-->

Kronik Toggle

Buku Wartawan Naik Haji dibedah di Mekkah

Buku “Wartawan Naik Haji: Tersungkur di Gua Hira” karya Wapemred Antara Akhmad Kusaeni, Rabu, diserahkan penulisnya kepada Ketua Daerah Kerja Misi Haji Indonesia Mekkah Achmad Arsyad untuk dibedah para wartawan yang terlibat dalam Media Center Haji.

Turut menyaksikan penyerahan buku terbitan Antara Publishing itu Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat yang berpesan agar buku itu bisa menjadi pegangan dan inspirasi bagi para wartawan peliput haji yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH).

Sebanyak 21 wartawan dari berbagai media di Indonesia bertugas pada MCH pada musim haji tahun ini. “Banyak cerita menarik di buku itu,” kata Bahrul Hayat.

Arsyad menyatakan senang menerima buku yang ditulis oleh Akhmad Kusaeni yang pada musim haji tahun 2011 menjadi pengarah pada MCH, sementara Arsyad menjabat Daker Mekkah. Buku setebal 200 halaman dan sudah beredar di toko buku Gunung Agung di seluruh Indonesia itu memotret semua kegiatan penyelenggaraan jemaah haji pada 2011, termasuk kegiatan Daker Mekkah.

“Saya senang tetek bengek penyelenggaraan haji ditulis di buku ini,” kata Arsyad yang mengaku gembira bisa ketemu lagi dengan penulis buku pada musim haji tahun 2012 ini.

Akhmad Kusaeni mengatakan pengalamannya berhaji sangat mengesankan dan ia mau membagi kisah-kisah spiritualnya itu kepada para calon jemaah haji dan umrah.

“Tanpa pemahaman terhadap sejarah haji dan kontekstualnya dengan masalah kekinian, ibadah haji akan menjadi hampa, sia-sia. Perjalanan haji tidak akan lebih dari perjalanan wisata saja,” katanya.

Di buku yang ditulisnya, Kusaeni menceritakan latar belakang dari semua rukun dan proses haji yang belum terjawab secara ringan dan sederhana dalam buku-buku manasik haji. Misalnya saja mengapa harus bermalam di Mina, mengapa harus memakai ihram dan tawaf keliling Kabah, lari-lari kecil ketika Sa`i, mengapa harus ada kewajiban Qurban, dan mengapa Tahalul sebaiknya sampai gundul plontos.

“Jemaah haji yang tanpa penguasaan akan falsafah haji hanya akan menjadi turis tanpa makna,” tegas Kusaeni.

Erafzon Saptiyulda, seorang wartawan anggota MCH Daker Jeddah, mengaku sudah khatam membaca buku koleganya itu. Cerita menarik di buku dengan sampul penulis yang mengenakan kafiye dengan latar belakang suasana tawaf di Masjidil Haram itu, menurut Erafzon, antara lain Doa Cepat Dapat Jodoh (hal 47) dan Joki Hajar Aswad (hal 71).

Selain itu yang tidak boleh dilewatkan adalah Pilih Prasmanan atau Mencret (hal 120), Mati Ketawa Ala Jemaah Haji (hal 144), Kamar Barokah Pelepas Hasrat Biologis (hal 164), dan Ditawari Hajar Jahanam di Pasar Seng (174).

“Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca karena artikelnya penuh warna dan enak dikunyah,” demikian Erafzon Saptiyulda.

*) Antara, 26 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan