-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Digital ITS Terbaik Versi Webometrics

Surabaya-Perpustakaan digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) meraih peringkat pertama nasional (dari 361 perguruan tinggi) dan peringkat kdua level Asia dan peringkat 19 level dunia dari 1.240 perguruan tinggi di seluruh dunia versi Webometrics.

“Webometrics adalah sistem yang memberikan penilaian terhadap perguruan tinggi terbaik di dunia melalui situs website-nya,” kata Kepala Perpustakaan ITS, Mansur Sutedjo pada Rabu, 5 September 2012. Peringkat pertama tingkat nasional ini, kata Mansur, sudah disabet ITS keempat kalinya. Sebelumnya perpustakaan ITS hanya menduduki peringkat ke-64 tingkat nasional.

Mansur mengatakan perpustakaan ITS, berupa penyimpanan pustaka dalam bentuk digital (konsep repository), dinilai Webometrics melalui dua indikator yaitu impact yang bobot penilaiannya 50 persen (dilihat dari visibility backlink dan visibility referred domains). Indikator kedua adalah activity yang dilihat dari size di google (bobot penilaian 10 persen), rich files di google (10 persen), dan scholar di google scholar (30 persen). “Pengguna lebih mudah mencari referensi dan memanfaatkan perpustakaan, tidak perlu mencari satu persatu judul buku di antara barisan buku,” ujar dia.

Ia menuturkan perpustakaan digital ini mulai dikembangkan ITS pada 2004, saat mendapat bantuan aplikasi program perpustakaan digital. Pada 2007 sebanyak 1.500 tesis sudah bisa diupload dengan memuat judul, abstrak, dan daftar isi.

Namun pemanfaatan teknologi informasi ini bukan tanpa kendala. Falam pengembangan perpustakaan perpusatakaan digital ini ITS harus menghadapi ulah hacker dan menghadapi kecemasan civitas akademika ITS saat karya mereka dipublikasikan. Sebagian besar penulis khawatir kalau dipublikasikan maka karya tersebut akan dijiplak orang. Padahal dengan dipublikasikan kata dia justru akan diketahui karya tulis tersebut asli atau tidak. “Untuk mengurangi kekuatiran tersebut perpustakaan digital ITS pun menggunakan sistem viewer dan watermark dalam setiap tulisan yang dipublikasikan,” ujar dia.

Sistem viewer, kata dia, memberikan fasilitas bagi anggota perpustakaan untuk dapat membaca tulisan yang diinginkannya, tanpa fasilitas mengunduh. Sedangkan watermark memberikan identitas pada setiap halaman dokumen agar tak dapat disalin oleh pembaca.

Setiap momen wisuda, kata dia, tim perpustakan mendapat kurang lebih dua ribu karya tulis untuk dipublikasikan. Itu karena Rektor ITS mewajibkan mahasiswa agar menyerahkan dan menyimpan karya tulis tersebut untuk dipublikasikan ke perpustakaan digital.

“Banyaknya karya tulis yang harus kami upload, akhirnya kami menciptakan sistem upload mandiri untuk mahasiswa dan dosen,” ujarnya. Untuk meningkatkan layanan dan kelancaran perpustakan digital ini saat ini kata Mansur timnya masih terus meningkatkan kapasitas server dan merencanakan menambah developer yang paham bahasa pemrograman dan jaringan.

*)Tempo, 5 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan