-->

Perpustakaan Toggle

Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana

Pelesir di Tatar Sunda tak selalu harus menyambangi lokasi wisata. Bepergian mengenal budaya dan masyarakat Sunda lebih luas juga bisa dilakukan lewat buku. Salah satunya di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana di Bandung yang punya koleksi ribuan bahan bacaan.

Seperti namanya, tempat bacaan itu berada di sebuah rumah di Jalan Margawangi VII Nomor 4 Perumahan Margawangi, Bandung. Begitu masuk, deretan buku di rak kiri dan kanan langsung menyambut. Seperti datang ke perpustakaan, hampir seluruh ruang depan dan tengah rumah disesaki buku.

Tempat membaca di tengah rumah, berupa meja kayu dikelilingi kursi-kursi. Di atas dan di kolong mejanya penuh oleh tumpukan puluhan buku dan keranjang berisi air kemasan gelas plastik. Di sekelilingnya buku-buku memenuhi rak kayu yang tingginya menggapai langit-langit rumah. “Sekarang bukunya ada 5.000-6.000 eksemplar termasuk majalah,” kata pendiri sekaligus pengelolanya, Mamat Sasmita, 61 tahun.

Pensiunan PT Telkom itu membuat katalog koleksinya menjadi 14 macam. Mulai dari bacaan cerita anak, budaya Sunda dan umum, cerita pantun, tentang Bandung, humor Sunda. Juga kumpulan cerita pendek, novel, roman pop, sajak Sunda, sejarah, Islam, dan wawacan. Mayoritas isi bukunya memang berbahasa Sunda. Tapi ratusan judul lain ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda.

Jika ingin menelusuri kisah Bandung baheula, ada buku Bandung Purba tulisan T.Bachtiar, Album Bandung Tempo Doeloe tulisan Sudarsono Katam, atau Semerbak Bunga Di Bandung Raya serta Wajah Bandung Tempo Doeloe karya mendiang Haryoto Kunto. Di rak katalog sejarah, ada judul Priangan I-IV karangan De Haan, penulis Belanda yang diterbitkan 1910-1912, Sejarah Tatar Sunda oleh Nina Lubis, juga Naskah Sunda tulisan Edi S Ekajati. Juga Gedenkboek der Nederlandsch Indische Theecultuur atau Buku Kenangan Sejarah Perusahaan Teh di Indonesia.

Di deretan buku novel anak dan remaja, ada sebuah buku simpanan Mamat yang isinya dulu menjadi bahan dongeng ayahnya. Judulnya Purnama Alam karangan R. Soeriadiredja. Buku terbitan 1956 itu berbahasa Sunda dengan ejaan lama. Kisahnya pertempuran orang biasa dan manusia setengah jin melawan makhluk-makhluk gaib. “Ceritanya lebih seru dari Harry Potter,” katanya.

Koleksi buku di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana itu hasil kegemaran Mamat membaca dan membeli buku sejak 1975-1980. Soal buku baru atau bekas, mantan Pemimpin Redaksi majalah Cupumanik, itu tak pilih-pilih. Asal isinya masih bisa utuh dibaca dan tentang budaya Sunda, ia beli dari sejumlah tempat. Misalnya Pasar Buku Palasari, juga pedagang buku di Jalan Dewi Sartika, serta Jalan Cikapundung Timur, Cihapit, serta Cicadas.

Sejak pensiun dua tahun lalu, pembelian bukunya mulai berkurang. Memakai dana pensiun, dalam sebulan rata-rata hanya ada 2-4 buku tambahan koleksi. Selain itu, kata Mamat, buku-buku berbahasa atau tentang budaya Sunda kini kebanyakan hasil cetak ulang yang sudah dimilikinya. “Sekarang cenderung menunggu telepon dari tukang buku daripada mencari,” ujarnya.

Tumpukan buku itu seringkali membuat istrinya mengomel karena rumah terkesan selalu berantakan. “Mau bagaimana lagi kalau buku-buku suka dibaca,” katanya. Kebetulan pada 2009, tetangganya ingin menjual rumah. Setelah dibeli Mamat, ribuan buku itu punya rumah dan tamu sendiri. Selain kenalannya, pengunjung Rumah Baca berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa, seniman, budayawan, serta pendongeng.

Uniknya, siapa pun boleh meminjam buku secara gratis dan tak perlu membuat kartu seperti di perpustakaan. Mamat hanya meminta peminjam menuliskan nama, alamat, judul buku, dan tanggal pinjam. “Ada beberapa yang tak kembali, tapi saya yakin saja selalu ada (buku) penggantinya yang lebih baik,” ujarnya. Jika ada peminjam yang sangat membutuhkan, Mamat menyilakannya menghubungi langsung pemegang buku terakhir.

*)Tempo.co, 19 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan