-->

Literasi dari Sewon Toggle

Obrolan Senja: Draft Tesis "Axis Evil Comedy Tour"

Disampaikan pada Ahad 8 Juli 2012, di Obrolan Senja, Indonesia Buku kerja sama dengan Jojoncenter. Draf naskah yang dibahas ini adalah tesis Sakdiyah Ma’ruf di American Studies, Universitas Gadjah Mada (UGM)

Pengantar Diskusi: Axis of Evil Comedy Tour, Performing Marginality 9/11 Amerika

Oleh Sakdiyah Ma’ruf

EvilAmerika adalah negara yang disebut oleh Roger Rosenblatt, seorang kolumnis majalah TIME sebagai negara dimana detachment (ketidak pedulian) dan personal whimsy (keinginan-keinginan pribadi) menjadi syarat hidup yang keren. Ironi kemudian ditempatkan sebagai pahlawan masyarakat semacam ini. Masyarakat merujuk pada komedian (comics, ironists, satirists) bukan pada kenyataan. Tak ada lagi topik yang serius, semua bisa saja ditanggapi sinis atau dijadikan bahan bercanda. Bahkan kematian pun tak lagi dianggap nyata dan serius, lanjut Rosenblatt sambil mengutip kalimat terkenal dari film box office The Sixth Sense, “I see dead people.”

Pada tanggal 24 September 2001, beberapa hari setelah serangan 11 September, Rosenblatt mengajukan thesisnya yang kemudian banyak dibantah, tentang “the end of the age of irony.”  “You are looking for something to be taken seriously? Begin with evil,” demikian Rosenblatt memulai argumennya.  Trauma mendalam masyarakat Amerika menurut Rosenblatt akan mengakhiri segala macam produk olok-olok yang menbanjiri media.

Kenyataannya tentu tidak demikian, ketika trauma dimanfaatkan pemerintah (baca: kelompok neo-konservatif) untuk menancapkan hegemoni benar-salah (prophetic dualism) dalam rangka membenarkan segala tindakan (diantaranya UU Patriot Act di dalam negeri dan invasi ke Irak dan menuding segala bentuk kritik sebagai sikap tak patriotis/anti nasionalisme maka ironi menemukan kembali relevansinya. Komedi tak lagi menjadi hiburan semata tetapi menjadi alat untuk “speak truth to power.”

Pada konteks ini menjadi amat penting untuk membahas komedi oleh kelompok minoritas. Ketika komedi secara keseluruhan memang telah menemukan kembali posisinya sebagai counter discourse politik pasca 9/11 bagaimana dengan komedi kelompok minoritas?

Penelitian ini membahasnya dengan berfokus pada komedi yang dipentaskan oleh kelompok Arab American dan Muslim American yang secara politis merupakan “minoritas baru” di Amerika. Dalam konteks kampanye “us versus them”, Arab American dan Muslim American “secara otomatis” menjadi the other karena etnisitas dan agama mereka. Mereka tak perlu melakukan kritik terhadap pemerintah seperti yang dilakukan Michael Moore atau Howard Zinn misalnya.

Berbeda pula dengan Jewish American di masa Perang Dunia I dan African American di masa Revolusi tahun 60’an, Arab American dan Muslim American tidak dianggap warga negara kelas dua, mereka adalah representasi “asing” dan “musuh” Amerika. Sebagai yang diposisikan “asing” apalagi “musuh” mereka tak bisa mengelak menjadi korban pertama segala bentuk bigotry dan racism melalui kebijakan-kebijakan pemerintahan Bush pasca 9/11.

Pada masa sulit ini, Axis of Evil Comedy Tour muncul di garis depan perlawanan terhadap bigotry dan racism. Dengan materi-materi seputar “pelurusan” pandangan umum tentang Arab dan Muslim yang kebanyakan dibangun oleh citra media dan pemberitaan seputar perang Irak dan Afganistan, mereka mengajak warga Amerika berpikir ulang tentang Arab dan Muslim serta tentang siapa sebenarnya warga Amerika itu.

Apakah mereka berhasil bukanlah pertanyaan utama karena komedi tak menjamin dapat mengubah kebijakan atau bahkan meruntuhkan arogansi kekuasaan, kekuatan komedi terletak pada kemampuannya membuka ruang dialog, meluaskan wacana, memberikan alternative pandangan di tengah sempitnya perspektif moral dan politik Amerika pada masa pasca 9/11.

Bersandar pada pemikiran ini, penelitian saya yang berjudul Axis of Evil Comedy Tour: Performing Marginality in Post 9/11 America mengajukan 3 pertanyaan tentang apa materi/strategi Axis of Evil Comedy Tour? Mengapa materi-materi tersebut yang mendominasi dan apa fungsinya untuk membedah komedi dalam konteks Post 9/11 utamanya komedi yang ditampilkan oleh kelompok minoritas.*

1 Comment

bambang haryanto - 25. Jul, 2012 -

Roger Rosenblatt benar,ironi memang telah mati. Tetapi hanya sebentar. “Telah terjadi pergeseran seismik dalam lanskap budaya kita dan itu adalah matinya humor saat ini,” kenang redaktur blog Political Humor, Daniel Kurztman (8/9/2002)sesudah terjadi tragedi 911.

Tayangan acara larut malam pamer cakap komedi di televisi ditunda. Tabloid humor berpengaruh The Onion berhenti terbit. Klub-klub komedi tutup pintu. Bahkan di medan bebas media, Internet, menjadi zona tanpa lawakan. Amerika sedang tidak memiliki selera untuk tertawa.

Periset humor yang profesor bahasa Inggris dari Boston College, Paul Lewis, mencatat perbedaan signifikan mengapa tidak muncul lawakan terkait peristiwa 11 September itu. Misalnya, dibandingkan saat terjadinya tragedi meledaknya pesawat ulang alik Challenger tahun 1986.

“Tidak adanya derajat keterpisahan antara korban 11 September dengan warga lainnya dalam lingkup kebudayaan Amerika,” tandasnya.

Presiden George W. Bush lalu ibarat menikmati durian runtuh. “Popularitasnya menjadi menanjak karena kita tidak melucukan para korban tersebut.”

Tetapi tidak lama. Setahun kemudian Bush sudah kembali jadi sasaran tembak lawakan. Koresponden acara “Daily Show” Mo Rocca menyebut, “lelucon tentang Bush sebelumnya tentang dirinya sebagai sosok kikuk, suka bicara ngaco dan dungu. Kini hadir lelucon Bush jenis baru, merujuk dirinya tetap sebagai seorang presiden yang populer.”

Merujuk ancang-ancang AS menyerang Irak saat itu komedian Jay Leno nyeletuk bahwa, “Saddam Hussein kini sedang berkeringat dingin menyaksikan hasil pengumpulan suara yang menunjukkan popularitas Bush mulai menurun lagi.”

*Petikan dari buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania, 2012) hal.63-64.

PS : Moga kelak tesisnya mBak Diyah ini bisa diterbitkan menjadi buku.Sukses selalu.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan