-->

Kronik Toggle

Buku Geowisata Nusa Tenggara Barat (NTB)

Mataram – Sebuah buku Geowisata Nusa Tenggara Barat (NTB) dirilis oleh bekas Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB, Heryadi Rachmat. Pada Jumat, 11 Mei 2012, buku yang tebalnya 144 halaman tersebut diluncurkan Heryadi di Mataram.

Buku tersebut ada empat bab yang awalnya menceritakan paparan Geowisata Menuju Visi Pariwisata NTB. Kedua, NTB, Geologi dan Geowisata. Ketiga, Geowisata Pulau Lombok. Keempat, Geowisata Pulau Sumbawa. Kelima, Pemanfaatan Keanekaragaman Geologi Untuk Pariwisata.

Menurutnya, posisi NTB terletak pada pertemuan dua lempeng tektonik yang saling bertumbukan, sehingga membentuk sumber daya geologi yang telah menimbulkan bencana letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. Namun proses tersebut justru menghasilkan keanekaragaman geologi (geodiversity) berupa batuan, mineral, struktur, dan bentang alam yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Heryadi menguraikan keanekaragaman geologi yang dimiliki NTB sangat layak untuk dikembangkan menjadi warisan geologi (geoheritage) maupun taman Bumi (geopark) kelas dunia. ‘’Sungguh fantastis keanekaragaman geologinya,’’ kata Heryadi kepada Tempo, Jumat 11 Mei 2012.

Apalagi geowisata yang berada di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Di Pulau Lombok ada gunung Rinjani yang memiliki danau dan puncak yang sangat indah dan di pantai Kute Lombok Tengah bagian selatan terdapat sisa endapan letusan gunung api tua bawah laut.

Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan pegunungan yang memiliki keanekaragaman geologi, berupa kaldera yang terbentuk sekitar 14 ribu tahun lalu. Dindingnya disusun oleh selang-seling lava dan prioklastika membentuk ornamen yang indah. Di tengahnya pada ketinggian sekitar 2 ribu meter di atas permukaan laut terdapat Danau Segara Anak yang mempunyai kedalaman sampai 230 meter.

Pada dasar kaldera telah muncul dua kerucut gunung api baru yang merupakan pusat kegiatan Gunung Rinjani saat ini. Hal ini ditunjukkan terakhir dengan beberapa kali letusan menghasilkan aliran lava dan jatuhan piroklastik berukuran abu sampai bongkah. Pada sisi kaldera bagian timur terdapat puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut yang merupakan gunung dengan puncak tertinggi kedua di Indonesia.

Kawasan pantai selatan Kute-Tanjung Aan dengan pasir pantainya yang bulat ini, berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan di lapangan, menunjukkan bahwa perbukitan yang ada sekarang merupakan hasil endapan gunung api bawah laut yang terbentuk belasan juta tahun yang lalu.

Pegunungan karst yang terdapat di pantai selatan sekitar Tanjung Ringgit dan sekitar Kute ke arah Silungblanak terdapat beberapa gua dengan staklatit dan stalaknit sebagai hasil dari proses karstifikasi, yaitu akibat air meteorit yang jatuh di sekitar karst kemudian masuk melalui rekahan dan bereaksi melarutkan batu gamping kemudian menetes membentuk stalaktit di bagian atas dan stalaknit di bagian bawah.

Kawasan Gili Matra terdiri dari tiga gili (pulau) yang merupakan sisa dari proses geologi berupa gaya endogen (gaya dari dalam) dan heksogen (gaya dari luar) yang berlangsung jutaan tahun yang lalu. Salah satu dari tiga gili itu yakni Gili Trawangan masih menyisakan batuan yang berumur tersier (juta tahun). Sedangkan di Gili Air dan Gili Meno hanya terdiri dari endapan pantai berupa pasir, koral, dan endapan hasil letusan gunung api berupa pasir batu apung.

Sedangkan di Pulau Sumbawa, akibat letusan Gunung Tambora pada 1815, selain mempengaruhi iklim dunia juga telah mengubur tiga kesultanan dan keberadaan stromatolit di Pulau Satonda yang menjadi model lingkungan geologi pra kambrium zaman modern. Dengan suatu upaya, keanekaragaman tadi semuanya sangat layak dijadikan geopark ataupun geoheritage.

Keanekaragaman geologi Pulau Sumbawa yang dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan geowisata, menurut Heryadi, di antaranya kawasan lingkar tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat yang diusahakan oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Di luar kawasan tambang tersebut terdapat gua yang indah dengan stalaktit dan stalagnit serta pantai yang indah dibentuk oleh proses geologi yang panjang.

Gunung Tambora yang sangat terkenal di dunia akibat letusannya pada April 1815 yang membentuk kaldera berdiameter tujuh kilometer menyebabkan korban meninggal dunia 92.000 orang serta menimbun tiga kesultanan yang terletak di bagian lerengnya. Akibat letusan tersebut di sebagian daratan Eropa terjadi kelaparan, saat itu sinar matahari tidak tembus ke darat karena tertutup abu hasil letusan Gunung Tambora pada 1815 yang dikenal dengan istilah The Year Without Summer.

Pulau Satonda merupakan pulau gunung api yang di tengahnya terdapat kawah berbetuk angka delapan akibat terjadinya dua kali letusan yang saling memotong kedua kawah tersebut. Pulau Satonda ini sangat terkenal di dunia karena memiliki keanekaragaman geologi langka di dunia berupa stromalit, yaitu bakteri yang hidup dalam lingkungan ekstrem. Stromalit pertama kali muncul pada Zaman Kambrium dan di Satonda sekarang muncul sebagai stromatolit modern. (SUPRIYANTHO KHAFID)

Sumber: Tempo.co, 13 Mei 2012, “NTB Miliki Potensi Taman Bumi Kelas Dunia”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan