-->

Kronik Toggle

Sains-Seni ala Remy

Seni telah menjadi bagian hidup manusia sehari-hari. Banyak juga dari seniman yang telah berhasil mewujudkan proses berkesenian secara hebat. Tetapi apakah para pelaku seni memahami benar hakikat kesenian yang dilakoninya?

Pertanyaan ini menjadi salah-satu poin terpenting Remy Sylado dalam rangka peluncuran karya terbarunya, “123 Ayat tentang Seni”. Bertempat di Rumah Makan Bala Kecrakan, Kawasan Wisata Punclut Bandung (Sabtu, 29 September 2012), sang Munsyi itu meladeni ratusan peserta diskusi dengan puluhan pertanyaan tentang seni dalam acara Gelar Diskusi Seni bersama Remy Sylado.

Secara blak-blakan, Remy menyatakan, bahwa pelaku seni di Indonesia, termasuk para pengajar kesenian di sekolah maupun di perguruan tinggi tergolong miskin ilmu-seni. “Sengaja saya menyempatkan diri menulis buku utuh, yang mufrad dalam lima bidang seni, yaitu seni susastra, musik, seni rupa, drama dan film karena selama ini wacana keilmuan seni terpecah-pecah.”

Remy menjelaskan, bahwa keterpecahan pemikiran seni itu akibat dari pola pikir spesialisasi. “Pola pikir spesialisasi itu menyesatkan karena seseorang kemudian hanya akan mampu berkutat pada satu hal. Seolah-olah kita tidak boleh melakukan hal lain, yang itu justru akan memperkaya pengalaman dan keilmuan.”

Akibat dari spesialisasi itu menurut Remy baik seniman maupun ilmuwan terkotak-kotak dalam suasana keilmuan yang sempit yang akibatnya seseorang tidak mampu menyuskuri karunia illahi. “Dengan spesialisasi, seolah-olah bakat kita itu merupakan kutukan dewata. Kita dikutuk untuk hanya bisa satu hal. Padahal menurut saya, bakat itu merupakan karunia illahi di mana kita manusia bertugas mengembangkannya.”

Lain dari itu Remy juga menyatakan, bahwa selama ini bidang kesenian seolah-olah hanya dalam pengertian praktis, padahal seni itu umurnya setua manusia yang karenanya sudah bisa dilihat secara ilmiah. Ia mencontohkan, musik bukan semata urusan selera. Ilmu musik justru lebih tua dan karena itu seseorang bisa mendalaminya dari sains-musik.

Uraian Remy tersebut memang masuk akal manakala kita kemudian menyempatkan membaca bukunya, 123 Ayat tentang Seni. Dalam bagian 123 Ayat tentang Musik, panjang lebar Remy mengulas tentang wacana keilmuan musik dari masa ke masa secara ilmiah dan historis.

Lain daripada itu, buku seni dalam hal ini bukanlah buku panduan berkesenian, melainkan lebih sebagai wacana dasar keilmuan yang sangat ketat, tetapi memiliki wawasan yang luas. Sebuah buku ilmiah yang tidak terjebak pada disiplin ilmu yang ketat, melainkan memiliki bobot yang baik karena Remy mampu menuliskan kesenian meliputi cabang pengetahuan seperti sejarah, antropologi, kebudayaan, teologi, evolusi dan lain sebagainya. Bahkan yang harus diakui kehebatannya ialah karena ia mampu memberikan semangat spiritualitas dalam bidang seni dengan istilah yang unik, yakni jalan kenabian.

Selain mengulas latar-belakang penulisan bukunya, Remy juga berbicara banyak hal tentang kebudayaan, politik, perpuisian, hingga proses kreatif berkesenian, termasuk penulisan. Melayani puluhan pertanyaan, Remy mampu menjawab secara baik dan tentu saja dengan kualitas kecendekiawanannya, ia mahir membuat gurauan serba menarik sehingga peserta diskusi terhibur karena banyolannya.

Terutama pada sesi akhir diskusi, ketika moderator Faiz Manshur meminta Remy untuk menceritakan situasi ke-Indonesiaan dari gurauan, Remy mendadak menjadi pelakon drama tunggal  dengan menceritakan keunikan masing-masing etnik di Indonesia. Peserta pun dibuat ger-geran atas gurauan etnik Madura, Ambon, Batak dan lain sebagainya.

Dengan diskusi tersebut, pada akhirnya para peserta merasakan pentingnya berkomunikasi sebelum membaca. “Saya belum membaca kecuali beberapa bagian saja. Dengan mendengar langsung penjelasan Bapak Remy, saya memiliki arah pemahaman yang lebih mudah untuk menyelami isi buku ini,” kata Rochmat, peserta diskusi yang datang dari Cirebon.

Peserta lain mengatakan,”sebelum diskusi saya sudah membaca dua bagian awal buku ini. Komentar saya singat, kenapa ya seorang Remy Sylado bisa sehebat itu membuat buku seni?” tanya Agus Salim terkagum-kagum atas kehebatan Remy Sylado. [M.Yusuf]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan