-->

Lainnya Toggle

Valharald (Adi Toha): Pandangan Anggota Dewan Henry Nur Cahyo

Berikut ini pandangan Anggota Sidang Dewan Buku Henry Nur Cahyo ihwal novel Valharald karya Adi Toha.

Valharald, Novel Tanpa Orgasme

Valharald Cadwaladir, Halvard Cledwyn, Halldor Cadfael, Chuchulain, Rezmar, Elkmar dan masih banyak lagi, adalah sebagian dari nama-nama yang menjadi tokoh dalam novel ini. Demikian juga nama-nama tempat: Negeri Varchland, Vincha, Bwifth, Slirkh, Goght dan sebagainya, disebut-sebut sebagai lokasi kejadiannya. Pertanyaannya, apakah ini sebuah novel terjemahan? Nama penulisnya, Adi Toha, menjelaskan bahwa ini memang sebuah karya imajiner, tak ada hubungan dengan negeri manapun. Apalah arti nama. Sepenuhnya hak prerogatif si penulis.

Pada awal-awalnya, memang agak gagap mengakrabi nama-nama yang sulit diucapkan itu. Tetapi jalinan kisah yang lancar menyeret pembaca dalam kisah petualangan yang mendebarkan. Ada rasa penasaran yang terus menerus diciptakan sehingga memaksa pembaca untuk tahu apa yang menjadi klimaksnya.

Inilah pancingan yang membuat penasaran itu: Sebuah negeri (Varchland) yang damai ratusan tahun, sedang mengalami ancaman kehancuran oleh serangan bangsa lain. Padahal, pada masa damai itu seluruh peralatan perang dan senjata-senjata rahasianya disimpan di sebuah ruang rahasia dan menyegelnya dengan kunci yang juga rahasia. Di dalam ruang rahasia itupun tersimpan sebuah mahkota, dimana siapapun yang bisa memakainya, maka dialah yang pantas menjadi raja. Ketika ancaman serangan semakin dekat, mau tak mau ruangan itu harus segera dibuka. Persoalannya, kunci rahasia itu sudah terpisah-pisah dan masing-masing bagiannya kadung disebar pada 12 orang yang tak kenal satu sama lain. Kesemua bagian itu harus disatukan kembali agar ruang rahasia bisa dibuka.

Cerita petualanganpun dimulai dari tokoh Valharald, salah satu pemegang (bagian) kunci berbentuk segitiga yang dibuat bandul kalung itu. Satu demi satu pemegang kunci yang lain akhirnya dapat dipertemukan melalui perjuangan yang berliku-liku, dramatis, mengharukan, diwarnai dengan berbagai kisah romantis bahkan pembunuhan. Mereka adalah para Ksatria Talismandala, yang menanggung beban moral untuk dapat menyelamatkan negeri. Tetapi, apakah yang kemudian terjadi?

Ketika bangsa asing itu datang menyerang, dan semua ksatria sudah berhasil dikumpulkan, ternyata tidak diceritakan sama sekali soal penyatuan bagian-bagian kunci itu. Tidak ada kisah bagaimana membuka ruang rahasia dan (apalagi) siapa yang kemudian berhak memakai mahkota raja yang ada di dalam ruang rahasia itu. Peperangan berlangsung sengit, pasukan mahluk aneh yang disebut Orcus dan Ogre itu berhasil mendesak tentara Varchland,  benteng berhasil diduduki pasukan ciptaan penyihir Zwehly dari Vomoria itu, sehingga pasukan Varchland mengungsi.

Lantas, bagaimana dengan senjata di ruang rahasia itu? Apa perlunya Kesatria Talismandala dikumpulkan kalau tidak untuk menyatukan kunci dan mengungkap (yang katanya) rahasia besar? Yang mengherankan, pada saat perang terjadi, tiba-tiba muncul ular raksasa berkepala serigala bertanduk yang dapat terbang dan menyemburkan bola-bola api. Mahluk bersayap lebar, besar dan kuat yang tak jelas asal usulnya itulah yang kemudian disebut sebagai “salah satu senjata terhebat Kesatria Talismandala”.

Tidak ada penjelasan, apa yang kemudian terjadi di negeri Vincha,  setelah diserang Orcus dan Ogre. Juga tak ada kelanjutan, apa yang kemudian dilakukan nenek pendongeng (Yweyna) yang penasaran menguntit pasukan Varchland sampai berhasil menembus negeri Vincha. Bukankah nenek itulah yang minta dibawakan (potongan) kepala Kesatria Talismandala yang sejati? (hal 344) Bagaimana dengan Ragnvald yang telah bersiap diri menyiapkan pasukan bala bantuan? Atau juga, bagaimana nasib jenazah Raja Halvard yang dibiarkan tanpa perlakuan apapun dalam kamar begitu saja? Sampai kapan jenazah itu tersimpan rapi? Tidak berbau? Apakah ketiga putranya akhirnya mengetahui? Dimana mereka?

Ada banyak hal yang tidak diceritakan kelanjutannya dan tidak ada penjelasan bagaimana kejadiannya. Kalau toh itu sebuah kesengajaan, ya memang sah-sah saja. Tetapi ada satu kejadian yang janggal, yaitu ketika Fionn d’Arthfael dkk menolong seorang gadis yang disekap dalam sebuah kereta berkuda. Ketika sais kereta itu berhasil dibunuh, Fionn dkk lantas melanjutkan perjalanan sampai ke benteng barat. Pertanyaannya, bagaimana dengan kereta dan kudanya? Apakah mereka berjalan kaki dan meninggalkannya begitu saja? (hal 154).  Sedikit kecerobohan juga, ketika Azhkara berbicara pada Owain perihal adiknya (Gwyneira), yang menjawab malah (tertulis) Gwyneira (seharusnya Owain). (hal 350).

Juga hal yang aneh, bahwa mahluk yang disebut Orcus dan Ogre itu masih membutuhkan tangga untuk memanjat benteng, dan mereka dapat terperosok dalam lubang berapi. (hal 373).  Padahal, mahluk-mahluk itu dapat terbang, memiliki sayap seperti kelelawar besar. Apalagi, mereka juga tenggelam di lautan ketika kapalnya bertabrakan. Bukankah mereka tinggal terbang saja ke kapal musuh? Mengapa masih membutuhkan jembatan papan? (hal 377) Atau, apakah Orcus dan Ogre itu memang berbeda dengan “mahkluk” misterius yang sebelumnya suka menteror negeri Varchland?

Katakanlah novel ini memang sengaja dibuat seperti itu, maka penulis berhasil menggiring rasa penasaran pembaca tanpa harus mencapai klimaks. Tanpa orgasme. Dengan catatan, yang lebih dipentingkan memang prosesnya. Seperti perjalanan mendaki gunung, perjalanan menembus hutan dan batuan terjal itu jauh lebih penting ketimbang puncaknya. Dan, mengapa harus selalu ada puncak? Novel ini, seperti pendaki yang harus turun lagi ketika mendekati puncak gunung, melalui jalan berbeda yang entah bagaimana ujudnya.

Sepertinya novel ini tidak (belum) selesai, itu kalau mengacu pada pengertian umum bahwa sebuah novel harus ada klimaksnya. Jadi, kalau boleh berpesan, jangan berharap pada klimaks dari novel ini, tetapi nikmatilah prosesnya. Dan kalau ternyata dalam proses itu sendiri ternyata merasa tidak mendapatkan apa-apa, ya jangan kecewa juga. Tetapi, siapa tahu bahwa penulis memang sengaja menulis novel yang “menggantung” seperti ini?

Atau, jangan-jangan ini hanyalah sebuah bagian pertama dari sebuah episode. Mungkin ada kelanjutannya lagi. Hak penulis memang membuatnya seperti itu. Dan juga hak pembaca untuk mengatakan bahwa ini memang sebuah novel yang gagal. Apa boleh buat.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan