-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kelima, 30 September 2012

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah.

Donat Kehidupan

Karya Anwar sani

Resensi ditulis MI

Dimuat MEDIA INDONESIA, 30   September 2012

Perjalanan hidup manusia memang sulit ditebak. Tantangan pasti datang dan ketidakpastian serta ketidakberdayaan selalu mengikuti. Buku Donat Kehidupan yang diterbitkan Daqu Publishing Sani menggambarkan konteks keberkahan dengan cara yang berani. Lewat kisahnya itu, ia mengajak mengarungi samudra kehidupan dengan cara luar biasa. Kunci utamanya ialah dengan cara melibatkan Sang Pencipta di setiap langkah. Melalui buku ini, pembaca akan dibawa melihat dari sudut pandang yang strategis mengenai problematika kehidupan.

Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai

Karya Denny JA

Resensi ditulis Zuhairi Miswari

Dimuat KOMPAS, 30 September 2012

Diskriminan merupakan realitas yang senantiasa tersuguhkan saban hari, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui layar televisi. Buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai, yang ditulis oleh Denny JA, merupakan sebuah upaya mengetuk kesadaran publik perihal pentingnya melawan lupa dan pembiaran atas diskriminasi. Apapun alasannya diskriminsasi merupakan perbuatan yang haram yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun karena melanggar hukum Tuhan dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kisah Lainnya Catatan 2010-2012

Karya Ariel | Uki | Lukman |Reza | David

Resensi ditulis Anwar Siswadi

Dimuat KORAN TEMPO, 30 September 2012

Apa saja yang terjadi selama Peterpan Manganggur 2 tahun terangkum dalam buku berjudul Kisah Lainnya Catatan 2010-2012. Isi buku itu ditulis sendiri oleh Ariel, Uki, Loekman, Reza dan David yang disunting oleh Carry Nadeak dan Candra Gautama. Diantara cerita curhat (curahan hati) itu terselip juga kisah awal pembentukan Peterpan, perseteruan, serta album instrumental. Pembaca juga dikenalkan dengan karakteristik setiap anggota grup band Noah itu. Bagi yang ingin mengenal Ariel dan kawan-kawan serta dunia bermusik mereka, buku setebal 228 halaman yang disertai dengan foto mejeng diatas pentas tersebut lumayan lengkap.

Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt

Karya Agus Sudibyo

Resensi ditulis Hendar Putranto

Dimuat JAWA POS, 30 September 2012

Dunia politik Indonesia pascareformasi 1998 terlihat seperti opera sabun. Penuh kepura-puraan dan sarat kepalsuan. Para pemeran opera sabun itu bisa berwujud “wakil rakyat”, “Pejabat Pemerintah” dan “Birokrat”. Buku yang bersumber dari pengolakan tesis program Magister Sekolah tinggi Filsafat Driyarkara itu menjembatani dua dunia yang digelutinya selama 15 tahun terakhir, dunia akdemis teoritis dan dunia aktivis praktis. Di mata penulis, ketertarikan mendalami pemikiran Hannah Arendt dimuali dari keunikan latar belakang hidupnya serta kesegaran sumbangan pemikirannya. Hannah Arendt  adalah seorang perempuan Yahudi yang hidup dalam zaman pemerintahan Nazi yang totaliter dan diskriminatif, sehingga dia menulis dari perspektif korban dan survivor. Politik otentik yang diusulkan Arendt adalah politik yang liberatif sekaligus emansipatif. Artinya, politik harus membebaskan masyarakat dari segala bentuk belenggu keniscayaan.

Mendemokratisasi Negara, Pasar dan Masyarakat Sipil

Karya Abdul Rozaki

Resensi ditulis Ahmad Izzudin

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 30 September 2012

Selama ini proses demokrasi yang dicita-citakan banyak masyarakat di negeri ini, seakan melenceng dari yang diidealkan. Bahu-membahu melepaskan pemerintah Orba yang otoriter, kini kandas hanya karena banyak penguasa yang terlena oligarkhi dan politik kekuasan. Parahnya, penyakit kronis ini melanda hampir semua lembaga negara kita. Lewat buku inilah penulis mengupas mendalam tentang kekuatan konspirasi destruktif yang menjadikan negara, pasar dan masyarakat sipil tidak berkembang sehat. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana disentralisasi sebagai pelaksana ekonomi daerah pada praktiknya kerap hanya menguntungkan elite tertentu.

Botchan, Si Anak Bengal

Karya Natsume Soseki

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 September 2012

Pembantu, babu alam kosmologi jawa mempunyai ‘keagungan’ tersendiri. Priyo Widiyanto pernah menulis, sikap dan sifat babu, harus ada dalam setiap diri pendidik. Babu dalam keluarga merupakan sosok yang sangat patuh pada perintah tuannya. Apa yang diuraikan Priyo Widiyanto tersebut sejalan dengan buku Botchan, Si Anak Bengal ini. Alkisah, Botchan terkenal sebagai anak yang nakal. Dia suka iseng dan mengeksplorasikan segala keinginannya. Dia suka berkelahi, bermain senjata tajam, dan merusak tanaman tetangga. Melihat tingkah polah Botchan, ayahnya kewalahan dan menganggap ia tak mempunyai masa depan. Beruntunglah Botchan mempunyai Kiyo, perempuan setengah baya yang menjadi pembantu dikeluarganya. Melihat perilaku pembedaan terhadap Botchan, Kiyo berusaha menyelami dan memahami anak itu. Oleh karena kasih sayang yang melimpah dan sikap melayani yang ditunjukan oleh Kiyo, Botchan tumbuh menjadi pribadi yang apa adanya (lugas) dan jujur.

Menjadi Guru Berkarakter, Strategi Membangun Kompetensi dan  Karakter Guru

Karya Agus Wibowo MPd

Resensi ditulis Sururudin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 September 2012

Pendidikan bukanlah semata sekedar transfer knowledge. Membekali anak dengan nilai-nilai kehidupan juga menjadi tugas pendidikan. Bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat, toleransi, bertutur kata sopan dan berlaku mulia dalam perbuatan harus guru ajarkan kepada anak. Seorang guru tidak hanya menerangkan materi pelajaran dan memerintahkan anak untuk mengerjakan lks saja.  Buku ini membahas tentang apa dan bagaimana guru berkarakter. Karakter utama yang harus dimiliki seorang guru antara lain, komitmen, kompeten, kerja keras, konsisten, sederhana, kemampuan interaksi melayani secara maksimal dan cerdas.

Diksi Para Pendendam

Karya Badruddin Emce

Resensi ditulis Heri CS

Dimuat SUARA MERDEKA, 30 september 2012

Puisi bukan sekedar kata-kata yang meluncur dari nurani penyair. Ia juga menjadi rekaman kegelisahan pikiran, lingkungan, harapan, hingga problematika sosial dan kebangsaan dimana si penyair berada. Hal itu juga tertangkap pada saat kita membaca Diksi Para Pendendam, kumpulan puisi karya Badruddin Emce yang diterbitkan Akar Indonesia 2012. Puisi-puisi dalam antalogi yang disunting oleh Raudal Tanjung Banua ini, ditulis oleh Badruddin antara tahun 1982 hingga 2010. Artinya, hampir 3 dasa warsa, penyair kelahiran Kroya Cilacap, 5 Juli 1962 ini merangkum apa yang dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan melalui dunia empirisnya.

Aku Pembunuh?

Karya Eri Maryana

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 30 September 2012

Lewat karyanya yang berjudul Aku Pembunuh?, sebagai mana orangtua pada umumnya, Eri Maryana membuktikan, betapa ia sangat mencintai mendiang anaknya, Kinan. Ia merajut kisah pilu yang dialaminya tersebut sebanyak 90 halaman, merunutkan detik-detik terakhir sang buah hati berjuang melawan leukemia, sehingga menghadap sang khalik pada 2011. Ditengah kesedihan ditinggal anaknya, cobaan masih dating. Eri harus menganggu cercaan yang datang tiada henti. Ia dianggap sebagai penyebab utama kematian anaknya, karena mengusahakan pengobatan kemoterapi.

1 Comment

Muhammad Irfan Husaini - 16. Okt, 2012 -

Info yang sangat berharga bagi pecinta buku, ditunggu pekan kedua Oktober 2012

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan