-->

Kronik Toggle

Dibilang Bego & Ditampar Guru Pakai Buku

Jakarta Ketiga anak kelas 3 SD di kawasan Jakarta Utara ini trauma, sedih dan takut karena guru mereka selalu berkata kasar dan menampar saat mereka melakukan kesalahan. Mereka yang didampingi orang tua lantas mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Ketiga siswa kelas 3 SD itu adalah Fa, So dan Si. Si satu-satunya siswa perempuan yang mengadu. Mereka datang ke KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/9/2012) pukul 16.00 yang diterima Sekretaris KPAI, M Ihsan.

Aduan ini disampaikan oleh orang tua Si, Siti Hanifah. Siti menceritakan pada Jumat (31/9/2012) lalu, bahwa suaminya yang juga ayah Si menjemput putrinya. Sampai di sekolah, ayah Si melihat ke dalam kelas. Saat itu, yang mengajar adalah wali kelas 3 ibu guru Ro.

“Melihat Ibu Ro lagi marah-marah dengan anak saya. Anak saya dikatain ‘Dasar bego, goblok!’ lalu ditampar pakai buku ke kepala. Suami saya tidak marah tapi dia tidak main hakim sendiri. Pulangnya dia lapor ke saya. Otomatis orang tua siapa nggak naik pitram anaknya digituin,” kata Siti.

Sabtu esok harinya, kira-kira pukul 07.00 WIB, Siti hendak bertemu kepala sekolah namun sayang yang bersangkutan tidak ada di tempat karena sedang halal bihalal. Siti lantas bertemu langsung dengan ibu guru Ro.

“Lalu saya tanya, ‘Anak saya kemarin diapain? Terus terang saja Bu’. Dia nolak-nolak terus, bilang ‘Nggak diapa-apain kok. Saya terus terang, bener deh'” kata Siti.

Intinya, imbuh Siti, ibu guru Ro tidak mengaku sama sekali. Siti mengakui anaknya tidak terlalu pintar, karena itu disekolahkan agar pintar.

“Anak saya di sini untuk diajar, bukan dihajar. Anak saya bodoh, tapi di sini diajar untuk jadi pintar. Bu Ro diam saja. Bu Ro akhirnya bilang, ‘Anak ibu mau saya apain? Baru kali ini ada walimurid yang negur saya’. Saya bilang saya mewakili orang tua murid yang lain. Makanya saya komplain. Pernah ada yang melapor ke kepala sekolah. Saya juga pernah, tapi jawabannya selalu sama, ‘Kita bina, sabar ya..sabar ya..’,” kata Siti.

Sebenarnya, imbuhnya, Siti cukup respect dengan guru-guru lain di sekolah anaknya. “Cuma guru yang satu ini saja. Kalau minta maaf, saya maafkan. Kita maafkan,” kata Siti.

Ketiga anak itu, So, Fa dan Si kemudian ditanya oleh Sekretaris KPAI M Ihsan tentang perilaku ibu guru Ro.

“Banyak yang dipukul. Saya pernah dipukul jidatnya. Ibu jahat,” kata So.

Sementara Si, mengaku dipukul kepalanya pakai buku. “Saya dipukul kepalanya pakai buku, ada teman saya juga yang pernah dirobek bukunya. Kalau matematika salah buku dirobek. Terus dibuang ke lantai. Bu Ro juga pernah menampar sampai berdarah pakai tangan,” kata Si.

Si mengaku sudah 3 hari ini tidak mau bersekolah karena bu Ro masih mengajar di SD itu. Si mengaku akan pindah bila ibu Ro masih mengajar di situ. Ihsan bertanya apakah Si masih mau bersekolah bila Bu Ro meminta maaf, Si menjawab, “Dimaafin, tapi tetap nggak mau diajar”.

Sedangkan Fa, selama pertemuan matanya tampak berkaca-kaca seperti hendak menangis. “Anak saya tampaknya masih trauma,” kata ibu, Fa, yang enggan disebutkan namanya.

Sementara M Ihsan mengatakan sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk menginvestigasi kasus yang sebenarnya. Bila terbukti, maka yang bersangkutan akan diberi sanksi administratif sesuai aturan yang berlaku.

“Seperti tidak boleh mengajar dalam beberapa waktu atau tidak boleh melakukan pekerjaan yang berhadapan langsung dengan anak,” jelas Ihsan.

Ihsan berjanji kasus ini akan ada titik terang dalam waktu sepekan. Dia berharap masalah ini tetap dalam ranah pendidikan, tidak dibawa ke ranah pidana.

“Kami biasa menangani hal seperti ini. Kami sadar guru juga ada masalah. Atau dia pernah mendapat kekerasan dulu. Namanya orang kan bisa berubah. Biar pemerintah yang beri sanksi ke dia. Saya juga berharap orang tua murid bisa membedakan, kalau hubungan guru itu mendidik orang tua juga harus menerima. Saya kira itu tidak apa-apa supaya anak bisa ingat. Tapi kalau sampai memukul seperti ini itu melanggar pasal 54 UU Perlindungan Anak nomor 23/2002,” papar Ihsan.

*)Detik, 5 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan