-->

Lainnya Toggle

Valharald (Adi Toha): Pendapat Anggota Dewan Rama Prabu

Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku kali ini menghadirkan 2 orang Jaksa Penuntut. Rama Prabu (Direktur Dewantara Institute) dan Henry Nur cahyo (Penulis dari Surabaya). Berikut ini Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Novel yang dismapaikan oleh  Rama Prabu:

Valharald, dari awal judul ini bagi saya sulit untuk diucapkan, pun demikian mereka yang mendengar judul itu, saya buktikan beberapa kali ke beberapa orang yang berbeda, hasilnya sama. Entah tujuan apa penulis dan penerbit akhirnya bersepakat dengan penamaan judul itu, padahal hemat sahaya dengan memberikan judul “Ksatria Talismandala” akan lebih mudah diingat dan dilafalkan.

Novel ini oleh penulisnya dikategorikan pada novel genre fiksi fantasi, Adi Toha mengakui dalam blognya bahwa insfirasi novelnya berawal dari mimpi dilanjutkan dalam 10 bulan hingga lahirlah Valharald. Sayangnya emboss novel yang akan membuat pembacanya “gemetar” bagi saya novel ini tidak menggetarkan bahkan terbaca sangat menjemukan dan membosankan. Kenapa demikian? Ada beberapa catatan seperti:
• Banyak detail yang diulang-ulang seperti penunjukan perputaran antara hari-ke hari, siang ke malam atau sebaliknya yang disetiap bab terbaca sangat menjemukan, tidak hanya “fajar menjelma semburat jingga di cakrawala”, kenapa penulisnya tidak mengunakan perumpamaan dan matafora yang berbeda selain surutnya matahari dan suara-suara alam, penulisnya lupa ada rentang waktu dua purnama yang berarti 2 x 14 hari yang diberikan untuk mengumpulkan para ksatria. Saya tak dibuat gemetar dan gelisah dengan waktu yang sebentar itu. Karena penulisnya lebih asik menceritakan latar belakang, pertalian diantaranya dan lekuk-lekuk sebuah negeri yang bersaudara itu.
• Dialog dari beberapa ksatria yang berbeda usia dengan gaya bahasa yang mempersamakan cara bertutur sangat mengganggu, kenapa demikian karena yang dipakai dalam imajinasi penulisnya mereka tetap manusia bisa bahkan ada daripadanya yang berdarah “ningrat” tapi dengan cara berbicara diantara mereka yang tidak ada sekat yang menjadikan dialog ini “wagu” dan dari novel ini saya membaca mereka telah kehilangan tata krama dan sisi kesantunan seorang ksatria.
• Ketika Valharald Calwaladir, sosok tua penasehat Raja Hallvard Cledwyn mengemban tugas mengumpulkan ke sebelas pemegang kunci suci lainnya dan menyembunyikan kematian rajanya ini pun menjadi sumir, karena dalam tradisi kerajaan, sosok penasehat justru orang yang tidak banyak terlalu memainkan peran apalagi dalam soal operasi rahasia tingkat tinggi ini. Kemana para panglimanya? Kemana para ksatrianya? Bahkan menjatuhkan kemampuan ketiga putranya untuk menjadi ahli waris kerajaan Varchland walaupun diperkuat oleh keyakinan sang Raja, tapi ini menjadi bumerang pada diri Valharald sebagai penasehat selama ini, singkatnya kemana aja dia selama ini sehingga tidak kerajaan tidak menyiapkan calon pengganti raja apabila raja mangkat? Ini sebuah ketidakhati-hatian dalam mengambil detail.

Saya berpikir malah novel ini lebih asik kalau lanjutannya adalah Valharald lah yang ternyata berkhianat dan menginginkan kekuasaan kerajaan tersebut. Imajinasi itu malah lebih menarik menurut saya. Baca saja kesaksian sang Valharald ini “VachLand berada di ambang kehancuran karena ketiga pangeran ingin berebut kekuasaan dan kekuatan kegelapan dari seberang lautan sedang bersiap untuk menguasai negeri ini. Para penduduk negeri ini tidak mampu apa-apa dan mereka terlalu lama terlena dengan kedamaian. Mereka tidak akan mampu bertempur, hanya kita yang mampu menyadarkan mereka bahwa bahaya semakin dekat. Dan kita yang mampu melindungi dan menyelamatkan mereka”, kata-kata ini adalah ketidak bijakan seorang Valharald karena hingga ujung novel ini tak ada proses penyadaran kepada rakyat selain Valharald sibuk mempertemukan Ksatria di Vinca.

Dengan dalih menghidupkan legenda, dengan mengumpulkan keduabelas ksatria Talismandala, penulis menurut saya terlampau meninggalkan detail dan datar dalam membangun kedua belas karakter, satu yang jadi fatal adalah pertanyaan, mana mungkin ksatria yang dipersiapkan melawan musuh yang bangkit kekuatannya hanya terdiri dari anak-anak muda usia belasan dan tanpa kekuatan/kemampuan bela diri serta tak paham teori peperangan baik di darat maupun dilaut.

Baca saja ini “Ksatria Talismandala adalah impian semua prajurit. Ia adalah simbol keberanian, ketangguhan, dan kebijaksanaan dalam peperangan, ia adalah legenda yang mengilhami seluruh prajurit…” lha kenapa kedua belas ini malah mereka yang tanpa keterangan memiliki kemampuan adiluhing itu? Kecuali satu dua yang memang terdidik dilingkungan kerajaan. Penulisnya hanya percaya pada kalung/kunci segi tiga yang mereka bilang sakti itu, hal ini melumpuhkan sisi kemanusiaan yang dalam sebuah peperangan hal ini menjadi sebuah bualan besar. Maka kebualan besar itu memang terjadi dengan ditampilkannya seekor naga yang bisa menyemburkan api dan membantu melawan bangsa Vomorian yang ganas itu. Penulisnya malah menampilkan Eira yang menangis ketika hendak berpisah dengan ayahnya demi tugas suci itu? Tragis…!
• Sebagai sebuah kisah perjalanan menemukan ksatria untuk menggenapkan kunci, dari bab ke bab yang dipenuhi cerita pertemuan-demi pertemuan terbaca sangat datar dan tanpa menemukan banyak rintangan yang sulit, ini hanya seperti bermain petak umpet anak-anak kecil, tidak terasa seperti kita memasuki labirin yang rumit dalam pemecahannya. Pembaca akan dibuat bosan dengan penjelasan-penjelasan tentang manfaat dari kalung kunci rahasia itu, oba saja hitung penjelasan serupa ini: “ketika kedua belasnya telah menyatu maka satu rahasia besar akan terungkap.

Itulah yang akan menyelamatkan negeri inidari kehancuran”-“ senjata-senjata sakti dan peralatan perang suci mereka tersimpan di suatu tempat agar tidak terjadi peperangan lagi. Tempat ini sangat rahasia, tertutup rapat di dalam tanah dan dikunci dengan khusus yang tersusun dari dua belas bagian. Masing-masing Ksatria memegang setiap bagian kunci tersebut” tapi kenapa yang membagikan kalung itu pada generasi kedua hanya satu orang Ksatria? Ini tidak terjawab hingga akhir.
• Dari keseluruhan bab ini tak ada satu bab pun yang membaca kekuatan lawan, kekuatan yang datang dari balik lautan Zwehly di Vomoria dimana ada ribuan Chimera, Orcus dan Ogre yang tak diterangan bentuk rupanya. Nimrodir pun hanya bisa menjelaskan terbatas, tau-tau kita dibawa ke sebuah pertempuran yang tak jelas. Pertempuran yang tak imbang dan tak ada tanda-tanda bahwa kalung kunci itu akan segera dipergunakan, tak ada keterangan juga di buku ini bahwa ini bersambung dan akan ada kelanjutannya, selain keterangan moderator sidang yang menurut penulisnya akan ada lanjutannya. Sungguh novel ini diterbitkan dengan terburu-buru.
• Sampai saatnya tiba, kedua belas Ksatria di akhir novel ini mundur dan terus mundur terdesak walau sudah melakukan perlawanan, dan mereka hanya bisa jadi petugas pengurus laiknya petugas palang merah yang hanya bisa merawat korban-korban peperangan, kalau mau lebih gila kenapa penulisnya tidak sekalian saja memunculkan Ksatria yang hanya bisa menuliskan peperangan seperti wartawan di dunia sejatinya tanpa bisa memegang senjata.
• Tidak pernah dijelaskan pula hubungan antara kerajaan dan kesukuan yang sisebutkan dalam novel ini, bagaimana hubungan Raja Hallvard Cledwyn dengan Raja Haremon, bagaimana dengan Raja Asgeir ayah Einar penguasa Vincha sebagai basis pertempuran, bagaimana dengan pemimpin Beelk, bagaimana dengan suku Brynmor semua mengambang, apakah daerah-daerah itu dalam kekuasaan VachLan atau hanya hubungan diplomatik biasa saja?
• Bandingkan persiapan, kekuaatan dan kejelasan peperangan laut yang dilakukan di novel ini dengan peperangan laut di novel Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, jelas peperangan yang digambarkan ini terbaca bukan tujuan dan ujung cerita tapi sekadar pelengkap saja. Lantas buat apa ksatria dikumpulkan kalau bukan untuk peperangan? Atau mungkin harus datang ksatria seperti Wiranggaleng untuk memimpinnya bukan seorang si tua Valharald.
• Kata-kata/dialog yang sengaja dimiringkan apakah itu oleh penulisnya atau penerbit/editor bagi saya tak membawa makna apapun, seperti halnya quote yang bertaburan itu.
• Disayangkan, ujung ceritapun mengerucut pada kata-kata “masih banyak pertempuran yang akan mereka lewati. Sebisa mungkin mereka akan memenangkan setiap pertempuran, demi anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan semua orang yang dicintai dan mencintai mereka. Dan demi kehidupan itu sendiri” sesungguhnya ini simpulan atau kata-kata/ujar-ujar siapa? Atau ini tanda dari penulis bahwa buku ini akan bersambung. Sungguh membawa saya pada kebingungan tersendiri.
Kebaikannya, novel ini menyimpan beberapa pesan moral, pesan filosofis seperti “ Gaia adalah Sang Ibu Bumi, Ia lebih tahu perlakuan yang pantas dan terbaik untuk makhluknya”. Lalu “Ke mana pun kau pergi, di mana pun kau berada, jangan pernah melupakan tanah dimana tempatmu dilahirkan dan hidup diatasnya” ini mengingatkan kita pada sebuah peribahasa orang-orang Nusantara. Lalu dimana sesungguhnya fantasi ini menjejak?.

Ada lagi “ukuran kedewasaan tidak harus dilihat dari kekuatan fisik dan kepandaian bertarung-ukuran kedewasaan adalah apa yang ada dalam pikiran dan hatimu, apa yang ada dalam dirimu”. Iini keyakinan penulis dengan menghadirkan bocah-bocah ksatria untuk melawan makhluk raksasa, sebuah ironi dan penulisnya berkhayal pada dunia magic dan sihir secara terang-terangan, ini obsesi yang mungkin terbawa dari perlawanan Harry si bocah penyihir itu. Kata-kata “ hidup memang serangkaian pertaruangan. Setiap saat, setiap henbusan nafas yang kita lakukan, kita tengah bertarung dengan waktu” ini sangat indah dan menyemangati pembaca.

“Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada suatu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di suatu titik aitu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakian yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya”. “kebahagiaan sejati adalah saat kau memberi, bukan menerima. Maka berikan apa yang kau bisa untuk orang-orang meskipun kau tidak pernah mengenal orang-orang itu”. Dan ada juga kata-kata “jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh“.

Pesan-pesan itu amat penting dan pasti akan berguna bagi pembacanya. Kebaikan lainnya adalah kemampuan penulis untuk merangkai misteri hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, hubungan kekerabatan dan misteri yang melingkupinya membuat novel ini layak dibaca. Saya berharap, bila benar novel ini berlanjut kesalahan dan kekuarangan diatas dapat ditemukan jawabannya.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan