-->

Tokoh Toggle

Siti Aminah Abdullah, Ibu dan Jiwa "Tiga Serangkai"

TSSiti Aminah (71) tidak pernah membayangkan dirinya yang lahir di dusun tandus di Losari, Tulakan, Pacitan, Jawa Timur, bisa memimpin kelompok bisnis yang kini menaungi sembilan perusahaan di bawah bendera Tiga Serangkai Group dan PT Tiga Serangkai Inti Corpora.

Meski roda kepemimpinan diserahkan kepada anak-anaknya, Siti Aminah-lah yang menjadi jiwa dari kerajaan bisnis yang dirintis sejak tahun 1959 bersama mendiang suaminya, Abdullah Marzuki.

”Saya sudah pensiun, tetapi saya tidak mau hanya di rumah. Jadi, setiap hari masih ke kantor, seperti pegawai, karena saya sudah lekat dengan pekerjaan ini. Kalau hanya di rumah, bengong. Di kantor, saya bisa lihat karyawan sekaligus memotivasi generasi selanjutnya agar bekerja lebih sungguh-sungguh,” kata Aminah beberapa waktu lalu seusai peluncuran biografinya yang ditulis Alberthiene Endah, Edupreneurship Siti Aminah Abdullah: Menguak Jendela Ilmu.

Aminah dan Abdullah semula adalah guru sekolah dasar. Berbekal keprihatinan atas minimnya akses para siswa di daerah terpencil terhadap buku pelajaran, keduanya kemudian nekat membuat buku dan menerbitkannya sendiri. Sebagai pendidik, keduanya tidak ingin menyerah dan hanya menunggu melihat keterbatasan fasilitas pendidikan di daerah tempat mereka mengajar.

Abdullah diam-diam memiliki bakat bisnis, sedangkan Aminah adalah pembelajar cepat yang menyerap strategi sederhana, tetapi efektif, sang suami dalam mengembangkan usaha. Awalnya, keduanya mengambil buku-buku dari sebuah toko buku di Solo, Toko Buku Tiga, untuk dijual kembali di warung di depan rumah mereka di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Saat itu, Aminah sudah tidak lagi mengajar di kampung halamannya karena harus mengurus anak pertama mereka dan mengikuti sang suami yang bertugas di Sekolah Dasar Watukelir, Sukoharjo.

Buku-buku pelajaran dijual bersama dengan hasil bumi yang dijual Aminah di warungnya. Buku-buku itu laris dibeli para guru karena warung mereka berdekatan dengan Kantor Pemeriksaan Sekolah Kecamatan Wuryantoro.

Tidak berhenti sampai di sini, Abdullah yang prihatin dengan sistematika penulisan buku yang tidak praktis terdorong menyusun buku sendiri. Isinya, intisari pelajaran yang dipadukan dengan tren soal ujian dari tahun ke tahun yang ditulis dengan bahasa yang mudah dicerna siswa.

Buku yang disusun Abdullah kemudian diberi judul Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) dan Himpunan Pengetahuan Alam (HPA). Buku ini dicetak stensil di percetakan yang dimiliki pemilik Toko Buku Tiga, Wie Sang Hien, lalu diberi cap Tiga Serangkai (TS). Buku terbitan perdana ini juga laris manis dibeli guru, bahkan orangtua murid.

Untuk pemasaran yang lebih luas, digunakan strategi Abdullah yang sederhana, tetapi cemerlang. Keduanya yang mulai dibantu beberapa karyawan mengirim selebaran dan sampel buku melalui pos ke semua sekolah dasar (SD) negeri 1 yang ada di tiap kecamatan di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Strategi yang dilandasi logika sederhana bahwa di setiap kecamatan hampir pasti terdapat SD negeri 1 terbukti sukses dengan membanjirnya pesanan. Langkah ini diterapkan untuk merambah pasar Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Begitulah, Aminah mengaku, sejak dulu mereka hanya mengalir, tidak memasang ambisi dalam berusaha. Hanya saja, mereka berupaya menjaga kejujuran dan kepercayaan relasi serta bekerja keras yang diiringi tawakal (sikap menerima) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari Wuryantoro, usaha TS berpindah ke Sukoharjo, lalu ke Solo, agar mudah diakses pelanggan dan cepat mengikuti perkembangan di bidang penerbitan. Keduanya lantas mampu membeli alat cetak pertama. Abdullah pun memutuskan pensiun sebagai guru untuk mencurahkan waktu sepenuhnya pada usaha penerbitan dan percetakan buku.

Begitulah, seiring dengan menanjaknya popularitas buku-buku TS tahun 1970-an, usaha Aminah dan Abdullah juga semakin maju. Namun, ini bukan tanpa kendala. Sistem dagang sederhana dengan pemberian rabat 20-30 persen kepada grosir dan toko buku menemui tantangan saat merebak sistem penjualan langsung ke sekolah. Perlahan-lahan toko buku pun menemui kematiannya.

Aminah terbiasa mengikuti sang suami pergi ke kantor sejak pagi. Ia pun tak asing dengan detail kegiatan sang suami, termasuk filosofinya dalam berusaha. Ini ternyata berhikmah lancarnya pergantian tongkat estafet kepemimpinan ketika tiba-tiba Abdullah meninggal dunia tahun 1990 karena jantung koroner. Ketegaran Aminah, ditambah dengan intuisi dan inovasi bisnis yang sebagian terbentuk saat bersama sang suami membesarkan usaha, membuatnya cepat beradaptasi dan mampu tetap mengibarkan bendera TS.

Tiga Serangkai Group membawahi tujuh perusahaan yang bergerak di bidang distribusi, ritel, serta percetakan dan penerbitan, seperti buku pelajaran, buku umum, tas kertas untuk ekspor, Al Qur’an, dan buku-buku bersampul keras. Grup ini juga merambah bidang lain dalam bentuk afiliasi, seperti bengkel, pondok pesantren, akademi seni dan desain, sekolah dari tingkat TK-SMA, hingga periklanan.

Perpindahan tongkat estafet kepada generasi kedua pun berlangsung relatif lancar kepada anaknya, Eny Rahma Zaenah, dan menantunya, Syarifuddin Noor. Kedua anaknya yang lain, Syamsu Hidayat dan Ridwan Jauhari, dibebaskan mengelola bidang yang disukai, tetapi tetap berafiliasi dengan TS. (Sri Rejeki)

Sumber: Kompas, 11 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan