-->

Tokoh Toggle

Jakob-Remy: Setia Pada Mesin Tik

Mawar Kusuma

Mesin tik melintasi zaman dan masih melahirkan karya-karya besar. Ia dianggap sebagai perpanjangan proses berpikir. Ada yang tak bisa menulis tanpa kehadiran mesin tik.

Dari jari-jari yang menari di atas tuts mesin tik, Remy Sylado (67) telah menghasilkan lebih dari 300 karya sastra. Ia memilih menyimpan komputer jinjing di balik meja kerja dan mengoleksi puluhan mesin tik. ”Itu kebiasaan saja. Disuruh mengubah ya tidak kulino (terbiasa),” kata Remy.

Remy terbiasa bekerja di ruangan berukuran 2 meter x 4 meter yang terletak di pojokan rumahnya di Jalan Cipinang Muara, Jakarta Timur. Ruang kerja tanpa pendingin udara ini dijejali dengan beragam jenis buku yang memenuhi setiap sudut ruangan. Jika ia mengetik, suara tuts mesin tik menjadi penyemangat tersendiri.

Dengan peluh bercucuran, Remy menunjukkan caranya bekerja. Ia lebih memilih bekerja di pagi hari ketika suasana masih sunyi. Tiga mesin tik dijejerkan sekaligus di atas meja kerjanya. Masing-masing dari mesin tik bermerek Brother itu digunakan untuk menulis karya berbeda.

Di tengah proses pembuatan suatu karya, Remy bisa tiba-tiba berpindah menyelesaikan karya lain dengan mesin tik berbeda. Ketika menulis novel Hotel Prodeo, misalnya, Remy mengetiknya bersamaan dengan cerita bersambung Namaku Mata Hari dan tulis ulang buku drama musikal Jalan Tamblong.

Seluruh novel karyanya dikerjakan bareng-bareng tiga sekaligus. Padahal mayoritas karyanya lahir dengan riset yang kuat. Sering kali karya Remy bahkan sudah diterbitkan ketika proses penulisannya belum rampung. ”Santai saja nulisnya. Kalau enggak ya main musik dulu,” ujar Remy.

Karya berjudul Paris Van Djava, misalnya, baru rampung 100 halaman, sedangkan karya Sam Po Kong baru diketik 300 halaman pada saat mulai dimuat bersambung di surat kabar. Penerbit bersedia mengambil risiko memuat karya yang belum jadi karena Remy belum pernah tidak menyelesaikan karya yang sudah diketik.

Jodoh pikiran

Hal serupa juga dilakoni Jakob Sumardjo (73) yang setia dengan mesin tik bermerek Royal 200. Di bilik kerjanya yang berukuran 2 meter x 2,5 meter, pensiunan guru besar STSI Bandung ini sudah melahirkan lebih dari 40 buku dan ratusan artikel. ”Saya berpikir lewat tulisan di mesin tik,” tambah Jakob.

Seluruh buku karya Jakob ditulis dengan satu-satunya mesin tik yang dibelinya sejak tahun 1970. Sampai kini, buku karyanya seperti Masyarakat dan Sastra Indonesia Populer (1979) dan Perkembangan Teater Modern dan Sastra Indonesia (1980) masih menjadi acuan di sekolah dan kampus.

Tuts mesin tik milik Jakob sempat luntur dan kawatnya putus karena Jakob menggunakannya setiap hari. Seorang rekannya yang juga tokoh teater di Bandung lalu membantu memperbaiki sehingga huruf-hurufnya kembali tampak. Ketika mesin tiknya diperbaiki selama dua pekan, Jakob mengaku tak bisa bekerja.

Ia mencoba menulis dengan tangan, namun hasil tulisannya dirasa tidak bagus. Jakob sama sekali tidak tertarik memanfaatkan komputer jinjing. ”Rasanya seperti tidak punya tangan. Mesin tik sudah jadi jodoh yang menyatu dengan pikiran saya. Jadi perpanjangan pikiran,” ujarnya.

Untuk penerbit buku yang tidak bersedia menerima naskah dalam bentuk ketikan mesin tik, Jakob memanfaatkan jasa ketik ulang. Draf buku yang sudah jadi lalu diserahkan ke seorang tetangga dekatnya yang sudah biasa mengetik ulang karya Jakob dengan komputer.

Mesin tik Royal 200 tersebut dibeli Jakob dari uang yang dikumpulkannya dari honor menulis untuk artikel di harian Kompas. Kantornya di STSI Bandung sempat memberinya hadiah berupa mesin tik merek Brother. Tapi Jakob merasa tidak nyaman menggunakan mesin tik itu.

Dengan mesin tik, Jakob sedang berusaha merampungkan buku karyanya tentang kajian budaya Sunda. Ia sudah sembilan kali menulis buku filsafat budaya Sunda. Saat ini, Jakob terkonsentrasi meneliti situs megalitik punden berundak Gunung Padang di Cianjur dan situs Karangkamulyan di Ciamis.

Selain terjun langsung ke lapangan, Jakob juga mencari referensi dari buku-buku tua seperti mantra sunda hingga manuskrip kuno. Jakob sama sekali tidak bersedia menggunakan kemudahan akses internet untuk referensi data. Untuk merampungkan sebuah buku, ia membutuhkan setidaknya dua hingga tiga bulan.

Museum mesin tik

Di samping bilik kerjanya, Remy menunjukkan lemari yang diisi koleksi mesin tik beragam model. Ia memperlihatkan mesin tik yang ukurannya lebih panjang dari mesin tik kebanyakan dan digunakan untuk menulis dengan ukuran huruf 8 point. Ada pula mesin tik dengan huruf miring, mesin tik huruf Arab, hingga mesin tik huruf Yunani yang diperolehnya dari pasar loak di Belanda.

Remy berniat akan memajang koleksi mesin tiknya di museum pribadi yang akan diwujudkan di rumahnya di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Ketika ditemui terpisah di rumah itu, Remy juga memamerkan koleksi mesin tik tua tahun 1874. ”Kalau suka ya saya simpan,” tambah Remy.

Remy sudah mengoleksi lebih dari 40 mesin tik yang seluruhnya masih bisa digunakan. Mayoritas koleksinya dibeli dari tukang loak di Jalan Surabaya, Jakarta; Pasar Rumput, Jakarta; dan Jalan Cikapundung, Bandung. Ia membeli untuk koleksi dari tahun 1960-an dengan harga Rp 500.000-an.

”Wis kulino krungu suarane (sudah terbiasa dengar suaranya),” kata Remy merangkum alasan kecintaannya pada mesin tik. Tik..tik-tik-tik…ting!

*) Kompas, 9 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan