-->

Kronik Toggle

Buku Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Pakualaman

Kadipaten Puro Pakualaman akan meluncurkan masterpiece berupa buku ‘Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman’ karya KBPH Prabu Suryodilogo atau Drs RM Wijoseno Hario Bimo. Peluncuran akan dilaksanakan pada 11 September mendatang di Bangsal Sewatama Puro Pakualaman.

Pengurus perpustakaan Puro Pakualaman, Dra Sri Ratna Sakti Mulya, M.Hum menuturkan, buku Asthabrata ini merupakan bagian dari masterpiece naskah Pakualaman Sestrodisuhul yang memuat kisah nabi, kisah raja-raja di Jawa, kisah para wali dan pandawa lima. Teks dalam Asthabrata tersebut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan karya naskah di kraton-kraton lain.

“Teks asthabrata minimal terdiri dari 14 teks yang berbeda dengan naskah pada umumnya di kraton-kraton lain. Keistimewaan dari karya naskah di Pakualaman yakni karya naskahnya kaya dengan ilminasi,” ujarnya di Parangkarso komplek Puro Pakualaman, Kamis (6/9).

Dalam naskah di perpustakaan puro Pakualaman, sebagian besar berisi mengenai cerita dan nasihat-nasihat untuk orang dewasa serta nasihat untuk anak-anak yang digambarkan dengan kisah dongeng binatang. Saat ini terdapat sekitar 251 naskah yang disimpan di perpustakaan Pakualaman.

Dosen Sastra Indonesia FIB UGM, Sudibyo, M.Hum menjelaskan, buku Asthabrata bercerita tentang ajaran watak kepemimpinan yang patut menjadi refleksi untuk kehidupan masa kini. Meski digambarkan dengan karakter dewa, namun ajarannya relevan untuk diterapkan saat ini dan bisa menjadi idealisasi siapapun.

“Buku Asthabrata ini menampilkan sosok Bathara Wisnu yang memiliki watak kepemimpinan yang pemurah, pengasih, seorang penegak hukum, pertapa dan sosok yang asketis. Ajaran inilah yang coba dilukiskan kembali oleh Prabu Suryodilogo untuk pembelajaran generasi kedepan,” katanya.

Ditambahkan, selain menjadi ajaran bagi seluruh kerabat Pakualaman, peluncuran buku Asthabrata ini juga diharapkan dapat memberikan akses luas kepada masyarakat untuk ikut mempelajari. “Ini supaya apa yang telah dinaskahkan bisa diaktualisasikan dan masyarakat bisa mempelajari ajaran kepemimpinan masa lalu,” imbuhnya. (Aie)

*) KR, 6 September 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan