseorang secara rutin setiap hari atas kejadian yang berlangsung di sekitarnya secara pribadi dan personal. Karena itu, catatan harian dapat berbentuk apa saja. Kumpulan puisi, artikel, dan bahkan curahan hati penulis.

Jenis terakhir itulah yang dilakukan Fahma dengan catatan hariannya. Ia menulis catatan harian selama Agustus 2010 hingga April 2011. Sebagai seorang siswi tahun terakhir KMI, ia menulis tentang apa yang ia rasakan selama periode tersebut di dalam asrama Pesantren Gontor.

‘Kertas adalah sahabat yang paling setia. Karena dapat menerima cerita apapun tanpa bosan.’ kata Anne Frank. Barangkali begitu juga yang dirasakan Fahma.

Ia menceritakan apa saja dalam buku ini. Kegiatan yang super padat di dalam asrama, kebiasaan buruk teman-teman, nasihat dan teguran para ustadz dan ustadzah yang terlalu sering, kerinduan pada ibu yang dicintai, hingga doa-doa yang disimpan dalam hati, semua itu ditumpahkan dalam buku tulis catatan harian ini. Fahma mengeluarkan kekesalan yang tidak dapat diungkapkan sehari-hari ke dalam buku tulis catatan harian.

Tentu saja ia berhak menghakimi, menilai, dan memilih secara jujur dalam buku harian ini. Karena kalau ia tidak dapat menulis dengan jujur di buku hariannya sendiri, pada siapa lagi ia dapat jujur?

Namun Fahma perlu berpikir ulang jika buku harian ini dipublikasikan. Apakah Fahma akan mempertahankan kejujurannya? Apa kali ini kejujuran itu termasuk membuka keburukan orang lain? Ataukah Fahma perlu menulis ulang dan memperhalus pendapatnya tentang orang lain? Ataukah justru harus dihapus? Barangkali hanya Fahma yang bisa memutuskan.

Berada dalam lingkungan multi-bahasa seperti Pesantren Gontor, secara tidak sadar mempengaruhi Fahma untuk menulis catatan harian dengan berbagai bahasa. Dalam draft buku hariannya ini setidaknya ada lima bahasa yang digunakan, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa China, dan tidak ketinggalan bahasa ibunya, Bahasa Sunda.

Berbagai macam istilah dan doa muncul dalam Bahasa Arab. Hal itu memang memperkuat setting pesantren dan karakter santri yang dimiliki Fahma. Namun kehadiran sebegitu banyak bahasa membuat saya sebagai pembaca tidak bisa menangkap apa yang sedang disampaikannya.

Tidak semua orang pernah tinggal di pesantren dan tidak banyak orang yang paham pada dua paragraf penuh berbahasa Arab yang Fahma tulis. Begitu juga dengan sekian paragraf yang ditulis penuh dengan Bahasa Sunda. Tidak semua pembaca bersuku Sunda, atau setidaknya bisa berbahasa Sunda.

Saran saya pada Fahma adalah untuk kembali menulis ulang diarinya dengan Bahasa Indonesia. Segera alih bahasakan istilah bahasa asing yang dapat dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Istilah asing yang sudah diserap dalam Bahasa Indonesia tidak apa dipertahankan. Dan bagi istilah yang tidak dapat digantikan, tidak apa dipertahankan namun ditambah dengan catatan.

Penulisan ulang juga berlaku untuk kalimat-kalimat dengan Bahasa Inggris namun masih berantakan tata bahasa yang digunakan. Saya hanya paham Bahasa Inggris, dan saya sudah menemukan kesalahan tata bahasa. Bukannya berprasangka buruk, namun barangkali ada kesalahan pula dalam tata Bahasa Arab atau Sunda yang sama sekali tidak saya mengerti.

Dalam buku harian ini, Fahma menumpahkan kekesalan dan kemarahan, lalu ia tiba-tiba menjadi sosok yang berbeda dengan menyemangati dan menyabarkan diri sendiri. Orang lain bisa mengira ia memiliki kepribadian ganda. Namun bagi saya hal tersebut normal dalam penulisan buku harian.

Buku harian menempatkan penulis berperan ganda sebagai pendengar. Buku harian ada sebuah wadah dialog dengan diri sendiri. Hal ini yang dipertahankan Fahma hingga akhir. Ia berhasil menjadikan buku catatannya sebagai buku curahan hatinya.

Namun hal ini pun bisa menjadi kekurangannya. Sejak awal Fahma kesal pada orang lain maupun diri sendiri lalu menyabarkan dan menyemangati diri. Sampai akhir tulisannya pun ia masih kesal pada diri dan orang lain.

Ia terlihat sebagai seorang gadis yang melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang setiap harinya. Tidak mengambil pembelajaran dari permasalahan sebelumnya. Begitu terus.

Pada tulisan-tulisan terakhir, ia sedikit terkesan menutup buku hariannya. Barangkali buku catatannya sudah hampir habis atau karena sesaat lagi ia akan lulus, entahlah. Agak aneh saja rasanya membaca buku catatan harian yang berpenutup. Buku catatan Soe Hok Gie dan Anne Frank tentu saja tidak berpenutup. Siapa yang tahu mereka akan meninggal?

Judul yang diberikan pada buku ini, Senja di Atas Menara Cinta – Catatan Santriwati Gontor, sepertinya terlalu muluk. Tidak ada kata senja dalam catatan harian milik Fahma ini, atau bahkan cerita tentang menara di pesantren Gontor.

Suasana pesantren memang terasa dalam buku catatan Fahma, namun seolah bisa terjadi di pesantren mana saja. Ia tidak menceritakan apa dan bagaimana Gontor dari sudut pandangnya. Ia bahkan tidak menceritakan apa itu OPPM, organisasi santri yang diketuainya, apa yang dilakukan di sana, dan lain-lain. Semua tentang dirinya.

Kerja Fahma memang akan sangat banyak untuk menjadikan buku hariannya ini siap terbit. Butuh keseriusan dan konsistensi. Tapi saya tahu ia bisa melakukannya. Ia telah berhasil konsisten menulis buku catatan selama delapan bulan, tidak banyak orang yang dapat konsisten melakukan itu.

Tinggal sedikit lagi, Fahma.  (Nadia Aghnia Fadhillah)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan