-->

Penerbit Toggle

Yayasan Pantau

Yayasan Pantau adalah sebuah lembaga yang bertujuan memperbarui jurnalisme di Indonesia. Nama “Pantau” berasal dari sebuah majalah yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada tahun 1999. ISAI dan Article XIX, sebuah organisasi kebebasan media dari London, bersama-sama memantau televisi dan menerbitkan penelitiannya lewat “newsletter” Pantau.

Pada akhir 2000, muncul pemikiran untuk membuatnya lebih populer, tak hanya mengandalkan analisis isi. Maka Maret 2001 Pantau diubah jadi majalah bulanan. Partnership for Governance Reform in Indonesia dan Ford Foundation membantu pendanaan. Tujuannya, menjadikan Pantau sebagai majalah bulanan dengan liputan mendalam soal media dan jurnalisme. Beberapa perusahaan dan organisasi memberikan sumbangan sehingga total dana Pantau terpakai sekitar $350,000 dalam dua tahun (termasuk investasi awal).

Pantau terbit rutin tiap Senin pertama. Tiap bulan dicetak 3,000 eksemplar dan sirkulasi terjualnya naik hingga mencapai 2,500 pada Februari 2003. Menurut survei Business Digest pada Oktober 2002, sebuah majalah Pantau rata-rata dibaca enam orang dan 62 persen pembaca Pantau adalah wartawan (media cetak disusul wartawan televisi). Sisanya politisi, akademisi, orang public relation, dan mahasiswa.

Ali Alatas, mantan menteri luar negeri Indonesia, termasuk pelanggan Pantau dan menyukai majalah ini. Liem Sioe Liong dari organisasi hak asasi manusia Tapol London menyebut majalah ini sebagai “majalah terbaik di Indonesia.” Muchtar Buchori, seorang legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan kolumnis Jakarta Post, menyebutnya “majalah investigasi.”

Pantau terbit dengan laporan-laporan panjang baik soal media, Aceh, terorisme, dan lain-lain. Isinya, sekitar 60 persen soal media dan 40 persen non-media. Pantau jadi fenomena baru dalam jurnalisme Indonesia karena pertama kalinya media Indonesia diliput media lain dengan standar wajar – tanpa standar ganda karena khawatir saling mengganggu sesama wartawan. Pada 10 Februari 2003, ISAI mengambil keputusan menutup Pantau. Manajemen ISAI berpendapat majalah macam ini tak viable ketika ISAI juga lagi menghadapi kesulitan finansial.

Sekitar 100 kontributor Pantau merasa misi mereka meningkatkan mutu jurnalisme Indonesia dan melayani publik lewat informasi-informasi yang independen dan bermutu, jadi terputus. Mereka menilai majalah ini harus diterbitkan lagi karena di Indonesia tak ada media yang menyajikan informasi dengan bercerita atau “story telling” macam The New Yorker atau The Atlantic Monthly. Riset dalam, referensi banyak, dan enak dibaca.

Manajemen ISAI mendukung dan bersedia memberikan copy rights majalah Pantau kepada Yayasan Pantau. Desember 2003, majalah Pantau kembali menemui pembaca dengan desain baru, dan isu lebih luas: politik-cum-kebudayaan. Kesulitan keuangan, ditambah pengelolaan bisnis yang runyam, lagi-lagi menghantui Pantau sehingga majalah ini kembali berhenti terbit pada Maret 2004.

Tidak hanya sebatas menerbitkan majalah, bagi Yayasan Pantau banyak cara untuk menunjukkan sikap perduli terhadap jurnalisme di Indonesia. Kini Yayasan Pantau berkosentrasi penuh pada pelatihan-pelatihan wartawan dan diskusi terbatas, selain menerbitkan buku dan melakukan kerjasama, baik secara internasional maupun nasional.

Kerjasama internasional yang sudah dikerjakan dan dirintis Yayasan Pantau adalah dengan Bill Kovach, wartawan terkemuka dunia, ketua Committee of Concerned Journalist dan kurator Nieman Foundation, Harvard University. Di bawah pengorganisasian Yayasan Pantau, Kovach pada Desember 2003 lalu berdiskusi di sejumlah kota di Indonesia, sambil meluncurkan bukunya The Elements of Journalism, yang diterbitkan Yayasan Pantau dalam bahasa Indonesia. Kemudian, pada Desember 2004, Yayasan Pantau menggandeng Michael Cowan, pengajar pada Columbia Graduate School of Journalism, New York, yang juga produser acara “Today” NBC.

Kerjasama internasional lain adalah dengan penulis buku Covering Globalization, Anya Schiffrin dari Initiative of Policy Dialogue, sebuah lembaga nirlaba yang dikembangkan penerima Nobel Joseph E. Stiglitz. Beberapa nama lain adalah Mila Rosenthal dari Columbia University dan Kevin Cassidy dan Carmen dari ILO, Noriel dan Agatha Schmaedick dari the Worker’s Right’s Consortium.

Mei 2005, Yayasan Pantau jadi institusi resmi yang menjalankan program The East-West Center Jefferson Fellowships di Asia Pasifik. Program ini telah berlangsung selama 38 tahun di berbagai negara, yang menghimpun sedikitnya 400 jurnalis negara-negara maju, dengan mata acara mulai seminar hingga studi lapangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

*) http://asopian.blogspot.com, 1 Januari 2005

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan