-->

Tokoh Toggle

Ridwan Alimuddin, Mendokumentasikan Maritim Mandar

Dia tampil memaparkan konsep hukum dan pranata sosial nelayan Mandar, Sulawesi, pada simposium di Universitas Kyoto, Jepang, tahun 2006. Kini ia siap-siap mendampingi 12 nelayan Mandar mengikuti Festival Perahu Layar Dunia di Brest, Perancis, Juli nanti.

Itu hanya salah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan Muhammad Ridwan Alimuddin dalam mendokumentasikan budaya maritim Mandar. Empat buku tentang Mandar ditulisnya dalam 5-6 tahun terakhir.

Dari segi jumlah, mungkin karyanya belum seberapa. Namun, karya intelektual Ridwan menjadi berbeda karena diperkaya dengan film dokumenter dan fotografi. Pantas jika ia menjadi rujukan bagi pemerhati kemaritiman Mandar, termasuk kalangan media dan akademisi mancanegara.

Mandar adalah salah satu suku yang mendiami jazirah barat Pulau Sulawesi. Suku yang ”kental” dengan laut ini tersebar di pesisir Sulawesi Barat, mencakup Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara.

Suku yang berpopulasi sekitar 1 juta jiwa ini hidup berdampingan dengan tiga suku lainnya di provinsi tetangga, Sulawesi Selatan, yakni Bugis, Makassar, dan Toraja. Sebagian orang Mandar juga berdiam di Ujunglero, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Inisiatif meneliti budaya Mandar berangkat dari keprihatinan Ridwan akan minimnya kepustakaan tentang budaya Mandar. Saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, dia sempat kesulitan mencari referensi untuk membuat skripsi.

”Waktu itu, satu-satunya buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan di Yogyakarta adalah Hukum Laut, Pelayaran, dan Perniagaan Sulawesi Selatan karya (almarhum) Baharuddin Lopa,” kata Ridwan saat ditemui di rumahnya di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dua pekan silam.

Jika Lopa lebih mengedepankan teori hukum kemaritiman, Ridwan terdorong mendalami peranti teknis nelayan Mandar. Agar fokus pada proses penelitian, tahun 2001, di tengah kuliah yang telah dijalani empat tahun, ia cuti kuliah empat semester.

Ia memulai penelitian di kampung halamannya, komunitas nelayan Pambusuang, Balanipa, dan Tangnga-Tangnga, Tinambung. Ia turut melaut bersama nelayan demi mendalami teknik penangkapan ikan dengan rumpon, tempat berkumpulnya ikan untuk berbiak yang sengaja dipasang nelayan di laut. Bahannya dirakit dari pelepah daun kelapa, ijuk dan sejenisnya, serta barang-barang bekas.

Mendalami ”sandeq”

Ridwan, putra pasangan Alimuddin dan Rahma Yasli, juga mendalami teknik penangkapan ikan dengan pukat cincin di Selat Makassar. Ia merasakan sensasi luar biasa saat ikut berburu ikan tuna dengan sandeq, perahu layar bercadik khas Mandar, yang dapat melaju hingga 40 kilometer per jam meski hanya digerakkan tenaga angin. Pengetahuan navigasi ia serap dari nelayan yang mengandalkan intuisi dan bintang di langit.

Ridwan tertarik meneliti lebih jauh seluk-beluk perahu sandeq. Ia lantas berkenalan dengan Horst H Liebner, peneliti maritim Nusantara asal Jerman yang menggagas festival Sandeq Race sejak tahun 1995.

”Saya banyak berguru pada Horst, orang Eropa yang amat peduli pada kearifan lokal Mandar,” kata anak kelima dari tujuh bersaudara itu.

Sandeq Race adalah ajang balap sandeq dengan rute Mamuju-Makassar. Peserta berlayar sejauh 300 mil laut (sekitar 540 kilometer) selama 10 hari.

Semakin hari, ia kian larut dan menikmati penelitiannya di laut. Ridwan lalu menetapkan hati untuk menjadi peneliti dan penulis agar kebudayaan Mandar mendunia.

Setahun kemudian, buku pertama Ridwan, Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?, diterbitkan penerbit Ombak, Yogyakarta. Buku ini berisi hasil penelitiannya tentang penggunaan bom ikan di Selat Makassar, Laut Jawa, dan Laut Banda yang disebutnya sebagai segitiga emas bahari Nusantara. Buku ini ia lengkapi film dokumenter Racun dan Bom Ikan, bekerja sama dengan Studio UMI Jepang.

Lewat bukunya yang lain, Orang Mandar Orang Laut, ia kembali mengisahkan kemampuan orang Mandar beradaptasi dengan zaman. Buku setebal 143 halaman itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2005.

Berkat ketekunannya, Ridwan pun diundang menjadi pembicara dalam simposium internasional di Universitas Kyoto, Jepang, pada 2006. Dalam forum yang diikuti perwakilan lebih dari 20 negara itu, ia memaparkan hukum pranata sosial dalam teknik penangkapan ikan rumpon di kalangan nelayan Mandar.

Sepulang dari Jepang, Ridwan kian intens membantu Horst dalam menyelenggarakan Sandeq Race yang rutin digelar setiap tahun. Animo nelayan dalam ajang balapan perahu layar itu cukup besar. Dari semula diikuti 20 perahu, tahun 2011 ajang balapan ini menyedot lebih dari 50 peserta.

Tahun 2008 Ridwan membantu stasiun televisi Jepang, NHK, membuat film dokumenter tentang perburuan telur ikan terbang. Telur ikan terbang merupakan komoditas ekspor selain ikan tuna.

Setahun berselang, buku ketiga Ridwan, Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, dikeluarkan penerbit Ombak bekerja sama dengan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar serta Yayasan Ad- Daras Matakali. Buku ini mengulas rinci bentuk dan filosofi sandeq.

Ridwan lalu melengkapi informasi tentang kebudayaan Mandar dengan buku Mandar Nol Kilometer yang terbit tahun 2011. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu berisi kumpulan esai yang menjelaskan serba- serbi kehidupan orang Mandar pada masa lalu sampai kini.

Ketertarikan Ridwan pada kebaharian Mandar tak lepas dari pengalaman masa kecil hingga dewasanya. Meskipun sang ayah bekerja sebagai pandai emas, Ridwan hidup di perkampungan nelayan Mandar di Tinambung. Istrinya, Hadijah, juga tinggal di kampung nelayan Pambusuang.

Kini Ridwan tengah merampungkan buku Bingkai Sejarah Kabupaten Polewali Mandar, buku fotografi Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia, serta Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Mandar.

Ridwan adalah satu di antara sedikit tokoh muda yang mau peduli pada budaya Mandar.(M FINAL DAENG)

Sumber: Kompas, 24 Februari 2012, hlm 16

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan