-->

Kronik Toggle

Teror Bayu Cs Terinspirasi dari Buku Abu Oman

JAKARTA – Dalam dunia terorisme di Indonesia mungkin nama Oman Abdurrahman alias Abu Oman tidak asing. Betul, ia merupakan pimpinan teroris jaringan Negara Islam Indonesia (NII) yang telah tertangkap di Kalimantan.

Tetapi pemahamannya tentang jihad ternyata masih hidup lewat buku-buku jihad yang ditulisnya, itulah yang menginspirasi tiga pelaku teror di Solo pada Agustus 2012, yakni Bayu Setiyono, Muchsin, dan Firman.

Dalam peristiwa itu, Muksin dan Farhan tewas ditembak Densus 88 Antiteror Polri, sementara dua anggota Polri ikut tewas yakni Bripka Dwi Data dan anggota Densus 88  Bripda Suherman.

Bayu mengungkapkan bahwa dalam buku karangan Abu Oman, yang diterangkan pimpinan kelompok Farhan Cs, menyuruh bunuhlah aparat polisi karena aparat polisi sering menzolimi ikhwan-ikhwan (pelaku aksi teror di Indonesia) dan menangkapnya saat sedang melakukan latihan militer di pegunungan atau hutan.

Dalam buku tersebut, isinya tentu akan menimbulkan kebencian para pembacanya terhadap polisi karena sering menganiaya kelompok teroris yang tertangkap.

“Makanya di situ pula kami merencanakan pembunuhan seorang polisi,” ungkap Bayu dalam testimoninya yang diabadikan dalam video berdurasi 10 menit.

Kemudian, setelah mendengarkan isi buku tersebut, Bayu, Firman, Muksin, dan dua orang yang belum diketahui namanya langsung merencanakan suatu pelatihan militer dalam kelompok kecil.

Saat itu yang ikut hanya enam orang yang dipimpin langsung seseorang yang membacakan buku karangan Abu Omar tersebut. Mereka melakukan pelatihan di Gunung Merbabu, Boyolali, dan Jakarta Barat.

Kemudian mereka pun sempat merencanakan mencari dana untuk pembiayaan aksi teror yang akan dilakukan terhadap anggota kepolisian.
Seakan diberi angin segar, kemudian Farhan pun datang dari Filipina dan mendiskusikan untuk melakukan aksi perampokan toko emas Mahkota di Pasar Klewer.

Kemudian, rencana melakukan perampokan pun dilakukan Farhan cs dimana mereka sebelumnya sudah melakukan survei terhadap toko emas yang diincarnya.

Tapi, saat akan merampok, Muksin melihat polisi sedang berjaga di depan pasar, sampai akhirnya mereka pun menggagalkan rencananya melakukan aksi perampokan.

Karena gagal, Farhan langsung marah-marah dan menyuruh supaya polisi tersebut dibunuh. Tetapi karena terjadi perdebatan saat akan merampok, akhirnya perencanaan perampokan pun digagalkan.

“Akhirnya (kami) sepakat dana operasional ditanggung bersama. Di belakang ada ikhwan (orang yang memimpin aksi teror) namanya saya tidak tahu. Dia salah satu pendukung atau donatur,” ungkap Bayu.

Dalam kelompoknya, Bayu mengatakan bahwa jumlahnya ada enam orang. Hanya Bayu saja yang bukan merupakan lulusan Pondok Pesantren Ngruki.

“Salah satu (pelakunya adalah) mahasiswa tempat menumpang Farhan dan Mukhsin tidur,” ucapnya.

*)Tribunnews, 6 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan