-->

Kronik Toggle

Catatan Sehari Sebelum Pembatalan Diskusi Buku di UGM

YOGYAKARTA-Berikut ini adalah catatan Iqbal Ahnaf atas diskusi Irshad Manji di CRCS UGM yang dibatalkan Rektor UGM. Catatan ini adalah kilas balik sebelum fakta terjadi.

Inilah catatan tentang kelompok mahasiswa di balik sikap UGM yang membatalkan diskusi buku Irsyad Manji berjudul: Allah, Liberty & Love:

Sebagaimana diberitakan di banyak tempat, acara diskusi buku Irsyad Manji di CRCS hari ini dibatalkan rektor dan direktur Sekolah Pascasarjana UGM. Hingga menit terahir sebelum acara direncanakan, CRCS terus bernegosiasi dengan rektorat dan direktur sekolah pascasarjana untuk mempertahankan acara. Tapi tidak berhasil, kami ahirnya hanya bisa menyelenggarakan konferensi pers di depan wartawan dan lebih dari 50 calon peserta diskusi yang menunggu.

Salah satu yang mendorong pembatalan ini adalah aksi kelompok mahasiswa yang menekan pimpinan UGM untuk membatalkan acara ini.

Saya ingin cerita tentang gerakan mahasiswa yang ahirnya berhasil menekan pimpinan UGM ini karena saya mengikuti diskusi mereka yang bertujuan untuk memobilisasi penolakan terhadap Irsyad Manji.

Sekitar jam 4 tanggal 8 Mei, sekelompok mahasiswa mengadakan acara diskusi di selasar gedung Fisipol UGM. Tidak ada backdrop acara diskusi sehingga saya tidak tahu persis penyelenggara acara ini. Dalam pengantar moderator juga tidak menyampaikan nama lembaga penyepenggara.

Acara ini direncakan dengan spotan untuk merespons rencana diskusi Irsyad Manji di CRCS. Undangan disebar melalui SMS. Tujuannya jelas: menolak kedatanagn Irsyad Manji ke UGM. Yang menarik salah satu pembicara diskusi ini adalah Heddy Shri Ahimsa-Putra, Professor Antropologi yang dikenal sangat menghargai keragaman. Dua pembicara lain adalah dosen Fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum UGM.

Dari awal jelas sekali diskusi ini diarahkan untuk menyerang pribadi Irsyad Manji, bukan pemikiranya. Panitia menyediakan kain putih panjang untuk ditandatangani peserta untuk menyuarakan penolakan terhadap Irsyad Manji.

Pembicara pertama dari Fakultas Psikologi UGM awalnya turut memperkuat atmosfir penolakan dengan berbicara tetang praktek homoseksual dan lesbian sebagai gejala psikologi abnormal. Namun giliran Prof. Heddy berbicara, atmosfir penolakan terhadap Irsyad Manji termentahkan. Menyadari konteks penolakan, Prof. Heddy mengawali pembicaraan dengan pernyataan bahwa dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan menumpahkan darah dan mencela sesama Muslim, termasuk Irsyad Manji. Ia mengajak peserta diskusi untuk menyampaikan ketidaksetujuan terhadap pemikiran seseorang secara intelektual. Ia bahkan merujuk pada kisah Nabi Muhammad yang menerima dengan terbuka kedatangan orang yang memusuhinya. Baginya, Irsyad Manji datang ke UGM dengan baik-baik dan karena itu ia mesti disambut, tidak ditolak. Prof. Heddy menyampaikan ketidaksetujuanya terhadap beberapa aspek pemikrianya Irsyad Manji, tapi baginya kedatangan Irsyad Manji justru seharusnya dimanfaatkan untuk menunjukkan kritik terhadap kesalahan berfikir dia. Kalau belum-belum sudah ditolak, bagaimana diksusi dan tujuan untuk meluruskan pemikiran dia bisa dilakukan?

Presentasi Heddy ini menetralisir atmosfir penolakan yang coba dibangun pelaksana diskusi dari awal. Saat sesi tanya jawab dibuka, sebagian peserta menocaba mengangkat kembali atmosfir penolakan dengan mengkritik anjuran Prof. Heddy untuk mendoakan Irsyad Manji apabila dianggap mempunyai pemikiran yang salah. Seakan direncakanan, dua peserta bertanya dengan pertanyaan yang sama. Merujuk pada sebuah hadits, mereka menyatakan anjuran prof Heddy untuk mendoakan Irsyad Manji mencerminkan iman yang paling lemah. Mereka mendorong tindakan aksi nyata sebagai wujud perintah untuk merubah kemungkaran dengan tangan.

Prof. Heddy merespon dengan lugas pertanyaan ini dengan menentang mahasiswa untuk menggunakan tangan untuk merubah dengan menulis buku atau opini yang mengkritik pemikiran Irsyad Manji, tidak menggunakan tangan untuk protes dengan melempar batu. Sikap seperti itu tidak mencerminkan karakter intelektual yang seharusnya dimiliki mahasiswa.

Respon Prof. Heddy ini mendapatkan tepuk tangan meriah dari peserta. Atmosfir penolakan ternetralisir. Hal ini diperkuat oleh kedua pembicara lain yang juga mendukung anjuran anjuran Prof. Heddy untuk mengutamakan menolak pemikirian, bukan orangnya.

Namun demikian di ahir diskusi moderator tetap meminta peserta untuk menandatangani kain putih untuk menolak Irsyad Manjid. Namun, menyadari atmosfir penolakan yang melemah, modertaor secara diplomatis mengatakan bahwa penandatangan kain putih adalah untuk menolak pemikiran Irsyad Manji, bukan untuk menolak kedatanganya.

Yang aneh, di salah satu kain putih tersebut sudah ada tulisan besar yang menyatakan “Muhammadiyah DIY menolak Irsyad Manji.” Saya ragu ini adalah sikap resmi Muhammadiyah; bisa jadi ini adalah klaim yang dibuat untuk kepentingan mobilisasi tanda tangan. Kalau ini bukan sikap resmi Muhammadiyah, seharunya Muhammadiyah tersinggung dengan klaim seperti ini.

Pengamatan saya di ahir acara, banyak peserta yang pergi tanpa memberikan tandatangan di kain putih.

Anehnya, malamnya CRCS diminta UGM untuk membatalkan diskusi, dan salah satu alasannya adalah karena ada 130 mahasiswa yang menandatangani penolakan terhadap Irsyad Manji, seakan-akan ada arus besar di internal kampus yang menolak kedatangan Irsyad Manji. Padahal yang terjadi sebanarnya adalah penggunaan diskusi untuk kepentingan mobilisasi penolakan, terlepas dari wacana yang terbangun yang meski kritis terhadap pemikiran Irsyad Manji tetapi tidak menolak kedatanganya. Tapi begitulah, yang terpenting bagi para penentang kedatangan Irsyad Manji adalah legitimasi berupa klaim tandatangan penolakan yang ahirnya dijadikan dasar untuk menekan pimpinan UGM agar membatalkan acara.

Ironis, kebebasan akademik yang dinikmati mahasiswa sekarang dulu diperjuangkan dengan berdarah-darah oleh aktifis mahasiswa pada masa Orde Baru. Kini mahasiswa menikmati kebebasan yang diperjuangkan pendahulunya itu untuk menolak kebebasan yang lain.

Yang memprihatinkan dari kejadian ini adalah sikap UGM yang mengizinkan acara yang bertujuan untuk menentang diskusi akadamik, sementara diskusi akademik itu sendiri justru tidak diizinkan.

Keputusan UGM untuk membatalkan acara diskusi Irsyad Manji patut disesalkan; saya kira ini mencoreng citra UGM sebagai lembaga akadamik yang mempunyai integritas dan independensi. Sayangnya, UGM mengorbankan integritasnya karena ketakutan berlebihan terhadap intimidasi kelompok luar dan tekanan sekelompok mahasiswa yang sama sekali tidak signifikan.

Ketakutan yang berlebihan saya kira menjelaskan sikap UGM ini. Ancaman ormas untuk membatalkan acara seharunya bisa diantisipasi dan kelompok mahasiswa yang menolak acara ini adalah kelompok kecil yang hanya menggelar orasi di depan gerbang gedung Sekolah Pascasarana dan sama sekali tidak memberi ancaman.

Namun begitulah, integritas lembaga sebesar UGM mendapat ujian hari. Kelompok-kelompok anti-keragaman bisa saja menghentikan diskusi hari ini, tetapi mudah-mudahan upaya kami mempertahnkan diskusi ini menjadi pelajaran bagi UGM, pemerintah dan masyarakat pada umumnya bahwa teror dan intimidasi kalau terus ditolerarir akan terus menjadi ancaman kebebasan politik dan demokratisasi.

Sumber: Facebook, 9 Mei 2012. Catatan ini dibagi Munawir Aziz, mahasiswa Program Studi Center for Religious and Cross-cultural studies (CSRS), Pascasarjana UGM.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan