-->

Kronik Toggle

Pameran Arsip Kuno Berbagai Kerajaan di Yogya

Jakarta–Beragam arsip dan naskah kuno dari berbagai kerjaaan baik Indonesia dan sejumlah negara akan dipamerkan di Yogya 11-13 September 2012. Kegiatan bertajuk Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XIV itu akan dipusatkan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dari Yogya sendiri naskah yang diikutkan merupakan naskah koleksi dari Kadipaten Pakualaman dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sementara negara lain yang turut serta memaerkan naskah kuno miliknya yakni 10 negara Asean, beberapa negara di Eropa, serta Australia.

Ketua Pelaksana Simposium Naskah Nusantara Sudibyo menuturkan pameran itu akan menampilkan koleksi naskah tiap kerajaan dalam bentuk microfilm juga compaq disc (CD). “Bukan bentuk asli karena rata-rata usianya sudah ratusan tahun jadi sangat rentan,” kata dia Rabu 5 September 2012.

Sudibyo menuturkan, dalam kegiatan ini akan menjadi momen bagi publik untuk bisa kembali melihat kembali sejumlah naskah kuno Keraton Yogyakarta yang telah dikembalikan dari pemerintah Inggris lewat British Library yang sempat dibawa saat masa penjahahan. Naskah itu, kata dia, telah dikembalikan kepada Keraton Yogyakarta, sejak Sultan Hamengku X bertahta pada 1989.

“Total ada 70 naskah, tapi bentuknya yang dipamerkan nanti mikrofilm. Bukan 7000 seperti yang dibicarakan selama ini,” kata dia.

Kepala Perpustakaan Puro Pakualaman Yogya Sri Ratna menuturkan dalam symposium ini menjadi kesempatan Pakualaman pertama kali memamerkan dan mensosialisasikan sejumlah naskah kunonya. Salah satunya kitab Asthabrata yang disusun oleh putra mahkota Puro Pakualaman Kanjeng Bendoro Pangeran Hario (KBPH) Prabu Suryodilogo (putra sulung Paku Alam IX).

Astthabrata ini terdiri dari 14 teks kuno yang banyak menceritakan tentang kisah para wali, pandawa, babad Jawa, dan lainnya. Di antara teks penyusun Asthabrata yang utama adalah teks Sastrodisuhul. “Astthabrata yang disusun ulang kali ini berbeda dengan versi Yosodipuran maupun pedalangan, karena mengangkat kisat Bharata Wisnu. Jadi ini kali pertama ada tokoh itu,” kata Ratna.

*)Tempo, 7 september 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan