-->

Resensi Toggle

SINOPSIS FILM BUKU| Miss Potter

Setiap buku memiliki jodohnya. Penerbit bisa saja meragukan akan nasib nilai jual sebuah buku. Pembacaan mereka terhadap selera pasar memberi kuasa atas ketersediaan bacaan. Tapi pembaca punya seleranya sendiri. Dan prediksi penerbit tak selalu mampu menjangkaunya.

Nasib buku anak-anak bergambar yang ditulis Beatrix Potter membuktikan itu. Penerbit Warne Brothers menggangap karyaa Beatrix sebagai sebuah kekonyolan. Pasar tak akan menerima, dan buku itu akan gagal. Mereka menerima blue print buku konyol itu semata karena mereka harus memberi proyek untuk dikerjakan adik terkecil di perusahaan keluarga itu, Norman Warne.

Sebagai orang yang tak pernah berurusan dengan buku sebelumnya, Norman tak lantas memandang proyek buku Beatrix sebagai hinaan melainkan tantangan. Ia ingin membuktikan bahwa kakak-kakaknya telah salah memberikan penilaian. Norman mengagumi karya Beatrix. Baginya, karya itu unik, indah, dan penuh sentuhan artistik yang personal. Penghormatan seorang Norman atas karyanya adalah kebanggaan dan kegembiraan tersendiri bagi Beatrix. Maka ia pun mantap untuk meneruskan proyek dengan kerjasama saling mendukung dengan Norman.

Meski hanya Norman yang percaya pada karyanya-bahkan ibunya pun meragukan- ia tak berkecil hati. Dengan semangat ia mengunjungi percetakan Norman. Ia menentukan sendiri kualitas cetakan hingga didapati warrna yang tepat. Ukuran buku, harga buku, tampilan sampul, ia pula ikut menentukan. Norman manut saja dengan saran Beatrix. Sesekali ia memberikan usulan mengenai ukuran buku dengan pertimbangan penghematan kertas dan biaya cetak. Norman dan Beatrix pun menjalani persekutuan dalam buku dengan keyakinan penuh akan nasibnya. Mereka tahu buku itu memiliki pembeda. Meski mereka belum tahu apakah pasar akan menerimanya.

Dan ‘bayi’ mereka pun lahir. Buku mungil bersampul coklat itu terpajang di hampir semua toko. Penjualannya meledak melebihi harapan mereka sebelumnya. Anak ruhani itu telah menemukan jodohnya. Beatrix dan Norman sangat bangga dengan hasil pertama itu. Teman-teman orang tua Beatrix membincangkannya. Ayahnya pun bangga atas karyanya. Hanya ibunya yang terus meragukan dan keras hati berkeyakinan bahwa anaknya akan gagal.

Menurut ibu Beatrix, menjadi penulis tak akan menaikkan derajat kebangsawanan. Hanya akan jadi kerja yang sia-sia. Seperti umumnya seniman. Ibunya menganggap Beatrix bukan seniman berbakat besar. Beatrix seorang perempuan. Mestinya ia menikahi saja lelaki berharta. Tak perlu mengurung diri menggambar di kamar, tak punya teman, dan terus melajang.

Tapi bagi Beatrix, menggambar dan menulis cerita tak ada hubungannya dengan keputusannya menunda perkawinan. Ia hanya tak ingin menikah hanya karena alasan bahwa laki-laki itu layak. Ia ingin menikah karena memang hatinya menuntun. Menikahi laki-laki yang menghormatinya, menghargai bakat dan kemampuannya. Bukan sekedar melihat perempuan sebagai pajangan rumah.

Beatrix sudah menulis buku anak-anak dengan bakat yang tumbuh sedari ia belia. Kecintaanya pada seni lukis menitis dari ayahnya yang meninggalkan seni dan memilih jadi pengacara. Sejak kecil Beatrix telah mahir bercerita. Sebelum tidur ia selalu mendongeng untuk adiknya. Cerita yang ia karang sendiri. Umumnya tentang dunia binatang. Hewan-hewan itu berbicara, punya nama, dan menyimpan cerita seperti manusia. Tokoh binatang dalam cerita itu seakan hidup dan menjadi sahabat Beatrix. Mereka yang menemaninya hingga ia tumbuh dewasa.

Kawan-kawan imajinasinya itulah yang menjadi saksi ketika ia pun mulai jatuh hati pada Norman. Pada pesta natal, ia hadiahkan sebuah lukisan untuk buku barunya pada Norman. Mereka pun bersepakat menikah. Namun kehendak itu terhalang keras kepala ibu Beatrix yang melarang anaknya menikah dengan pedagang tanpa alasan jelas. Padahal keluarga moyang Beatrix juga berasal dari pedagang. Mereka pun harus kompromi dengan pernikahan yang disembunyikan. Malang, Norman harus pergi meninggalkan dunia sebelumpernikahan itu berlangsung.

Dalam kehancuran perasaan dan terputusnya harapan, Beatrix menjumpai sahabat imajinasinya. Ia berusaha menggambar dan menulis lagi. Namun ia gagal. Beruntung Milli-satu-satunya sahabat yang ia punya setelah bukunyaterbit- adik Norman menguatkannya kembali. Beatrix kembali berkarya. Namun ibunya terus mengutuki apa yang ia lakukan.

Maka Beatrix lantas berniat menyendiri dan keluar dari rumah. Ia pergi ke penerbit untuk menanyakan apakah honornya cukup untuk membeli sebuah rumah kecil. Terkejut dan bahagia Beatrix karena ternyata penerbit memberitahunya bahwa hasil karyanya akan mampu membelikannya sebuah rumah mewah dan hidup berkecukupan sepanjang sisa hidupnya.

Maka ia pun membeli lahan pertanian di sebuah pegunungan. Disana ia beternak dan bertani. Pertemuannya dengan sahabat lama membawanya pada kesadaran bahwa daerah disekitarnya terancam akan dibeli investor untuk perumahan mewah. Lahan pertanian nan eksotik disana terancam. Beatrix dengan berani akhirnya memutuskan untuk membeli lahan pertanian dalam lelang. Sekali membeli ia ketagihan. Namun ia sungguh puas dan bahagia. Lahan yang ia beli terus dipertahankan sebagai konservasi alam. Hingga akhir hayatnya, area itu menjadi taman nasional.

Beatrix telah membuktikan bahwa bakat dan ketekunannya menjalani dunianya mampu memberikan hasil. Sebagai seorang perempuan ia tak harus bergantung pada laki-laki. Pernikahan berdasar harta ia hindari karena ia tak mau menjadi perempuan tak berdaya di mata laki-laki. Dengan buku ia telah buktikan bahwa perempuan juga bisa berdaya. Meninggalkan sesuatu yang akan dikenang pun bila ia tak lagi ada di dunia. Buku membuatnya abadi.

Judul                : Miss Potter

Sutradara          :  Chris Noonan

Penulis             : Richard Maltby, Jr.

Pemain             :Renée Zellweger, Ewan McGregor,Emily Watson,Bill Paterson,Barbara Flynn

Produksi           : December 2006 (2006-12-03)

Durasi               : 92 menit

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan