-->

Resensi Toggle

Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi

Pramoedya-SavitriPramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi
Judul Asli: From Culture to Politics: The Writings of Pramoedya A Toer. 1950-1965, tesis Phd, Australian National University (1981)
Penulis: Savitri Scherer
Penerjemah: Dalih Sembiring, Astrid reza, Abmi Handayani
Tebal: xviii + 190 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2012

Pram Mati Meninggalkan Polemik
Oleh: Muhidin M Dahlan

Buku ini terbit sekira enam tahun setelah Pram mangkat atau 40 tahun setelah draf buku ini selesai dituliskan. Artinya, buku ini bukan buku yang ditulis ketika Soeharto tumbang, melainkan di masa ketika Pram dikucilkan dan semua suara diawasi. Di masa itu, sekadar mengepit (bukan membaca) buku Pram saja dianggap subversif.

Tapi penulis buku Keselarasan dan Kejanggalan (1985) yang nyaris klasik ini beruntung. Di saat kelompok Intelektual Indonesia hanya membaca Pram secara klandestin, ia leluasa menyigi nyaris semua karyanya. Perpustakaan Universitas Nasional Australia menyimpan dengan baik esei, cerpen, novel Pram yang diterbitkan di masa pemerintahan Soekarno berkuasa dan Lekra-PKI sedang tegak-tegaknya.

Savitri pulalah yang membantu Pram mengirimkan mikro film Gadis Pantai: untuk yang terkasih dan tersayang (buku pertama dari trilogi) yang dimuat secara bersambung di “Lentera”/Bintang Timur (61 kali pemuatan dan berakhir 23 Oktober 1962). Arsip berharga dari Australia itulah yang membantu generasi Indonesia warsa 80/90 mendapatkan perspektif baru ihwal perlawanan perempuan jelata Jawa, yang bagi Savitri lebih sublim ketimbang Bumi Manusia (hlm 140).

Genealogi perlawanan Pram menjadi fokus kajian Savitri yang mengantarkannya menggondol gelar doktor di Australian National University pada 1981. Ia menyusuri teks-teks yang diproduksi Pram dengan menampik cerita-cerita pribadi yang kere, minder, diusir mertua dan diceraikan istri karena jadi suami/sastrawan penganggur, dan terutama “anak mama” dengan tanggungan 7 adik.

Bagi Savitri, periode 1955-1956 adalah tahun peralihan Pram menjadi seorang yang sadar politik. Di tahun pasca kepulangan dari Belanda itu, ia menulis esei politik pertama berjudul “Djembatan Gantung dan Konsepsi Presiden” (Harian Rakjat, 28 Februari 1957).   Adapun Januari 1959 adalah masa pendaulatannya berada dalam barisan “politik adalah panglima” tatkala Pram ditunjuk mewakili sastrawan Kiri berpidato di arena Kongres Nasional Lekra di Sriwedari Solo.

Di periode itulah Pram menjadi penulis esei yang tajam dan gahar. Eseilah yang mengantarkan Pramoedya menjadi sastrawan berpolitik. Yakni berada di belakang (ideologi) Sukarno. Antologi esei yang ditulis secara bersambung di Bintang Timur, Hoa Kiau di Indonesia, mengantarkannya ke penjara Angkatan Darat. Esei pulalah yang menempatkan Pram berada di nyaris semua polemik (sastra) di kurun 1960-1965.

Paling tidak, selain kasus PP 10/1959 (pengusiran jutaan Kaum Hoa Kiau), Savitri mencatat dua momen polemik yang menguras tenaga kreatif Pram yang membaptsinya sebagai eseis tangguh. (1) debat “Krisis dalam sastra Indonesia” yang membuatnya menarik garis benteng dengan budayawan Gelanggang; (2) konfrontasi dengan kubu yang menamakan diri “Humanisme Universal” yang pada 1963 dituding Pram sebagai kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang dipletoni HB Jassin dan Wiratmo Sukito.

Dari dua polemik itu, Pram menghasilkan puluhan esei yang disusun secara kronologis oleh Savitri. Termasuk eseinya yang paling trengginas: “Yang Harus Dibabat dan Yang Harus Dibangun” (“Lentera”/Bintang Timur, 10 Oktober 1962) dan “Tahun 1965: Tahun Pembabatan Total” (“Lentera”/Bintang Timur, 09 Mei 1965).

Jika pun Pram menulis novel, buku novel yang ditulisnya untuk kebutuhan laga. Misalnya, Sekali Peristiwa di Banten Selatan yang kemudian disadur Putu Oka Sukanta menjadi drama dua babak: Orang-Orang Baru di Banten Selatan. Drama yang dibintangi aktris cemerlang Lekra, Dahlia, beberapa kali dilarang pementasannya, antara lain di Riau dan Sumatera Timur.

Ada dua yang luput dari Savitri. Luput Pertama, posisi Pram sebagai redaktur halaman budaya “Lentera” saat menampilkan polemik plagiat Hamka.  Dalam konteks polemik, posisi Pram di sini mirip komandan batalyon yang memobilisasi prajurit-prajuritnya. Di aras itu, Pram tak hanya menghantam praktik plagiat Hamka, melainkan juga menantang kubu Jassin dan antek-anteknya untuk turun palagan.

Luput Kedua, Savitri tidak memasukkan cerita bersambung Hikayat Siti Maria. Di roman karya Haji Mukti itu, Pram bertindak sebagai editor. Dari Pram kita kemudian tahu bahwa editor bukan profesi netral yang dipahami saat ini, melainkan posisi politis yang menentukan bagaimana sebuah karya ditempatkan dalam konteks pembaca. Puluhan tahun kemudian, atas dua profesi itu (redaktur dan editor), Pram dilabeli juru fitnah yang meludahi muka Buya Hamka (Taufiq Ismail) dan  sekaligus sastrawan tukang selingkuh (Dwi Susanto).

Pertama kali dipublikasikan Jawa Pos, 5 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan