-->

Kronik Toggle

Mahasiswa AS Antusias Mempelajari Bahasa Indonesia

Oleh Ardi W.S.

Sejak Minggu (17/6), sebanyak 29 mahasiswa dari Amerika Serikat belajar bahasa Indonesia selama dua bulan di Universitas Negeri Malang. Mereka merupakan mahasiswa pilihan dari program Critical Language Scholarship yang diselenggarakan Pemerintah AS. CLS merupakan program beasiswa dari Pemerintah Amerika Serikat untuk mendanai pembelajaran bahasa yang dianggap kritis.

Amerika Serikat menganggap Indonesia memiliki penduduk banyak, tetapi warga AS yang bisa berbahasa Indonesia hanya sedikit. Oleh karena itu, bahasa Indonesia dianggap kritis dan diselenggarakanlah Critical Language Scholarship (CLS) ini. Tujuan CLS membuat mahasiswa peserta program ini mampu berbahasa Indonesia secara baik. Mereka yang terpilih ikut program CLS mulai dari mahasiswa program sarjana (S-1) hingga pascasarjana (S-3).

Panitia menilik kota Malang karena berudara sejuk dan label ”Kota Pendidikan” yang melekat padanya. Sementara pemilihan Universitas Negeri Malang (UM) karena universitas itu memiliki program Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) dan pakar bahasa Indonesia.

Program BIPA merupakan salah satu konsentrasi ilmu dari Jurusan Sastra Indonesia yang fokus untuk mewadahi mahasiswa asing belajar bahasa Indonesia. Para sarjana sastra Indonesia, khususnya BIPA UM, ada yang dikirim ke luar negeri untuk mengajarkan bahasa Indonesia.

Tahun 2012 ini ketiga kalinya UM dipercaya menjadi tempat penyelenggaraan CLS. Tahun pertama CLS diikuti 17 mahasiswa. Tahun kedua naik menjadi 25 mahasiswa. Para pengajar dibentuk menjadi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari empat-lima orang yang disesuaikan dengan keperluan masing-masing kelas. Ada tiga jenis kelas di CLS, yaitu pemula, menengah, dan mahir. Mahasiswa dikelompokkan sesuai kemampuan berbahasa Indonesia. Mahasiswa yang masih baru mengenal bahasa Indonesia ditempatkan di kelas pemula.

Tidak hanya belajar di kelas, para mahasiswa juga diberi kesempatan tur ke sejumlah tempat. Tur dilakukan setiap akhir pekan, antara lain, Wonosari Tour, Village and Islamic Boarding School, dan Gunung Bromo.

Sistem tutorial

Setiap mahasiswa CLS dibimbing dua tutor yang merupakan mahasiswa UM. Ada seleksi khusus oleh pihak BIPA untuk memperoleh tutor berkualitas. Hal yang paling diutamakan dalam seleksi ini, antara lain, motivasi awal, komitmen, dan loyalitas para tutor.

Tutor terpilih bertugas mengantar-jemput mahasiswa CLS dari rumah singgahnya ke kampus selama seminggu. Atau setidaknya sampai mahasiswa CLS hafal jalan pergi pulang rumah singgah ke kampus. Tutor juga bertugas memberi info mengenai akses dan petunjuk kepada peserta CLS dalam memenuhi kebutuhannya. Contohnya, jika ada mahasiswa yang ingin ke pasar, tutor harus menunjukkan pasar terdekat dan akses ke sana. Lebih baik lagi jika tutor juga menemani mahasiswa mencari kebutuhannya seperti ke pasar sembari praktik berbahasa Indonesia.

Beberapa tutor mengaku menemui tantangan berbeda dalam menghadapi setiap mahasiswa. ”Jika menghadapi mahasiswa pemula dalam berbahasa Indonesia, tantanganya adalah harus sabar mengajarkan kosakata bahasa Indonesia secara intensif,” ungkap Wisnu Bramantyo, tutor yang menangani mahasiswa pemula.

Para tutor harus memberi contoh pelafalan ejaan b, p, d, t, k, g, dan r. Huruf-huruf tersebut paling sulit diucapkan peserta CLS yang baru mengenal bahasa Indonesia.

Sementara tutor mahasiswa berkelas mahir tidak perlu mengajarkan pengucapan dan kosakata dasar. Namun, mereka harus siap menghadapi pertanyaan kritis mahasiswa, khususnya terkait tata bahasa dan kebudayaan Indonesia. ”Mahasiswa yang saya tangani sudah pintar berbahasa Indonesia dan sedang mengambil program S-3. Pertanyaan dia kadang-kadang sangat rumit,” kata Maulana, tutor mahasiswa CLS kelas menengah.

Peserta CLS dari sejumlah universitas di AS itu tampak antusias belajar bahasa Indonesia. Dari AS ada sekitar 160 mahasiswa yang ikut seleksi program ini, tetapi hanya terpilih 29 orang. Penyelenggara program mengutamakan komitmen mereka menggunakan bahasa Indonesia pada masa depan. Itu diungkapkan Garyk, mahasiswa dari North Carolina State University. ”Saat seleksi, saya menyatakan mau menggunakan bahasa Indonesia setelah program CLS ini. Nanti saya juga akan menjalin kerja sama di bidang lingkungan hidup dengan LSM Indonesia,” tuturnya.

Alasan peserta CLS mempelajari bahasa Indonesia beragam. Di antara mereka ada yang ingin mempelajari ekonomi di Indonesia, meneliti kebersamaan dan pluralisme agama di negara kita, serta ada pula yang tertarik meneliti Muslim di Indonesia. Untuk keperluan itu mereka harus belajar bahasa Indonesia agar bisa mengenal dan berkomunikasi dengan para narasumber.

(Ardi Wina Saputra, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang; dan tutor program CLS 2012)

Sumber: Kompas, 17 Juli 2012, hlm 35

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan