-->

Resensi Toggle

Skripsi Eni Wahyuni: Industri Fiksi Populer Pada Masa Orde Baru

Obrolan SenjaSkripsi ini pertama kali di diskusikan dalam forum Obrolan Senja untuk kemudian diujikan di depan Dewan Penguji Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada. Diskusi dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Mei 2012, pukul 15.30 – 18.00 di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3 Alun-alun Selatan, Keraton, Yogyakarta.

Sejak zaman Kolonial, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, Reformasi hingga saat ini, berbagai peristiwa sehubungan pelarangan buku terus terjadi. Pelarangan (atau pemberangusan) buku tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa saja, melainkan juga sekelompok masyarakat dengan berbagai dalih.

Berkenaan dengan bacaan-bacaan “liar”, politik perbukuan pemerintah Belanda membentuk Commissie Voor de Inlandsche School en Volkslentuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 14 September 1908. Komini ini bertugas untuk memilih buku-buku baik yang dapat menjadi bacaan bagi penduduk pribumi dan memberi pertimbangan kepada Direktur Pendidikan yang mengurus sekolah-sekolah pribumi. Pada tahun 1917, komisi ini berkembang menjadi lembaga otonom yang mengontrol pengumpulan naskah, percetakan, penerbitan, yang dianggap pemerintah bermutu. Lembaga ini kemudian dikenal dengan nama Balai Poestaka.

Pada periode Demokrasi Terpimpin, praktik pelarangan buku secara resmi muncul pertama pada akhir 1950-an seiring dengan semakin meningkatnya kekuasaan militer dalam politik di Indonesia. Penguasa militer mengeluarkan peraturan No PKM/001/9/1956 untuk mengontrol kebebasan berekspresi, terutama pemberitaan pers. Pelarangan kemudian semakin melerbar, sepanjang 1957, penguasa militer melarang tidak kurang dari 33 penerbitan dan menutup 3 kantor berita.

Pelarangan ini terus berlanjut hingga masa Orde Baru. Pada tahun 1989, Jaksa Agung dan lembaga-lembaga (militer) membentuk Clearing House yang berfungsi meneliti isi buku dan member rekomendasi kepada Jaksa Agung. Lembaga ini terus bergerak dan mengawasi peredaran buku meski masa kekuasaan OrdeBaru secara resmi telah tumbang dan tergantikan dengan periode Reformasi. [1]

Kondisi semacam ini, membuat berbagai pihak yang terlibat dalam perbukuan harus berhati-hati memilih tema agar aman dari ancaman penguasa. Hal ini tidak hanya berimbas pada penerbitannya, melainkan juga penulisnya. Banyak penulis yang dari masa ke masa diasingkan dan dipenjarakan karena tulisannya. Pada akhirnya, penulis dan penerbit (sebagai pelaku industri) bekerja sama dalam membungkus buku agar tidak terlihat sebagai ancaman negara. Tema-tema yang dibicarakan kemudian adalah tema-tema yang ringan, seperti tema cinta, petualangan, pergaulan remaja, silat dan lain sebagainya.

Peristiwa semacam inilah yang kemudian mengispirasi Eni Wahyuni untuk melakukan penelitian guna mencapai cita-citanya sebagai sarjana sastra.

Dari deskripsi panjangnya, Wahyuni membatasi penelitiannya pada 1) bagaimana hubungan karakter negara pada masa Orde Baru membentuk budaya popular, dan sebagai implikasinya, dalam perkembangan fiksi popular, dan 2) Bagaimana perkembangan fiksi populer menjadi komoditas industri pada masa Orde Baru.

Objek penelitiannya adalah buku Gema Sebuah Hati karya marga T, Lupus: Makhluk Manis dalam Bis Karya Hilman Hariwijaya, Balada Si Roy: Joe Karya Gol A. Gong. Ketiga karya tersebut merupakan karya fiksi terbitan PT. Gramedia dan industri penerbitan mandiri pengarang Kho Ping Hoo. Karya-karya tersebut dipilih karena mampu melewati sensor penguasa Orde Baru dan meledak di pasaran.

Sejak keruntuhan Orde Lama, bangsa ini menjadi penganut negara-negara kapitalis seiring dengan semakin berkuasanya Orde Baru. Sejak tahun 1970-an kapitalisme dan militerisme memberikan dampak besar terhadap keadaan sosial masyarakat. Dampak ini juga dirasakan oleh industri penerbitan buku yang harus menyesuaikan diri. Dengan cara demikian, industri perbukuan di Indonesia daoat berkembang meski pada akhirnya, karya fiksi di Indonesia pada masa itu di dominasi oleh fiksi popular dan menjadi salah satu komoditas industri.

Dari keseluruh bab pembahasan, dapat kesimpulan bahwa tegaknya kekuasaan Orde Baru tidak dapat dilepaskan dari kekuatan negara besar Blok Barat yang menganut paham kapitalisme sehingga kebijakan negara Orde Baru pun terintegrasi dalam sistem kapitalisme global. Kebudayaan populer yang lahir seiring dengan kapitalisme pun berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah fiksi populer. Fiksi populer telah menjadi salah satu komoditas industri untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Ada kecenderungan yang berbeda pada sistem kapitalisme di Indonesia. Negara masih dominan dalam kehidupan rakyatnya. Banyak kebijakan yang dikeluarkan dalam rangka mengontrol rakyat atau negara. Manajemen yang digunakan adalah manajemen militerisme.

Kontrol negara pun merambah ke berbagai bidang, termasuk karya sastra. Karya sastra dikontrol melalui sensor-sensor yang kriterianya tidak dikemukakan dengan jelas, hanya pihak negara saja yang tahu atau ditentukan kemudian setelah karya tersebut terbit. Sensor yang terkadang tidak terduga membuat para pekerja seni melakukan sensor diri. Mereka mencari jalan aman agar bisa dengan leluasa menyebarkan karyanya.

Salah satu yang tampak jelas melakukan sensor diri adalah penerbitan fiksi populer. PT. Gramedia memiliki standar sendiri untuk berhati-hati. Sensor diri ini bermula dari pemilihan cerita yang aman untuk diterbitkan. Agar karya tersebut laris di pasaran, PT. Gramedia terlebih dulu melihat selera pembaca dari media massa. Penerbitan Balada Si Roy dan Lupus misalnya. Karya-karya tersebut merupakan karya yang telah diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung pada sebuah majalah. Respon yang baik dari para pembaca menjadikan PT. Gramedia tertarik untuk menerbitkannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa fiksi populer telah menjadi komoditas untuk mendapatkan keuntungan. Fiksi populer adalah sesuatu yang diperdagangkan.

Untuk mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya, PT. Gramedia memiliki beberapa tema cerita untuk memenuhi selera pembaca yang berbeda-beda. Seperti tema percintaan untuk kaum perempuan disajikan oleh Marga T., tema petualangan untuk remaja laki-laki disajikan oleh Gol A. Gong, dan tema cerita kehidupan yang kocak bagi remaja, baik laki-laki maupun perempuan, disajikan oleh Hilman Hariwijaya.

PT. Gramedia memiliki toko buku sendiri untuk menyebarluaskan karya-karya terbitannya, yaitu melalui Toko Buku Gramedia. Akan tetapi, ada pula rekanan toko buku non-Gramedia dan agen di berbagai daerah di Indonesia untuk menyalurkan karya-karya tersebut.

Selain PT. Gramedia, terdapat pula penerbitan fiksi populer secara mandiri yang dilakukan oleh Kho Ping Hoo. Usaha penerbitan miliknya merupakan usaha yang lebih sederhana, namun berhasil mendapatkan pembaca yang sangat besar jumlahnya. Kho Ping Hoo tidak bergantung pada penerbit, ia dapat menentukan sendiri karya apa yang akan diterbitkannya dan berapa jumlahnya sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa fiksi populer berkembang karena pengaruh dari kebijakan negara, faktor ekonomi kapitalis, dan media massa. Kebijakan negara mempengaruhi tema cerita, faktor ekonomi kapitalis mempengaruhi kebijakan produksi dan distribusi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan media massa digunakan sebagai pemantau selera pasar juga sebagai sarana promosi.

[1] Lihat Pelarangan Buku di Indonesia oleh Tim Peneliti Pro2Media, September, 2010. Hal. 40-68.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………… ii
HALAMAN MOTO ………………………………………………………………………… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………………………… iv
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… v
INTISARI ………………………………………………………………………………………. ix
ABSTRACT……………………………………………………………………………………… x
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………. xi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………………………… 9
1.3 Tujuan Penelitiaan ……………………………………………………………………… 10
1.4 Tinjauan Pustaka ………………………………………………………………………. 10
1.5 Landasan Teori …………………………………………………………………………. 12
1.5.1 Budaya Populer ………………………………………………………………………. 12
1.5.2 Fiksi populer ………………………………………………………………………….. 17
1.6 Metode Penelitian ………………………………………………………………………. 19
1.7 Representasi Sampel …………………………………………………………………… 20
1.8 Sistematika Penyajian …………………………………………………………………. 21
BAB II NEGARA, BUDAYA POPULER, DAN FIKSI POPULER ……… 23
2.1 Kapitalisme dan Negara orde Baru ………………………………………………. 23
2.2 Negara, Kapitalisme, Budaya Populer, dan Fiksi Populer ……………….. 41
BAB III INDUSTRI FIKSI POPULER PADA MASA ORDE BARU …… 46
3.1 Gambaran Umum Karya dan Pengarang PT. Gramedia ………………….. 49
3.1.1 Gema Sebuah Hati Karya Marga T. …………………………………………… 49
3.1.2 Balada Si Roy: Joe Karya Gola Gong ………………………………………… 53
3.1.3 Lupus:  Makhluk Manis dalam Bis Karya Hilman Hariwijaya ………. 56
3.2 Usaha Penerbitan Cersil Karya Kho Ping Hoo ………………………………. 63
BAB IV KESIMPULAN …………………………………………………………………. 69
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………. 72

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan