-->

Lainnya Toggle

Hope Solo: Rumahku Medan Perangku

Buku biografi Hope Solo berjudul “Solo: A Memoir of Hope” laris bak kacang goreng. Buku tentang kisah hidup kiper sepak bola putri Amerika Serikat ini tercatat menjadi buku ketiga terlaris di Amerika Serikat versi New York Times pekan ini. Di buku setebal 304 halaman yang ditulis oleh Ann Killion tersebut, Solo memang tak malu-malu mengeluarkan sisi terdalam dan terkelam dari kehidupan pribadinya.

Ditulis di buku tersebut betapa Solo memang adalah seorang yang sangat menyukai kompetisi, jika bukan persaingan dengan siapa saja. Tak heran, ia pernah bertengkar dengan siapa saja, mulai dari rekan satu tim, pelatih, bahkan dengan teman dansanya di acara hiburan “Dancing with the Star”.

Sikap suka berkonflik itu, tulis Solo, tak lain merupakan efek dari masa kecilnya yang tak bahagia. Di bab awal buku tersebut, dikisahkan bagaimana rumah masa kecilnya ibarat medan pertempuran. “Rumahku adalah ladang tempat segala sumpah serapah, ejekan, dan segala bentuk pelecehan. Ayah saya adalah pengangguran, dan pemabuk.”

Tinggal dengan ayah yang temperamental jelas membuat Solo tak betah tinggal di rumah. Ketika itulah, sepak bola menjadi penyelamat hidupnya. “Dalam kehidupan nyata, hidup terasa begitu absurd, tanpa aturan yang jelas, dan aku sangat merasa tak ketakutan. Namun, semua itu sirna ketika masuk ke lapangan sepak bola. Semuanya menjadi begitu teratur, jelas, sportif. Dan itu semua membuatku merasa sangat nyaman,” tulis Solo seperti dikutip dari Soccer America, kemarin.

Karena itulah ia merasa sangat bersyukur hidup di era yang mengijinkan para wanita bisa berkecimpung di dunia sepak bola. “Saya sangat beruntung karena sebelumnya banyak remaja putri yang sangat berminat main sepak bola tapi hasratnya tak tersalurkan karena terkekang oleh berbagai aturan.”

Pada usia lima tahun, Solo sudah bergabung dengan tim sepak bola putri. Nama klub pertamanya adalahh Pink Panthers. Dengan bahasa yang puitis, di buku biografinya ia melukiskan bagaimana nikmatnya mengolah bola melewati para pemain lawan, dan mencetak banyak gol.

Kemudian hari, tim tersebut kehilangan kiper yang pindah ke lain kota. Dan Solo pun ketiban tugas menjadi kiper dengan alasan yang unik: karena ia satu-satunya pemain yang berani jadi kiper.

“Saya paling kuat dan berani saat itu. Saya mendominasi di lini depan. Saya juga jadi playmaker. Tak ada seoranng pelatih pun yang bermimpi menempatkan saya jadi penjaga gawang. Masalahnya, tak ada anak lain yang punya nyali jadi kiper. Walhasil, karena saya tak kenal takut, jadilah saya kiper. Dan saya terlalu hebat untuk kebobolan,” tulis Solo.

Saat di level sekolah menengah pertama, tim Solo terpilih mengikuti sebuah turnamen. Tadinya, perempuan cantik ini tak akan ikut berangkat karena tak punya biaya untuk bepergian. Untunglah, teman-temannya, dan pelatih Solo ketika itu urunan untuk membiayainya. “Timku adalah keluargaku sesungguhnya,” kata Solo yang saat masuk SMA sudah menuliskan cita-citanya adalah menjadi pesepak bola putri profesional ini.

Pada usia 13 tahun, ia pergi ke Eastern Washington ODP, sebuah sekolah sepak bola putri. Ia mendemontrasikan kehebatannya mengolah bola, dan mencetak gol dengan harapan bisa terpilih menjadi seorang striker.

Sialnya ketika itu posisi penjaga gawang sangat dibutuhkan, dan tim tersebut tak punya lagi stok. Terlebih, pelatih ODP pernah melihat Solo berkiprah di bawah gawang. Walhasil, Solo pun terpilih sebagai kiper utama untuk tim U-16. Sejak itulah, ia terus berkiprah di bawah gawang hingga akhirnya terpilih sebagai kiper timnas putri AS. Total, ia telah bermain 124 kali untuk negaranya, dan menyumbangkan dua medali emas olimpiade. (Tribunnews/den)

*)Tribunnews, 2 Sept 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan