-->

Kronik Toggle

Kesaksian Penyerangan Diskusi Buku LKiS

Maulinni2Oleh Maulinni’am MA

“…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat (ambigu) daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya…” (Q. Surat Ali Imron: 7)

Selepas maghrib, langit Jogja tampak bersih. Bintang-bintang terlihat terang. Aku bergegas mengayuh sepeda menuju jalan Solo. Jam 7 malam ini (Rabu, 9 Mei 2012, ed) akan ada diskusi dengan pembicara Irshad Manji di pendopo yayasan LKiS, di dekat pura Sorowajan. Diskusi ini merupakan ‘pengalihan’ setelah pagi sebelumnya batal dilaksanakan di kampus UGM karena ada sekelompok mahasiswa dari lembaga dakwah kampus dkk yang menolak diskusi tersebut digelar. Pada hari sebelumnya kegiatan yang sama juga batal diselenggarakan di Solo karena adanya tekanan dan (mungkin juga) ancaman dari kelompok Islam garis keras.

Aku sampai di LKiS sekitar pukul 19.10 menit. Di halaman depan, sepi kendaraan yang parkir. Pintu gerbang dari besi di samping tampak tertutup. Mungkin sebagai antisipasi. Segera kuparkirkan sepedaku dan kulihat ada seorang laki-laki membuka pintu kantor dan melongok ke luar. Seolah mengamati situasi di luar. Aku mendekat dan bertanya, “Diskusi Irshad Manji ya?”

“Ya” jawabnya singkat sambil mempersilakan aku masuk kantor lalu keluar lagi lewat pintu samping menuju pendopo.

Kantor LKiS sendiri bagiku bukan tempat yang asing. Kurang lebih 6-7 tahun yang lalu aku sering sekali main ke sana. Nonton TV, baca koran, nguping diskusi, atau sekadar numpang makan siang. Tempat yang terbuka, nyaman, dan mencerdaskan. Sejak dulu, aku mengenal LKiS sebagai sekumpulan orang cerdas dengan pemikiran yang berani tentang Islam maupun sosial. Istilah ‘Kiri Islam’ pertama kali saya kenal dari buku terbitan LKiS. Pemahaman keberagamaan atau keislaman saya paska SMA sedikit banyak saya peroleh dari membaca buku-buku LKiS milik kakak ipar yang kerja di sana.

Kembali pada cerita tentang diskusi Irshad Manji. Saya bergabung dengan peserta diskusi yang telah lebih dulu datang. Kulihat ada beberapa bule laki perempuan. Ada waria berjilbab. Ada juga perempuan bertatto. Tapi ada juga pria sederhana nan bijaksana seperti saya ini (hehe #apasih #gapenting). Meskipun datang telat, saya merangsek terus hingga berada di baris kedua di depan Manji. Dari tempatku duduk dapat kulihat jelas sosok Irshad Manji. Wajahnya tirus khas keturunan India-Pakistan dengan hidung mancung. Mengenakan kaos pink dengan celana warna kuning menyala. Potongan rambutnya pendek, tapi sudah bukan gaya acak seperti beberapa tahun yang lalu. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya. Terlihat kuku-kuku kakinya bercat merah. Sebagaimana gaya orang bule berbicara, Manji lumayan ekspresif dalam berbicara. Tiap pernyataan didukung dengan ekspresi wajah maupun bahasa tubuh yang meyakinkan.

Manji baru saja memulai kata pengantar diskusinya tentang keberanian dan kebebasan untuk menyampaikan pikiran. Ia membagikan kisah-kisah yang ia dapatkan ketika melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Menurutnya, salah satu hambatan terbesar untuk menyampaikan pendapat justru berasal dari keluarga sendiri. Ia mengisahkan ketika pertemuannya dengan seorang aktivis wanita di Mesir beberapa waktu lalu ketika negeri mumi tersebut sedang bergejolak. Dalam sebuah kedai minum, perempuan mesir itu mengatakan, “Inilah saya, seorang perempuan terlibat dalam upaya menyuarakan perubahan di negeri ini, tetapi saya sendiri tidak tahu bagaimana mengatakan pada keluargaku tentang cinta.” Rupanya perempuan tersebut sedang jatuh cinta pada lelaki Yahudi.

Irshad Manji bukan tidak tahu kedatangannya ke Indonesia mendapat tentangan keras dari sebagian kelompok. Ia sadar bahwa pemikirannya tentang cinta, tentang kebebasan, tentang Islam tidak mudah diterima oleh orang kebanyakan, apalagi oleh orang yang tidak mau baca. Hari-hari pertama ia datang di Indonesia pekan lalu, ada seorang wartawan mewawancarainya. Pada saat itu Manji sudah tahu bahwa acara bedah bukunya di Surakarta akan batal karena ada tekanan dari organisasi Islam dan ia sudah tahu nama ormas tersebut. Ketika Manji hendak menyebut nama ormas tersebut, wartawan yang mewawancarainya menyarankan untuk tidak usah saja. Alasannya penyebutan nama ormas tersebut hanya akan memicu ketegangan sosial dan bisa berujung konflik.  Manji tidak habis pikir mendengar jawaban itu. “You won’t start a conflict, but the conflict is already there. The tension is already there.”

Saat itu Manji baru sadar satu hal tentang ancaman terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia. Selain ancaman yang berasal dari negara (dan ini sudah pasti ada) dan kelompok lain, ancaman yang terbesar terhadap kebebasan adalah self-cencorship yang berlebihan di dalam diri wartawan sendiri (dan kita pada umumnya). Padahal seharusnya ketakutan yang berlebihan itu tidak perlu. Seharusnya wartawan sebut saja nama ormas yang sudah menekan  dan mengancam penyelenggara bedah buku tersebut agar masyarakat tahu yang sebenarnya. Bagaimana pun tugas wartawan adalah menyampaikan fakta.

Selanjutnya dibuka sesi tanya jawab. Penanya pertama adalah seorang wanita dari baris belakang. Memakai kaos putih kerah lebar. Terlihat tato mengintip dari bawah pundak sebelah kiri. Perempuan ini mengaku berasal dari keluarga muslim yang taat dan ketat dalam beragama. Di sisi yang lain, ia adalah aktivis pro aborsi sehat. Ia merasakan dilema yang sangat besar tentang aktivitasnya terutama dari pihak keluarga. sempat terbersit keinginan untuk melepas identitas muslimnya demi memperjuangkan apa yang diyakininya, tapi itu tak mungkin karena seolah sudah mendarah daging. Sementara kalau ia menjadi aktivis pro aborsi sehat, tentangan dari keluarga pasti tak bisa dihindarkan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Manji mengulangi lagi poin pesannya di awal bahwa betapa keluarga, terkadang justru menjadi penghambat utama bagi individu untuk menyuarakan kebenarannya. Setiap orang itu unik. Setiap orang memiliki kebenarannya, suara atau pendapatnya pribadi mengenai segala sesuatu. Menyuarakan kebenaran/pendapat bukan berarti kita yang paling benar dan tak seorang pun berhak menghakimi kebenaran kita. Karena di dalam al-Quran sendiri ada ayat yang secara jelas menggambarkan ini.

Irshad Manji kemudian meminta hadirin untuk mengeluarkan notes dan pulpen untuk mencatat apa yang akan dia sampaikan berikutnya. Manji menyebutkan dalam surat ke tiga (Ali-Imron) ayat 7 yang terjemahannya kira-kira berbunyi begini,

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[1], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[2]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Ayat di atas mengajarkan kita untuk rendah hati. Yaitu dengan cara bersikap terbuka pada kemungkinan salah. Orang-orang yang dalam ilmunya cenderung menjawab, “pendapat saya mungkin salah, begitu pun pendapat anda bisa saja salah. Karena hanya Allah yang tahu makna yang sebenarnya, the final and the finest meaning.”

Jadi jika suatu saat Anda didebat oleh orang yang mengaku paling benar, kalau dia Islam, keluarkan catatan itu dan tunjukkan padanya. Semoga dengan cara demikian, suatu saat orang tersebut akan bisa memahami dan diberi oleh Allah kerendahhatian dan akhirnya menerima adanya perbedaan.

Sesi diskusi kemudian dilanjut dengan penanya kedua dan ketiga. Penanya kedua, seorang lelaki paruh baya, berkacamata. Dia mengaku senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Irshad Manji. Dia sudah membaca buka Manji yang pertama, tetapi buku yang kedua belum. Ia menyampaikan kritik atas buku pertama Manji bahwa buku tersebut bukan buku tentang Islam melainkan pengalaman penulis tentang Islam. Itu 2 hal yang berbeda. Kemudian pertanyaannya adalah mengapa Anda (Irshad Manji) yang bahkan tidak bisa berbahasa arab menulis tentang Islam yang notabene berasal dari Arab dan menggunakan bahasa Arab.  Pertanyaan ketiga, dari mahasiswa asing di CRCS. Penanya ketiga dengan lugu mengatakan bahwa dia tidak kenal Irshad Manji sebelumnya. Baru kemarin dia dengar berita yang heboh  tentang Irshad Manji. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang Manji tulis sehingga orang bereaksi seheboh ini.

Secara singkat Manji menjawab pertanyaan kedua, sekaligus menjawab pertanyaan ketiga, bahwa apa yang ia tulis secara sederhana adalah cerita pengalaman dia dalam memahami Cinta Allah. Ia menulis buku yang pertama itu setelah mempelajari Islam selama 20 tahun dengan caranya sendiri. Mengapa ia ‘mencari tahu’ tentang Islam dengan caranya sendiri tak lepas dari pengalaman masa kecil. Semasa kecil (atau remaja) Irshad Manji pernah dikeluarkan dari Madrasah, tempat dia belajar Islam, di Uganda karena dianggap terlalu banyak tanya. Bisa saja pada waktu itu ia memutuskan untuk berkata “what the hell” pada Islam lalu meninggalkannya. Tetapi nyatanya ia tidak melakukannya. Ia memilih untuk tetap menganut Islam hingga sekarang.

Diskusi baru berjalan kurang lebih 30 menit. Tiba-tiba ada suara keributan dari arah depan LKiS. Beberapa pengunjung yang berada di luar pendopo kasak-kusuk. Lalu ada seorang pria berkaos merah, berperawakan kurus dengan rambut gondrong, tiba-tiba berdiri dari barisan belakang sambil berkata, “Ayo bubar, ada FPI”. Menurutku itu adalah tindakan bodoh dan penakut. Ga sumbut dengan rambut gondrongnya. Dia bukan bagian dari pengacau. Tapi sikapnya yang panik malah jadi membuat peserta yang lain juga mulai panik.

Aku masih belum beranjak dari tempat duduk. Kulihat ke arah gerbang, mulai berdatangan para preman. Hampir semuanya tetap memakai helm dan slayer penutup wajah. Mereka mulai masuk ke pendopo dan berteriak,

“Kafir!”

“Musyrik!”

“Bubar! Bubar!”

Sebagian berteriak “Allahu akbar!” sambil membanting pot, menendang piring-piring yang masih penuh cemilan diskusi. Giliran suara piring beradu dengan lantai dan tembok. Mic wireless mereka banting ke lantai. Para peserta yang mulai berdiri di-senthang-i (disenggol hingga terpental), ada beberapa perempuan yang ditampar. Seorang wanita bule, usia sekitar 45 lebih dipukul lengan kanannya, direbut handycam hingga ada komponen yang patah.  Mungkin patah juga tulang lengannya, tapi yang jelas ketika dia pergi dari lokasi, tangannya pakai penyangga. Setelah kejadian baru saya tahu bahwa wanita tersebut bernama Emily, asisten Manji. Emily dipukul berkali-kali dengan besi panjang di bagian lengan.

Aku masih di tengah pendapa. Sekarang dalam posisi berdiri. Bersama beberapa perempuan yg bertahan di pendapa, kami membentuk lingkaran kecil. Ketika ada salah satu perusuh (pakai helm dan penutup muka) mendekat:

“Mbaknya pindah saja ke pinggir, ngumpul jadi satu. Nanti kena lempar lho”

“Ya temen-temen Mas jangan ngelempar dong.”

“Ini kan massa banyak mbak. Susah dikontrol. Mending mbaknya pulang aja.”

“Makanya Masnya dan temen-temen Mas pergi aja dari sini. Kami yang punya kegiatan di sini, kenapa Mas yang ngusir.”

Tak punya jawaban lagi, akhirnya Mas perusuh itu meninggalkan kelompok kecil perempuan plus saya di tengah pendapa.

Hatiku bergejolak. Ingin rasanya membalas. Di saat seperti ini aku teringat cerita Cak Nun dan rombongan diusir polisi kerajaan ketika berdoa di depan makam Nabi Muhammad. Apa aku akting marah saja seperti Cak Nun? Ya kalo mereka langsung pergi, kalau malah ngepruk?! Aku dikepruk sih ga masalah. Paling-paling masuk rumah sakit. Lha kalo yang lain juga ikut dikepruk.  Pada saat yang bersamaan aku juga teringat guru-guruku yang senantiasa berwajah teduh, jauh dari kekerasan. Ada wajah Gus Mus, Gus Dur, Bib Luthfi, Mbah Arwani. Kalau aku balas menyerang, lalu apa bedanya dengan para perusuh itu?

Kalau saja bukan karena aku terbayang wajah-wajah damai penuh welas asih dari guru-guru, kalau saja bukan karena rasa malu-ku pada Cak Nun, pada jamaah Maiyah, pada Nabi Muhammad yang setia pada Jalan Cinta, sudah kulemparkan diriku ke tengah-tengah perusuh. Kutempeleng kepala mereka satu per satu agar akalnya kembali berfungsi. Kutinju dada mereka untuk menghancurkan hati mereka yang beku.

Massa perusuh makin brutal. Kulihat ada yang membawa kayu balok segede lengan orang dewasa di  tangan. Ada yang sampai ke ruang belakang dan mencoba mendobrak pintu. Mereka mencari yang namanya Irshad Manji, tapi tak ketemu.

“Mana Manji? Mana Manji?” teriak mereka.

Entah karena mereka belum pernah melihat wajah Irshad Manji dan sekedar menjalankan perintah komandan mereka untuk merusak atau besarnya kemarahan menutupi pancaindra mereka, tak ada satu pun perusuh yang menemukan Irshad Manji. Padahal sejak dari awal Irshad Manji tak beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk di tengah-tengah kelompok perempuan yang dari tadi berdiri melingkar menutupi keberadaannya.

Ada seorang bapak dari kelompok perusuh, bertubuh pendek agak gemuk, memakai peci, dan tidak menggunakan penutup wajah sedang adu mulut dengan seorang wanita peserta diskusi. Entah apa yang dibicarakan tapi dari tempatku berdiri, berulangkali bapak perusuh itu mengatakan: “Tidak ada kompromi! Tidak ada kompromi!” Sementara tak jauh dari situ ada pemuda, sangat mungkin mahasiswa, berteriak dalam bahasa Inggris agak gimana gitu, “I can destroy you!”

Ada juga tingkah wagu dari salah satu perusuh yang tertangkap pandanganku. Setelah mengobrak-abrik jajanan di piring, ia ambil satu gelas minuman, sebut saja aqua. Mungkin maksud hati ingin meminumnya, tapi keburu ketahuan oleh mataku. Sadar sedang kuperhatikan akhirnya dia melemparkan minuman ringan itu ke tembok. What a silly. (Kalo pengen minum mbok ya minum aja ga usah dilempar. Tapi ya mintanya baik-baik. Ga usah pura-pura ngamuk.)

Setelah puas merusuh. Akhirnya mereka menuju gerbang sambil berteriak Allahu akbar. Mereka menghidupkan motor dan memainkan gas lalu pergi.

Mengantisipasi kedatangan gerombolan perusuh untuk yang kedua kali, panitia meyakinkan Irshad Manji untuk mau meninggalkan lokasi. Sebagian besar peserta tetap berada di lokasi sampai akhirnya polisi datang dan panitia meminta peserta untuk pulang.

Catatan:

  1. Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
  2. Ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Sumber: facebook.com, “Notes Maulinni’am MA“, 10 Mei 2012, “Diskusi singkat dgn Irshad Manji di pendopo LKiS”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan