-->

Lainnya Toggle

Apa yang Salah dengan Kultwit?

Apa yang salah dengan kultwit?
25 May
2012
Paramita Mohamad
A note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon —at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding.
Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau mengubah pendapat orang lain (“mengapa sebaiknya Anda tidak lagi mendukung rencana mempertahankan subsidi BBM”).
Tujuan satu kultwit dengan yang lain bisa berbeda, tapi formatnya selalu sama. Topiknya cukup kompleks, sehingga jika ditulis utuh akan mencakup lebih dari satu alinea. Topik ini lalu dicacah menjadi banyak kalimat pendek dalam rentetan twit; umumnya satu twit memuat satu sampai dua kalimat. Twit-twit ini harus dibaca berurutan (di timeline berarti dari bawah ke atas) untuk bisa memahami alur pikiran si penulis.
Sudah cukup sering saya mengutarakan keberatan saya akan kultwit, lewat Twitter maupun dalam pergaulan di dunia nyata. Beberapa hari yang lalu ada yang bertanya pada saya: jika saya tidak suka kultwit, mengapa saya tidak unfollow saja mereka yang sering melakukannya? Pertanyaan ini cukup masuk akal. Kalau saya tidak suka film horor, sudah cukup jika saya tidak menontonnya, bukan?
Jawaban saya atas pertanyaan ini adalah, bagi saya kultwit lebih dari sekedar selera. Bagi saya, kultwit adalah sebuah peluang yang terlewatkan (missed opportunity). Kultwit itu sepadan dengan slide PowerPoint yang buruk: keduanya adalah contoh kegagalan mencapai tujuan komunikasi gara-gara penyalahgunaan format.
Kultwit bisa disejajarkan dengan slide presentasi yang buruk dan inefektif
Semua orang yang menulis di ruang terbuka mulai dengan delusi bahwa topik yang mereka sampaikan layak mendapat perhatian orang lain. Beberapa penulis bahkan (merasa) punya misi untuk memberi pencerahan bagi orang lain. Sungguh sayang jika misi itu gagal karena mereka keliru memilih “kendaraan” (medium), dan ngotot memaksa “muatan” (pesan) bisa diangkut oleh “kendaraan” yang salah itu.
Saya menduga pelaku kultwit memilih Twitter karena mereka berharap meraih audiens yang lebih luas. Bisa jadi mereka mengaitkan besarnya audiens dengan jumlah follower mereka. Alasan lainnya, mereka menginginkan audiens yang responsif, dan bagi mereka Twitter bisa memberikan hal itu.
Kultwit memang sepertinya menjajikan dampak yang luas. Sayangnya dampak luas ini nyaris mustahil tercapai karena format Twitter menyebabkan audiens sulit mencerna pemikiran si penulis. Mengapa?
Pertama, tulisan di media cetak atau blog memberi kita kebebasan menentukan waktu dan kecepatan baca sesuai kemauan sendiri. Kebebasan ini hilang dalam Twitter. Audiens dipaksa mencerna informasi dalam waktu dan kecepatan yang nyaman buat si penceramah tapi belum tentu pas buat dirinya.
Kedua, karena satu twit akan segera ditumpuk dengan twit-twit lain, pembaca akan kerap mengalami distraksi.
Ketiga, isi kultwit akan ditampung oleh pembaca dalam memori jangka pendek. Kapasitas memori jangka pendek manusia selalu terbatas. Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa kapasitas optimal memori jangka pendek kita adalah 7±2 chunk informasi. Kultwit yang terdiri lebih dari 9 twit akan mustahil tertanam dalam ingatan si penerima.
Keempat, Twitter memaksa penulis memecah satu butir pikiran (dalam artikel biasa umumnya mencakup satu paragraf) menjadi beberapa kalimat pendek yang tidak mungkin hadir berbarengan. Padahal seringkali kita harus lebih dahulu secara simultan melihat keseluruhan elemen yang ada sebelum bisa mengenali pola yang utuh. Ibaratnya, kita harus lebih dulu melihat seluruh tanaman dan benda lain dalam sebuah area, sebelum kita bisa mengenalinya sebagai sebuah taman bergaya Jepang.
Kelima, kalaupun kita mau menunggu sampai satu kultwit selesai, untuk membacanya dari awal sampai akhir di timeline kita harus mulai dari bawah ke atas. Ini bertentangan dengan cara kita memproses informasi dari bentuk tulisan pada umumnya: dari atas ke bawah. Akibatnya, kita membutuhkan usaha mental yang lebih untuk mengolah isi kultwit, apalagi jika mencakup lebih dari 9 twit.
Twitter tidak hanya membuat pembaca susah mengolah isi kultwit. Karena Twitter mirip gelombang yang datang dan pergi, informasi yang dibawanya menjadi sulit dihadirkan kembali (retrieve) melalui penelusuran (search) di Internet. Padahal, kalau kita percaya pemikiran kita cukup penting untuk diperhatikan saat ini, tentunya itu akan cukup penting juga untuk diperhatikan di lain waktu, bukan?
Daripada “mengencerkan” (dumbing down) pemikiran anda dan memaksakannya agar muat di Twitter, lebih baik gunakan medium dan format yang lebih menghargai waktu audiens anda. Ada beberapa jalan: menulis artikel di blog, meng-upload slideshow di SlideShare atau dokumen di Scribb, atau yang paling praktis: menggunakan fasilitas Twitwall.
Selanjutnya, anda bisa menggunakan Twitter untuk menyebarkan link materi tersebut. Jika materi anda memang menarik dan relevan, akan mudah bagi anda untuk menulis umpan linknya (link-bait). Jika materi anda memang solid, akan banyak orang yang me-RT twit itu, atau meng-twit materi yang anda buat.
Kultwit bisa dianalogikan dengan dosen yang bicaranya terpotong-potong tapi terus berteriak memberi kuliah di klub malam yang hingar-bingar. Mari bertanya ke diri sendiri: kalau kita sungguh berniat membuka pikiran atau menggerakkan hati orang lain, apakah kita tidak punya cara yang lebih ampuh selain berteriak ceramah di tempat yang hiruk-pikuk? Tidakkah lebih cerdas jika kita melakukannya di ruang yang tenang, di waktu yang mereka pilih sendiri?
Atau mungkin, ternyata tujuan pemberi kultwit yang sesungguhnya adalah untuk menarik perhatian belaka, bukannya untuk membuka pikiran dan hati orang lain? Kalau benar, bukankah kultwit adalah bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memuaskan diri-sendiri (self-serving) tapi dilakukan dengan cara menginterupsi orang lain?
Apa pendapat anda, pembaca terhormat?

Oleh: Paramita Mohamad

twitter-bird-logoA note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon —at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding.

Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau mengubah pendapat orang lain (“mengapa sebaiknya Anda tidak lagi mendukung rencana mempertahankan subsidi BBM”).

Tujuan satu kultwit dengan yang lain bisa berbeda, tapi formatnya selalu sama. Topiknya cukup kompleks, sehingga jika ditulis utuh akan mencakup lebih dari satu alinea. Topik ini lalu dicacah menjadi banyak kalimat pendek dalam rentetan twit; umumnya satu twit memuat satu sampai dua kalimat. Twit-twit ini harus dibaca berurutan (di timeline berarti dari bawah ke atas) untuk bisa memahami alur pikiran si penulis.

Sudah cukup sering saya mengutarakan keberatan saya akan kultwit, lewat Twitter maupun dalam pergaulan di dunia nyata. Beberapa hari yang lalu ada yang bertanya pada saya: jika saya tidak suka kultwit, mengapa saya tidak unfollow saja mereka yang sering melakukannya? Pertanyaan ini cukup masuk akal. Kalau saya tidak suka film horor, sudah cukup jika saya tidak menontonnya, bukan?

Jawaban saya atas pertanyaan ini adalah, bagi saya kultwit lebih dari sekedar selera. Bagi saya, kultwit adalah sebuah peluang yang terlewatkan (missed opportunity). Kultwit itu sepadan dengan slide PowerPoint yang buruk: keduanya adalah contoh kegagalan mencapai tujuan komunikasi gara-gara penyalahgunaan format.

Kultwit bisa disejajarkan dengan slide presentasi yang buruk dan inefektif.

Semua orang yang menulis di ruang terbuka mulai dengan delusi bahwa topik yang mereka sampaikan layak mendapat perhatian orang lain. Beberapa penulis bahkan (merasa) punya misi untuk memberi pencerahan bagi orang lain. Sungguh sayang jika misi itu gagal karena mereka keliru memilih “kendaraan” (medium), dan ngotot memaksa “muatan” (pesan) bisa diangkut oleh “kendaraan” yang salah itu.

Saya menduga pelaku kultwit memilih Twitter karena mereka berharap meraih audiens yang lebih luas. Bisa jadi mereka mengaitkan besarnya audiens dengan jumlah follower mereka. Alasan lainnya, mereka menginginkan audiens yang responsif, dan bagi mereka Twitter bisa memberikan hal itu.

Kultwit memang sepertinya menjajikan dampak yang luas. Sayangnya dampak luas ini nyaris mustahil tercapai karena format Twitter menyebabkan audiens sulit mencerna pemikiran si penulis. Mengapa?

Pertama, tulisan di media cetak atau blog memberi kita kebebasan menentukan waktu dan kecepatan baca sesuai kemauan sendiri. Kebebasan ini hilang dalam Twitter. Audiens dipaksa mencerna informasi dalam waktu dan kecepatan yang nyaman buat si penceramah tapi belum tentu pas buat dirinya.

Kedua, karena satu twit akan segera ditumpuk dengan twit-twit lain, pembaca akan kerap mengalami distraksi.

Ketiga, isi kultwit akan ditampung oleh pembaca dalam memori jangka pendek. Kapasitas memori jangka pendek manusia selalu terbatas. Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa kapasitas optimal memori jangka pendek kita adalah 7±2 chunk informasi. Kultwit yang terdiri lebih dari 9 twit akan mustahil tertanam dalam ingatan si penerima.

Keempat, Twitter memaksa penulis memecah satu butir pikiran (dalam artikel biasa umumnya mencakup satu paragraf) menjadi beberapa kalimat pendek yang tidak mungkin hadir berbarengan. Padahal seringkali kita harus lebih dahulu secara simultan melihat keseluruhan elemen yang ada sebelum bisa mengenali pola yang utuh. Ibaratnya, kita harus lebih dulu melihat seluruh tanaman dan benda lain dalam sebuah area, sebelum kita bisa mengenalinya sebagai sebuah taman bergaya Jepang.

Kelima, kalaupun kita mau menunggu sampai satu kultwit selesai, untuk membacanya dari awal sampai akhir di timeline kita harus mulai dari bawah ke atas. Ini bertentangan dengan cara kita memproses informasi dari bentuk tulisan pada umumnya: dari atas ke bawah. Akibatnya, kita membutuhkan usaha mental yang lebih untuk mengolah isi kultwit, apalagi jika mencakup lebih dari 9 twit.

Twitter tidak hanya membuat pembaca susah mengolah isi kultwit. Karena Twitter mirip gelombang yang datang dan pergi, informasi yang dibawanya menjadi sulit dihadirkan kembali (retrieve) melalui penelusuran (search) di Internet. Padahal, kalau kita percaya pemikiran kita cukup penting untuk diperhatikan saat ini, tentunya itu akan cukup penting juga untuk diperhatikan di lain waktu, bukan?

Daripada “mengencerkan” (dumbing down) pemikiran anda dan memaksakannya agar muat di Twitter, lebih baik gunakan medium dan format yang lebih menghargai waktu audiens anda. Ada beberapa jalan: menulis artikel di blog, meng-upload slideshow di SlideShare atau dokumen di Scribb, atau yang paling praktis: menggunakan fasilitas Twitwall.

Selanjutnya, anda bisa menggunakan Twitter untuk menyebarkan link materi tersebut. Jika materi anda memang menarik dan relevan, akan mudah bagi anda untuk menulis umpan linknya (link-bait). Jika materi anda memang solid, akan banyak orang yang me-RT twit itu, atau meng-twit materi yang anda buat.

Kultwit bisa dianalogikan dengan dosen yang bicaranya terpotong-potong tapi terus berteriak memberi kuliah di klub malam yang hingar-bingar. Mari bertanya ke diri sendiri: kalau kita sungguh berniat membuka pikiran atau menggerakkan hati orang lain, apakah kita tidak punya cara yang lebih ampuh selain berteriak ceramah di tempat yang hiruk-pikuk? Tidakkah lebih cerdas jika kita melakukannya di ruang yang tenang, di waktu yang mereka pilih sendiri?

Atau mungkin, ternyata tujuan pemberi kultwit yang sesungguhnya adalah untuk menarik perhatian belaka, bukannya untuk membuka pikiran dan hati orang lain? Kalau benar, bukankah kultwit adalah bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memuaskan diri-sendiri (self-serving) tapi dilakukan dengan cara menginterupsi orang lain?

Apa pendapat anda, pembaca terhormat?

Paramita Mohamad pemilik blog paramitamohamad.com

Sumber Tulisan: paramitamohamad.com, 25 Mei 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan