-->

Literasi dari Sewon Toggle

Nonton Bersama Film ‘Status’ | Bambang C Irawan

statusDiputar ulang di Indonesia Buku pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 19.00 – selesai. Selepas nonton bersama, akan diadakan diskusi seputar film tersebut. Sebelumnya, pukul 16.00 – 18.00 akan diadakan diskusi draft kumpulan cerita pendek Kumis Penyaring Kopi karya Pinto Anugrah.

Tidak mudah membuat film pendek yang mampu menampung visi secara komprehensif. Tapi film berdurasi 15 menit berjudul ‘Status’ ini mampu melakukannya dengan baik. Tidak mengherankan jika film ini memperoleh tiga penghargaan, salah satunya adalah AIMFest.

Film garapan sutradara muda Bambang C Irawan ini menarik perhatian saya –terutama—karena tokoh utamanya, Sugeng, diperankan oleh teman Mathole’ kita, Burhan Fanani. Dia adalah santri PMH Putra, bersekolah di Mathole’ selama 3 tahun dan belum pernah merasakan nikmatnya naik kelas, hihihi… (Pisss bro kalau you baca ini).

Karakter Sugeng dalam film ini menjadi simbol ‘korban ketidakadilan’ sistem pendidikan negeri ini yang kapitalistis. Sebagai guru honorer Sugeng tidak memperoleh penghargaan (baca: gaji) yang layak dari negara. Beberapa kali Sugeng berjuang agar statusnya bisa ditingkatkan menjadi PNS. Tapi prosedur yang rumit bin mbulet selalu menjadi penghalang. Alhasil, Sugeng tetap menjadi orang melarat dan akhirnya, karena keadaan terpaksa, ia ‘nilep’ –atau dalam bahasa tokoh Sugeng; meminjam– uang sekolah untuk membiayai kelahiran puterinya.

“Dan aku, Gita Pertiwi, aku lahir dari hasil korupsi,” begitu pernyataan liris sang narator film dalam ending cerita.

Secara umum film ini memang gud marsogud alias jos marijos, mampu menyerap problem ekonomi guru honorer dalam 15 menit bercerita. Teknik penggarapannya pun cukup cermat. Perpindahan satu scene kepada scane berikutnya dilakukan dengan sangat efektif (sesuai kebutuhan film pendek). Dibuka dengan adegan pengenalan karakter Sugeng sebagai guru yang pekerja keras. Yakni dengan menampilkan suasana subuh, kamera menyorot Sugeng yang tertidur dalam posisi duduk dengan meletakkan kedua tangan dan kepala di meja (persis dulu ketika Burhan Fanani tidur di bangku Mathole’, hihihi…), dan di sebelah kepala Sugeng tergeletak sebuah buku. Adegan yang berlangsung sekitar 5 detik ini sudah cukup memberikan kesan bahwa Sugeng tertidur di meja, bukan sengaja tidur. Dan kesan tertidur dengan sendirinya meningkatkan kesan kalau Sugeng pekerja keras.

Pada scane-scane berikutnya malah ada satu adegan yang mengesankan, yakni ketika tokoh Sugeng mau meminjam uang sekolah untuk biaya kelahiran puterinya. Adegan yang menggambarkan problem ekonomi Sugeng itu cukup digambarkan melalui gerak tangan dengan teknik sudut pandang (point of view) dan dalam posisi kamera zoom in. Cukup beberapa detik. Tapi kesan yang menghampiri imajinasi pemirsa sangat komprehensif.

Awalnya saya memang sempat kecewa dengan adanya narator bersuara perempuan yang kerap kali menyeling adegan. Keberadaan narator itu telah mengganggu kenikmatan saya. Tapi ketika sampai ending cerita, kesimpulan saya berbalik arah ketika secara tak terduga tampil sebuah adegan yang menunjukkan si narator ternyata salah satu tokoh dalam film itu sendiri, yakni Gita Pertiwi (diperankan Nita Diah Sulistiowati), anak perempuan Sugeng.

Di sini imajinasi pemirsa dibuat  melompat ke belakang. Pemirsa yang semenjak awal adegan menganggap film ini bercerita dengan alur maju, ketika tokoh Gita Pertiwi muncul, pemirsa akan memperoleh kejutan dengan memiliki imajinasi baru bahwa film ini menggunakan alur flash back. Di sinilah menurut saya salah satu kekuatan fim ini; mampu membuat imajinasi pemirsa melompat-lompat. Dan jujur, teknik ini memberikan pelajaran penting –justru– untuk proses kreatifitas kepenulisan saya.

Jika ada yang membuat saya bertanya-tanya selama menonton film ini, yakni kenapa dalam beberapa scene yang sebenarnya cukup signifikan tapi posisi kamera malah mengambil wajah Sugeng dalam posisi zoom out. Seperti ketika Sugeng didatangi orang yang menagih hutang. Saya tidak tahu kenapa pada saat itu kamera justru ‘tidak mau’ mengeksplorasi kesedihan Sugeng dengan menyorot zoom in wajahnya. Dugaan saya, kemera yang digunakan mungkin saja termasuk kamera genit, yang enggan menyorot zoom in wajah pas-pasan milik tokoh Sugeng ini (xixixiixi..pisss bro..).

Bagaimanapun film seperti ‘Status’, yang mengusung visi kuat, patut dijadikan inspirasi agar ke depan film Indonesia tidak dihiasi adegan paha dan buah dada. Dan catatan saya ini, tidak lebih dari sekedar catatan tentang film dari orang yang nggak ngerti film, qiqiiqiqi… Dan saya menulis catatan ini untuk tujuan bergaya saja, biar terkesan paham film, hahahaha…

Selebihnya silahkan teman-teman nonton sendiri film itu dan klik di sini

Sumber tulisan: Facebook Muhammad Agung F. Aziz

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan