-->

Kronik Toggle

Warga Ciamis Minim Minat Baca

CIAMIS – Dari 1,7 juta penduduk Kabupaten Ciamis, hanya sekitar 5 persen hingga 10 persen yang secara rutin membaca. Minimnya minat baca warga Ciamis akibat rendahnya kesadaran untuk membaca di kalangan masyarakat Tatar Galuh tersebut.

Soal minimnya minat baca warga Ciamis dikatakan Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Ciamis, Drs Endang Sutresna, pada acara sosialisasi minat baca di hadapan para pengasuh pondok pesantren se wilayah eks kewedanaan Ciamis di Gedung Puspita Ciamis, Selasa (10/7/2012).

“Dampaknya lebih jauh, yakni rendahnya kualitas sumber daya manusia warga Ciamis. Dengan sumber daya yang lemah, Ciamis kurang mampu bersaing dengan daerah tetangga. Misalnya dalam mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera dan berpendidikan,” ujar Endang.

Guna meningkatkan minat baca masyarakat Ciamis, kata Endang, pada tahun anggaran 2012/2013, pihak Perpustakaan dan Arsip Ciamis menargetkan pendirian perpustakaan dan ruang baca di 2.500 lokasi. Ribuan perpustakaan dan ruang baca ini diperuntukkan buat 1.000 kelompok tani yang menyebar di 36 kecamatan, 648 pondok pesantren, 353 desa 7 kelurahan, 51 puskesmas, perkantoran  dinas hingga LP (Penjara).

Program pembuatan ribuan perpustakaan dan ruang baca itu, kata Endang, dibiayai APBD Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Di tiap desa nanti minimal ada tiga ruang baca umum yakni di kelompok tani, pondok pesantren, dan balai desa. Koleksi bukunya yang bisa dibaca untuk semua umur dan intinya untuk meningkatkan pengetahuan mayarakat,” kata Endang.

Meski sarana ruang baca sudah lengkap dan koleksi bukunya mencukupi, menurut Endang, tidak akan ada artinya bila kesadaran untuk membaca warga belum muncul. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ujar Endang, di tiap desa perlu ada kader-kader yang menggugah kesadaran masyarakat untuk gemar membaca guna menambah pengetahuan.

“Yakni kader yang mengajak masyarakat untuk memilih membaca dari pada ngarumpi (ngobrol) atau ngahuleng (nongkrong). Tibatan ngahuleng mending maca (daripada nongkrong lebih baik membaca),” ingat Endang.

*)Tribunnews, 11 Juli 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan