-->

Lainnya Toggle

Manusia Huruf

OLEH: BANDUNG MAWARDI*

ROLAND Barthes adalah representasi manusia huruf (a man of letter). Jonathan Culler mengartikan bahwa kehidupan Barthes adalah kehidupan tulisan dan petualang bahasa. Barthes menjadi manusia huruf sampai akhir hayat dengan publikasi pelbagai tulisan. Barthes dengan tekun dan kritis hidup bersama huruf untuk menafsirkan dunia.

Manusia huruf dalam pengertian awam adalah penulis atau pengarang. Manusia huruf memiliki iman untuk hidup mengurusi huruf sebagai ekspresi estetika, sosial, politik, agama, ekonomi, dan kultural. Huruf itu representasi bahasa untuk pertaruhan eksistensi manusia dan pencapaian  jaouissance: puncak kenikmatan dengan bahasa. Bahasa mengandung kuasa dalam komunikasi dan interaksi. Martin Heiddeger memberi definisi: “bahasa itu rumah Ada”.

Penulis atau pengarang menjadi representasi manusia mengolah huruf untuk jadi tulisan. Tulisan itu sebagai ekspresi mengenai pemikiran, ide, ideologi, imajinasi, atau fantasi. Tulisan menjadi medium inklusif atas pertemuan pembaca dengan penulis. Tulisan menjadi ruang inklusif dalam pertarungan, perebutan, atau perang  interpretasi-pemaknaan. Manusia huruf mengekspresikan iman dengan tulisan dan membuat taruhan hidup  atau mati dalam jejaring pengarang, tulisan, dan pembaca.

Pembahasan komprehensif dan abstrak mengenai tulisan kerap mengacu pada buku Barthes Degree of Zero. Buku itu mendedahkan pemahaman mutakhir dalam studi bahasa dan satra. Barthes memahami bahwa memerkarakan sejarah atau wacana sastra membutuhkan pembedaan antara bahasa (language), gaya (style), dan tulisan (writing). Bahasa dan gaya menjadi konsentrasi dalam pemikiran Satre dalam wacana sastra. Penghadiran tulisan merupakan usulan pemikiran Barthes demi bisa membaca abad XX dengan perspektifkritis dan pluralistik.

Tulisan adalah manifestasi kebebasan pengarang. Kebebasan itu hadir dalam tegangan otoritas pengarang dengan bahasa. Tulisan dalam struktur-struktur tradisional memang mengacupada sistem ketat dalam manifestasi dan pencapaian ekspresi pengarang. Sistem itu mengandung dualisme pengekangan dan pembebasan. Dalil tradisional atau konservatif dalam tulisan adalah tindakan komunikasi mengenai hal-hal: etika, ideologi, politik, atau teologi. Tulisan sebagai manifestasi kebebasan pengarang mulai jadi perlawanan sejak awal abad XX untuk melarikan diri atau menghabisi tulisan dalam kuasa-pengetahuan tradisional.

Barthes merupakan sosok penting dalam perkara tulisan dalam alur strukturalisme dan semiotika. Barthes dengan intensif menekuni wacana tulisan dalam konteks sejarah tulisan Prancis sampai pada penciptaan kemungkinan-kemungkinan pada abad XX sebagai abad multimedia. Barthes mengartikan tulisan sebagai ruang menunjukkan diri sebagai individu. Tulisan itu bukti penulis peduli dengan diri sendiri. Pengartian Barthes memang genit tapi mengandung pemikiran revolusioner dalam wacana bahasa dan sastra. Tulisan adalah manifestasi kebebasan penulis untuk dilepaskan pada dunia. Nasib tulisan pun tak kembali pada ototiritas pengarang tapi menyebar pada pembaca.

Barthes dengan studi tulisan menjadi juru bicara ampuh untuk membuka kesadaran kritis mengenai sentralitas tulisan. Barthes dengan sadar menjadi penafsir pemikiran-pemikiran Ferdinand de Saussure mengenai tulisan dan wacana semiotika. Saussure mengartikan tulisan sebagai wicara terlembagakan tapi belum terbuka secara radikal untuk formalisasi seperti bahasa. Pemikiran itu ditafsirkan ulang dan dirumuskan dalam perspektif mutakhir oleh Barthes dengan radikal dan sugestif. Barthes dalam mengurusi tulisan cenderung melakukan manuver-manuver lincah dan reflektif demi menciptakan kemungkinan-kemungkinan tulisan sebagai wacana kompleks.

Kerja intelektual Barthes dalam mengurusi tulisan menemukan tandingan dalam pemikiran Jacques Derrida melalui buku Of Grammatology. Derrida curiga bahwa nasib tulisan dalam tradisi filsafat Barat sejak zaman Plato sampai pada Martin Heiddeger dan Levi-Strauss selalu terkesan sebagai turunan ujaran manusia atau ekspresi artifisial dan teralienasi. Kecurigaan itu membuat Derrida melakukan dekonstruksi atas tulisan dalam ranah filsafat sampai linguistik. Derrida pun tekun untuk memahami oposisi antara ujaran dan tulisan dari ranah filsafat dan linguistik sebagai perkara pelik dan menentukan nasib pemikiran filsafat abad XX yang memberi perhatian besar terhadap bahasa.

Jejak-jejak pemikiran kritis mengenai tulisan pun mulai tumbuh dalam pemikiran intelektual-intelektual mutakhir. Edward W. Said menjadi sosok penting dalam pembuktian ketekunan mengurusi tulisan untuk membuka tabir narasi besar pada pemikiran dan realitas abad XX. Buku Orientalism merupakan kritik keras Said terhadap otoritas orientalisme dalam menciptakan dan mengisahkan Timur dalam perspektif Barat. Said melakukan itu dengan membaca dan menafsirkan tulisan-tulisan atau novel-novel kanon Barat. Tulisan adalah pintu pertama untuk masuk dalam kompleksitas tafsir dan tegangan merumuskan konklusi. Said dengan tulisan-tulisan itu sanggup membongkar pelbagai stereotype dan kodifikasi Barat atas dunia Timur. Said membuktikan diri sebagai manusia huruf mutakhir dengan agenda menelanjangi atau mendekonstruksi operasionalisasi ideologi dalam tulisan-tulisan manusia huruf di Barat. Begitu. (*)

————

*Pengelola Jagat Abjad Solo

*) Disalin dari Radar Surabaya, Horizon: Minggu, 20 Mei 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan