-->

Kronik Toggle

Buku tentang Misteri Kematian Kartosoewirjo #2

Sosok Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo banyak diyakini pengikutnya sebagai satria piningit. Dengan kampanye mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), dia pun cukup mendapat banyak dukungan dari masyarakat di Garut, Tasikmalaya, dan Sumedang di Jawa Barat di akhir 1950-an.

Gerakan pemberontakan yang dilakukan Kartosoewirjo dengan membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) pun saat itu cukup merepotkan. Hingga akhirnya pada 1962, Kartosoewirjo di bulan Juni ditangkap Divisi Siliwangi di Garut. TNI melakukan operasi pagar betis guna menangkap Kartosoewirjo.

Seperti ditulis Fadli Zon dalam bukunya ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ disebutkan bahwa kekosongan pasukan TNI di Jawa Barat yang terpaksa hijrah, menyusul kesepakatan Renville pada 1949 dengan Belanda, membuat Kartosoewirjo berani memproklamirkan diri berdirinya NII. Kartosoewirjo beranggapan terjadi kekosongan kekuasaan.

“Kartosoewirjo lebih memilih tetap bertahan di Jawa Barat dan meneruskan perjuangan melawan Belanda secara bergerilya. Kartosoewirjo dan kawan-kawannya tetap tinggal di Jawa Barat dan juga di daerah di luar Jawa Barat. Mereka berhimpun dan berkumpul mengkonsolidasikan kekuatan mendirikan Negara Islam Indonesia,” tulis Fadli .

Mundur ke belakang,  dalam rekam jejak politiknya, Kartosoewirjo dekat dengan Tjokroaminoto pendiri Partai Serikat Islam Indonesia yang dijuluki sebagai ‘Raja Jawa tak bermahkota’ oleh Belanda. Kartosoewirjo merupakan sekretaris pribadi Tjokroaminoto dan kerap ikut berkeliling Pulau Jawa.

Dekat dengan Tjokroaminoto membuat Kartosoewirjo lebih dalam mengenal ajaran Islam. Dia pun banyak mendalami alquran dan hadist. “Tapi ia tak pernah belajar Islam ke luar negeri, bahkan tak sempat naik haji,” tulis Fadli.

Kegiatan dengan Tjokroaminoto ini diduga mempertemukan Kartosoewirjo dengan Soekarno. Dalam buku yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengaku bertemu dan bekerja sama dengan Kartosoewirjo pada 1918. Kemudian keduanya juga pernah tinggal dan makan bersama di Bandung.

Sedang Kartosoewirjo mengaku bertemu pertama kali dengan Soekarno pada 1927 di Cimahi dalam kegiatan PSII. “Mereka menjadi kawan karena Soekarno juga murid Tjokroaminoto”.

Namun, bertahun kemudian jalan politik yang diambil berbeda. Kartosoewirjo menggalang kekuatan dan mendirikan Negara Islam Indonesia. Soekarno yang menjadi presiden, memerintahkan penangkapan Kartosoewirjo yang dicap pemberontak.

Kartosoewirjo menggalang kekuatan pasukan laskar Hizbullah dan Sabilillah yang kemudian menjelma menjadi Tentara Islam Indonesia (TII). Kartosoewirjo yang pernah menjadi wartawan di harian Fadjar Asia dengan posisi wakil pemimpin redaksi ini akhirnya pada 7 Agustus 1949 di Desa Cisampah, Tasikmalaya memproklamirkan berdirinya NII.

Hingga kemudian bertahun-tahun Kartosoewirjo dan kelompoknya menjadi buruan TNI. Pada Juni 1962 dia dibekuk di Garut.

Kartosoewirjo didakwa melanggar pasal-pasal berlapis yaitu pasal 107 ayat 2, 108 ayat 2, dan 104 juncto pasal 55 KUHP, juncto pasal 2 PENPRES No.5 tahun 1959 yang dimuat dalam lembaran negara No 80 tahun 1959.

Fadli menulis setidaknya ada tiga kejahatan politik yang disangkakan pemerintah pada Kartosoewirjo. Pertama, memimpin dan mengatur penyerangan dengan maksud hendak merobohkan pemerintahan yang sah. Kedua, memimpin dan mengatur pemberontakan melawan kekuasan yang telah berdiri dengan sah yaitu Republik Indonesia. Dan ketiga, melakukan makar pembunuhan terhadap presiden yang dilakukan secara berturut-turut dan terakhir dalam peristiwa ‘Idul Adha’.

“Pada 16 Agustus 1962, pengadilan militer menjatuhkan vonis mati bagi Kartosoewirjo. Dalam proses pengadilan itu, dia juga membantah tuduhan kedua dan ketiga. Kartosoewirjo mengatakan bahwa tuduhan upaya membunuh presiden Soekarno hanya isapan jempol belaka,” tulis Fadli.

Kartosoewirjo pun sempat meminta grasi kepada Soekarno. Namun, saat itu Soekarno langsung menolak. Soekarno menyatakan menandatangani hukuman mati bukan suatu kesenangan.

“Sungguhpun demikian seorang pemimpin harus bertindak tanpa memikirkan betapapun pahit kenyataan yang dihadapi,” tulis Fadli mengutip buku Cindy Adams.

Kartosoewirjo dieksekusi regu tembak pada 12 September di Pulau Ubi. Dia pun kemudian dimakamkan di sana.

3 Permintaan Kartosoewirjo yang Ditolak Mahkamah Darurat Perang
Sebelum ditembak mati, pemimpin DI/TI Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo memohon empat permintaan. Dari empat permintaan, hanya satu yang dikabulkan Ketua Mahkamah Darurat Perang kala itu.

Putra bungsu Kartosoewirjo, Sarjono Kartosoewirjo mengungkap empat permintaan ayahnya. “Ada empat permintaan bapak saya sebelum eksekusi setelah grasi ditolak Presiden Soekarno,” kata Sarjono.

Kartosoewirjo dalam permintaan pertamanya menginginkan bertemu dengan perwira-perwira terdekat. “Tapi kemudian ditolak,” kata Sarjono. Kedua, Kartosoewirjo minta eksekusinya disaksikan oleh perwakilan keluarga. Namun permintaan ini juga ditolak dengan alasan bertentangan dengan budaya.

Permintaan ketiga, Kartosoewirjo yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) ini meminta jasadnya dikembalikan ke keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga. “Tapi ditolak,” sebut Sarjono.

Ketua Mahkamah Darurat Perang saat itu hanya mengabulkan permintaan keempat Kartosoewirjo yakni bertemu dengan keluarga sebelum ditembak mati di Pulau Ubi di kawasan Pulau Seribu. “Ini yang dibolehkan,” sebut Sarjono yang masih berusia 5 tahun ketika eksekusi ayahnya dilakukan.

Sarjono secara khusus berterima kasih atas kumpulan 81 foto yang menggambarkan detik-detik eksekusi Kartosoewirjo. “Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan akan keluar fakta sejarah dengan dukungan foto yang sulit terbantahkan,” ujarnya.

Foto-foto yang berhasil dikumpulkan sejarawan Fadli Zon ini, kata Sarjono memaparkan fakta yang terjadi untuk meluruskan sejarah. “Karena isu-isu mode eksekusi, di sini kita lihat bapak saya manusia biasa, tembus peluru. Eksekusi dengan perlakuan standar,” kata dia.

Pesan Terakhir Kartosoewirjo Kepada Anak-anaknya Sebelum Dieksekusi

Sebelum ditembak mati atas vonis pengadilan, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo diizinkan bertemu keluarga. Dalam pertemuan itu, pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berpesan kepada kedua putranya.

Putra Kartosoewirjo,Tahmid Basuki Rahmat menuturkan, Ayahnya berpesan agar keluarganya tetap menjadi muslim yang taat. “Jadilah Mujahidin dan muslim yang baik,” kata Tahmid di sela peluncuran buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ di Taman Ismail Marzuki, Rabu (5/9/2012).

Kartosoewirjo juga berpesan agar anak-anaknya menjaga Ibu. “Karena ibu seorang wanita, dan kadang-kadang seorang yang berpikirannya lemah,” tutur Tahmid yang saat itu berisi 22 tahun.

Pesan Kartosoewirjo ini disampaikan usai makan bersama keluarga yang dihadiri anaknya Tahmid, Dodo Muhammad, Kartika, Komalasari, Danti serta istri Kartosoewirjo, Dewi Siti Kalsum. Kartika yang hadir dalam peluncuran buku mengaku tak mengingat lagi pembicaraan Ayahnya sewaktu makan bersama keluarga untuk kali terakhirnya.

“Waktu itu saya masih kecil 11 tahun, nggak mengetahui apa-apa,” ujarnya.

Tahmid sendiri baru mengetahui Ayahnya divonis hukuman mati pada September 1962 setelah diberitahukan Mahkamah Darurat Perang. Mahkamah kala itu mengabulkan permintaan Kartosoewirjo untuk bertemu keluarga sebelum dieksekusi di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.

“Perwakilan Mahkamah Darurat Perang, akan mengeksekusi 5 September lalu. Tapi saya tidak mengetahui apakah rencana eksekusi itu benar. Tapi kemungkinan dieksekusi sebelum 5 September,” tuturnya.

Salat Taubat Kartosoewirjo Sebelum Hadapi Regu Tembak di Pulau Ubi
Makan bersama keluarga dan pesan terakhir diberikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai pemimpin DI/TII ini bersiap menghadapi regu tembak dari TNI. Sebelum diangkut kapal menuju Pulau Ubi di gugusan Kepulauan Seribu, dia melakukan salat taubat.

“Setelah bertemu keluarga, dalam foto tersebut Kartosoewirjo kemudian melakukan salat taubat, mengenakan pakaian putih hitam,” tulis Fadli Zon dalam bukunya ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ .

Fadli menuliskan, saat ditangkap, kondisi kesehatan Kartosoewirjo sangat buruk sekali. Tubuh Kartosoewirjo diserang berbagai penyakit, seperti kurang darah, kurang makan, dan bengkak di lambung.

“Setelah salat taubat, kemudian tangan Kartosoewirjo diborgol petugas dan dimasukkan ke dalam sela, tempat di mana ia menunggu untuk dibawa dengan kapal ke Pulau Ubi,” tulis Fadli yang juga pengajar Sejarah di UI ini.

“Kelihatan ia sudah pasrah dengan takdirnya,” tulis Fadli. Saat dieksekusi Kartosoewirjo berusia 57 tahun.

Dor! 5 Peluru Bersarang di Dada Kartosoewirjo

Tutup mata berwarna putih dipasangkan pada Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sebelum kapal yang membawanya tiba di Pulau Ubi, di gugusan Kepulauan Seribu tempat pelaksanaan eksekusi. Tim eksekusi dari TNI pun sudah mengganti celana hitam yang dipakai Kartosoewirjo dengan baju seragam putih-putih.

Dalam foto yang dimuat di buku Fadli Zon,  turun dari kapal, sejumlah prajurit TNI menggiring Kartosoewirjo menuju tiang eksekusi.

Sebelumnya di kapal, Kartosoewirjo tampak dalam foto berdoa dengan dibantu seorang rohaniwan dari TNI. Wajah Imam DI/TII yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat itu tampak pasrah.

Rohaniwan dari TNI terus mendampingi Kartosoewirjo begitu turun dari kapal hingga diikat di tiang eksekusi. Kartosoewirjo pun dipandu untuk berdoa sebelum peluru ditembakkan.

Dipimpin oditur militer, hari itu, 12 September 1962, 12 regu tembak bersiap melaksanakan eksekusi. “Tak ada yang tahu pada siapa peluru disarangkan. Namun sesaat setelah komandan memberi instruksi, beberapa peluru menembus dada sebelah kiri Kartosoewirjo. Dan terakhir komandan regu penembak melakukan tembakan dari jarak dekat sekali,” tulis Fadli Zon yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini dalam tulisannya.

Dalam foto di buku hardcover lengkap dengan 81 foto itu pun tampak sosok Kartosoewirjo usai dieksekusi. Ada 5 lubang peluru di dada kirinya.

“Setelah eksekusi selesai, jasad Kartosoewirjo diperiksa dokter,” tulis Fadli.

Sedang menurut putra Kartosoewirjo, Sarjono bahwa foto-foto itu meluruskan sejarah. “Karena isu-isu mode eksekusi, di sini kita lihat bapak saya manusia biasa, tembus peluru. Eksekusi dengan perlakuan standar,” kata dia dalam diskusi di TIM.

Jenazah Kartosoewirjo Dimandikan Air Laut & Disalatkan 4 Orang

Dalam 81 foto yang dilampirkan dalam buku itu, terpapar proses awal eksekusi hingga penguburan. Ada 5 peluru bersarang di dada kiri Kartosoewirjo.

Usai eksekusi, jenazah Kartosoewirjo pun kemudian diperiksa tim dokter untuk memastikan bahwa pria yang lahir di Cepu, Jateng, itu tewas.

“Usai pemeriksaan, jenazah dimandikan dengan air laut, dikafani dan disalatkan,” tulis Fadli.

Jenazah Kartosoewirjo diangkat dengan sebuah tandu dan dibawa ke pinggir laut untuk dimandikan. Kemudian, jasad Kartosoewirjo dikafani dan disalatkan.

“Dari sekian banyak orang yang hadir, hanya empat petugas yang ikut mensalatkan. Setelah itu jenazah Kartosoewirjo dikuburkan,” tulis Fadli .

Tiang Eksekusi Dibakar & Makam Sederhana Kartosoewirjo di Pulau Ubi

Dalam buku yang ditulis Fadli Zon tergambar proses eksekusi. Mulai dari pertemuan terakhir dengan keluarga dan perjalanan menuju tempat eksekusi di Pulau Ubi.

Berpakaian putih, dengan mata ditutup kain putih seorang rohaniwan memandu Kartosoewirjo berdoa. Tidak lama, regu tembak bersiap dan peluru ditembakkan. Sang komandan regu tembak pun sempat melepaskan tembakan dari jarak dekat untuk memastikan tewasnya Kartosoewirjo.

Usai dimandikan air laut dan disalatkan, Kartosoewirjo dikuburkan di Pulau Ubi. Tanah untuk kuburannya di foto itu tidak dalam, kurang lebih hanya 1 meter.

“Agak mengherankan, liang lahat yang digali sangatlah dangkal jika dibandingkan liang lahat pada umumnya. Jika dilihat dari foto, dalamnya kuburan itu tak lebih dari satu meter. Lalu jasad ditimbun tanah. Ada pembacaan doa yang dipimpin oleh imam tentara bagian rohani,” tulis Fadli Zon dalam bukunya.

Di foto itu juga tergambar, kuburan Kartosoewirjo tanpa nisan, hanya sebuah batu terlihat dari kuburan itu. Sebagai tanda juga, kuburan itu terletak di dekat sebuah pohon.

Usai penguburan, regu tembak TNI juga melakukan ‘pembersihan’. Tiang eksekusi yang berlubang bekas peluru pun dibakar. Di dalam rangkaian foto itu terdapat pembakaran tiang dan alat-alat yang dipakai untuk melakukan eksekusi mati pada Kartosoewirjo.

*)Detik 5 September 2012


1 Comment

petrik jaka - 06. Sep, 2012 -

apaun yang terjadi dimasa lalu itulah sejarah perjalanan bangsa kita. TNI melaksanakan tugas negara sebagaimana cerita diatas.
sejarah itu sebaiknya diambil pelajaran yang terbaik untuk kemajuan bangsa kedepan, bukan untuk tujuan lain yang dapat menimbulkan permasalahan baru. bukan pula untuk kepentingan politik.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan