-->

Tokoh Toggle

Muntamah:TKI Hongkong Bangun Rumah Baca di Kampung

Muntamah dan Sigit Susanto (Penulis buku Menyusuri Loronglorong Dunia) saat bertemu di Hongkong

Muntamah dan Sigit Susanto (Penulis buku Menyusuri Loronglorong Dunia) saat bertemu di Hongkong

Muntamah,warga Desa Cendono,Kecamatan Kandat,Kabupaten Kediri,Jawa Timur bisa jadi satu dari ribuan wanita yang begitu peduli terhadap pendidikan.Buktinya,cita-cita mulia dan tekad yang kuat itu bisa mengalahkan segalanya.

Terlahir dari keluarga miskin,dia memutuskan untuk mengadu nasib di Hong Kong sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).Dari negeri yang jauh itu,Mun–begitu dia biasa disapa–mendirikan rumah baca di kampungnya dengan harapan bisa membantu mencerdaskan warga. Begitulah Mun.Dia bukan guru,melainkan hanya pembantu rumah tangga dengan modal ijazah madrasah ibtidaiyah.

Tapi, perempuan berkerudung ini punya cita-cita luhur untuk membuat orang-orang sekampungnya pintar. Muntamah lahir di Kediri pada 18 Agustus 1977 dari pasangan Markatak dan Tumir (keduanya telah meninggal). Di usia 21 tahun,Mun tergiur pergi ke luar negeri untuk memperbaiki penghidupan keluarga.Desa Cendono memang bisa dikatakan sebagai kantong TKI.Dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi,Mun akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Yuen Long, Hong Kong.

“Sebenarnya saya malu.Saya sudah di sini (Hong Kong) selama 14 tahun,”ujar Mun kepada SINDO. Selama bekerja itu,Mun yang memang gemar membaca tak pernah kesulitan menyalurkan hobi tersebut.Majikannya sangat ramah dan penuh pengertian. Demi mendapatkan bukubuku baru,setiap bulan Mun menyisihkan gajinya. “Saya terus membeli buku.Malah kadang,uang untuk beli buku lebih besar dari uang jajan,” kata Mun tersenyum. Mun akhirnya punya ide untuk meminjamkan bukubukunya kepada orang-orang di kampung halamannya.

Akhirnya Mun memilih rumah orang tuanya yang saat itu sedang dikontrakkan.Demi mengabulkan cita-citanya membuat perpustakaan desa, Mun menolak memperpanjang kontrak dari penyewa. “Saya bilang kepada orangnya bahwa saya tidak bisa memperpanjang karena akan saya gunakan untuk perpustakaan,”ungkapnya. Punya lokasi untuk perpustakaan yang diidamkan bukan berarti Mun tak punya persoalan lain.

Kepalanya pun berputar,memikirkan siapa yang bisa dipercaya mengelola perpustakaan tersebut. Pilihan Mun jatuh kepada sahabatnya.“Akhirnya saya tawarkan kepada Khusnul. Saya bilang,dia boleh tinggal di rumah saya gratis,tapi tolong ditunggu perpustakaannya,”tuturnya. Setelah urusan tempat dan pengelolaan selesai,mulailah Mun mengirim buku-buku miliknya dari Hong Kong.

Namun, rak-rak buku yang disiapkan Khusnul rupanya lebih banyak dari buku yang dikirim Mun.Butuh lebih banyak buku untuk menarik minat para tetangga untuk datang. Akhirnya Mun merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi buku di perpustakaan yang belum bernama itu.Dia memesan buku melalui internet dan langsung dikirim ke Kediri. “Saya sudah tidak ingat,setiap beli sekitar Rp4-6 juta, mungkin belasan juta,” tandasnya.

Mengandalkan uang pribadi tentu membuat Mun juga keberatan menyokong biaya pembelian buku sendirian. Akhirnya dia meminta bantuan temantemannya sesama buruh migran dan teman Facebook untuk menjadi donatur.“Ada tujuh orang yang mau menyumbang, ya buku bekas, majalah bekas,semuanya boleh,”ungkapnya.

Upaya panjang yang dirintis Mun akhirnya menuai hasil. Awal Januari 2012 Mun berhasil mewujudkan mimpinya mendirikan rumah baca yang dinamainya “Pondok Maos Cendani”dengan koleksi sekitar 1.700 buku dan 400 majalah.Warga kampung menyebut rumah baca itu dengan “Perpuse Mun”atau perpustakaan milik Mun.

MUSLIKAH
Kediri

*)Seputar Indonesia, 7 Mei 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan