-->

Kronik Toggle

Sentra Buku Palasari Kini Mulai Meredup

BANDUNG – Pada era 1990-an, sentra buku Palasari menjadi buruan banyak orang. Harga yang lebih murah menjadi pertimbangan orang memilih memborong buku ke Palasari daripada ke tempat lain.

Namun kondisi itu berubah dalam tiga tahun terakhir. Geliat sentra buku Palasari pun memudar dan para pedagang kehilangan pelanggan. Salah seorang pedagang buku di Palasari, Udin, mengatakan, telah terjadi penurunan jumlah pengunjung ke Palasari dalam tiga tiga tahun terakhir. Akibatnya, omzet penjualan buku pun ikut terpengaruh.

“Ya, sekitar 30 persen ada kali ya penurunannya. Kalau dulu terasa sekali ramainya, tapi sekitar tiga tahun terakhir mulai berkurang,” kata Udin saat ditemui di tokonya, Kamis (30/8/2012).

Udin mengatakan, berkurangnya jumlah pengunjung ke sentra buku Palasari diduga akibat banyaknya toko buku ritel yang berdiri di sejumlah tempat strategis dekat kampus dan sekolah. Apalagi toko-toko itu juga menawarkan konsep yang hampir sama dengan yang ada di Palasari, yakni memberikan potongan harga.

Selain toko ritel, kata Udin, ada pula beberapa pedagang buku eceran yang membuka lapak di dekat kampus. Akibatnya, mahasiswa tidak lagi harus ke Palasari untuk beli buku perkuliahan.
Udin mengaku penjualan buku di tokonya tidak menentu. Tidak adanya pencatatan dengan sistem modern menyebabkan sulitnya diukur berapa omzet penjualan di tokonya.

Pedagang lain di Palasari, Yusef, mengatakan hal sama. Menurut dia, terjadi penurunan pembeli buku di Palasari. “Sekarang tahun ajaran baru dan akademik baru juga tidak ada peningkatan berarti. Biasa saja,” kata Yusef.

Yusef juga bercerita, beberapa teman yang semula berjualan di Palasari banyak yang kini memilih membuka kios buku dekat kampus. Bahkan ada yang berani berjualan di area kampus. Buku yang ditawarkan teman-temannya itu sama seperti apa yang ada di Palasari. Sebab teman-temannya itu mengambil buku dari Palasari.

Menurut Yusef, pembeli yang datang ke Palasari saat ini hanya mereka yang benar- benar mencari buku yang tidak ada di tempat lain. Selain itu adalah pelanggan setia dari luar kota. Biasanya pelanggan dari luar kota itu membeli buku secara kolektif. Dalam sebulan, Yusef pun hanya bisa menjual ratusan eksemplar buku. Sebelumnya, kata dia, bisa tembus ribuan eksemplar buku.

Karyawan bagian pembelian sebuah toko buku besar di Palasari, Iwan, juga mengakui ada penurunan peminat buku Palasari. Namun angkanya berapa, ia tidak hafal. “Merujuk pada berdirinya sejumlah toko buku ritel yang menawarkan konsep hampir sama dengan kami, memang ada penurunan. Hanya penurunannya tidak begitu besar,” kata Iwan.

Iwan pun mengungkapkan, pada momen tahun ajaran baru Juli lalu, peningkatan penjualan buku di tokonya tidak begitu signifikan. Omzetnya pun berkisar Rp 293 juta, atau hanya naik beberapa persen dibanding bulan biasa di luar tahun ajaran baru. Padahal selain buku bacaan, tokonya juga menawarkan buku dan alat tulis.

Saat penerimaan mahasiswa baru, Iwan juga memprediksi omzetnya tidak akan jauh berbeda dengan musim tahun ajaran baru pada Juli. Ia menargetkan bisa meraup omzet Rp 300-an juta.

*)Tribunnews, 31 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan