-->

Resensi Toggle

Aku Marxis? Tidak! Aku Anak Kebudayaan Massa

Oleh: Muhidin M Dahlan

Aku Gitanyali. Ayahku komunis. Di depan rumah terpancang papan besar bertuliskan “Comite Seksi Partai Komunis Indonesia”.

Novel dwilogi Blues Merbabu dan 65 ini, seperti paragraf di atas, berkisah tentang anak tokoh teras PKI di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.


Gitanyali—nama samaran—seperti ribuan anak-anak penggiat PKI atau mereka yang (hanya) dituduh—adalah narasi sejarah yang menyedihkan dalam sejarah keluarga Indonesia.

Jurnal Prisma misalnya, pada 1979 pernah menggelar sayembara menulis Pola Asuhan Anak Indonesia. Hasilnya, cerita Hersri Setiawan menjadi pemenang dari seratusan cerita yang masuk.

Cerita Hersri berjudul “Dua Wajah dalam satu Haribaan: Warna-warna Pendewasaan di Pulau Buru” (Prisma No 10, Oktober 1979, hlm 15-34) itu mengisahkan pengalaman menjadi anak-anak PKI yang tiba-tiba jatuh jadi warga dengan kasta paria. Tak boleh jadi apa pun. Ya, apa pun yang terkait dengan pengabdian kepada negara dan bangsa. Tak peduli secerdas apa kepalanya dan secekatan apa tangannya bekerja.


Namun, kisah mahaduka macam itu tak kita dapatkan dalam dwilogi ini.

Gitanyali menyingkirkan semua narasi yang meminta “belas kasihan” pembaca kepada korban, walau anak Sutanto Singayuda ini kerap ciut di lingkungan sosialnya dikata-katai: “Anak PKI. Haram jadah.” (BM, h 58)

Gitanyali memilih narasi lain, sebuah petualangan fantasi seks yang sudah ia pupuk di rumahnya saat SD di sebuah kota yang berjulukan “de Schoonste Stad van Midden Java”. Sebuah kota yang namanya (di)rahasia(kan) Gitanyali.

Tapi nyaris bisa dipastikan kota yang dimaksud adalah Salatiga, Jawa Tengah, dengan penanda yang disebar pengarangnya di sekujur halaman novel: Tamansari, Tugu Beatrix, permandian Sanjaya, Bisokop Rex, dan tentu saja Gunung Merbabu.

Alih-alih berkisah tentang drumben yang bergemuruh, baris berbaris IPPI dan Pemuda Rakjat di jalanan Ganefo yang senyap, pendirian Taman Kanak-Kanak Melati yang dibawahi Gerwani, rapat-rapat PKI; Gitanyali, si anak PKI, di bab-bab awal sudah menggoda dengan kalimat “menantang”: “Dan aku pengintip perempuan nomor satu di kampung. Ada beberapa mbak yang jadi favoritku. Lekuk tubuhnya kukenal benar. Sampai ketebalan rambut itunya.” (BM, h 14)

Rangkaian petualangan seks itu disebar sedemikian rupa yang mengingatkan pada karya dengan tema serupa yang digarap Fredy S. Penulis misterius yang mengeksploitasi habis-habisan tema seks ini pernah mengeluarkan heksalogi bertema seks dan politik dengan latar pergolakan politik PKI 1965: #1 Bercinta dalam Gelap, #2 Politik Bercinta, #3 Budak Kehormatan, #4 Penghias Kepalsuan, #5 Belenggu Dosa, dan #6 Badai Telah Reda.

Fredy S menabalkan nokhtah di novel 2000-an halaman itu bahwa semua kedurjanaan seks dan perselingkuhan itu dikerjakan oleh PKI dan semua organ yang sealiran dengannya. Gitanyali, setengah melek, seakan membenarkan semua tesis Fredy itu. Lihat ulasan buku Fredy S di sini

Bacalah fantasi Gitanyali saat tidur sekamar dengan guru TK Melati (Gerwani), Mbak Kadar, di rumah orangtuanya: Dengan agak gemetaran tanganku bergerak, menyusup belahan blousenya. Mbak Kadar tetap diam. Mungkin ia benar-benar tidur. Kuusap payudaranya. Halus sekali. Agak ke bawah. Tersentuh putingnya. Keras. Kuremas susunya. Mendadak tubuhku mengejang. Sumbernya di penisku. Ada yang hendak mendesak keluar.

Seperti mau pipis. Paha Mbak Kadar kuraba. Aku takut pipis yang aneh ini menembus celana membasahi pahanya. (BM, 33-34)

Tuduhan Fredy S bahwa orang-orang komunis maniak seks, kasar, kriminil, seakan mendapatkan pembenaran dari novel yang ditulis anak “tokoh teras” PKI di kota yang pernah disinggahi penyair Arthur Rimbaud ini.


Aku meloncat masuk dan menutup kembali jendela. Mbak Tutik menahan senyum. Ia memakai daster. Aduh… Tak ada beha maupun celana dalam di balik dasternya. (BM, 159)

Jangan membayangkan Gitanyali pembaca doktrin Marx dan Lenin. Asupan bacaannya komik-komik, bacaan porno stensilan, dan bioskop menjadi rumah ibadahnya. Nyaris tak tersisa dari diri Gitanyali sebagai anak “tokoh teras” PKI yang kata orang kampung: lurus, jujur, pemberani, dan punya dignity.

Alih-alih, Gitanyali justru menggambarkan dirinya sebagai anak kebudayaan massa. Politics no! It’s only rock ‘n’ roll. Ia dengan sadar menempuh jalan Suloyo; istilah dalam bahasa jawa tentang sikap perlawanan yang pasif, tidak frontal, untuk mencari selamat. (65, hlm 141)

Sikap suloyo itu pula yang membuatnya enteng menggambarkan siapa dirinya: Ketika kanak-kanak aku tidur dengan perempuan berusia sekitar 30 tahun. Ketika usia belasan, aku bercinta dengan perempuan berusia 30 tahun. Ketika umur 20-an aku bercinta dengan perempuan usia 30 tahun.

“Ketika umur 30-an aku bercinta dengan perempuan 30 tahun. Ketika umur 40-an lagi-lagi aku bercinta dengan perempuan 30 tahun.” (BM, 170)


Dugaan saya, perayaan kebebasan tanpa batas yang diperlihatkan Gitanyali ini bisa jadi cara lari dari trauma panjang “Pola Asuh Keluarga Indonesia” yang dirusak binasa sebuah rezim despot.


Itulah sebabnya novel ini—jika sebuah memoar—berbeda perangai sepenuh-penuhnya dengan memoar anak-anak PKI lainnya, sebut saja Ribka Tjiptaning Proletariati (2002), Ibarruri Putri Alam (2006), dan Tantiana Lukman (2008).

Dwilogi Blues Merbabu dan 65 adalah novel pop ala Fredy S terbitan KPG ini saya kira sukses “merendahkan” komunisme: “Di bawah kapitalisme, orang mengeksploitasi orang. Komunisme, tinggal di balik saja…” (BM, 172)

Blues Merbabu
Penulis: Gitanyali
Cetak: Februari 2011
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 185 hlm


65

Penulis: Gitanyali
Cetak: Mei 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 204 hlm

*)JawaPos, 2 Agustus 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan