-->

Kronik Toggle

Pepi 'Bom Buku' Tak Siap, Pledoi Ditunda

Jakarta – Sidang pembelaan (pledoi) terdakwa terorisme bom buku Pepi Fernando ditunda karena terdakwa dan kuasa hukumnya tidak siap membacakan pledoi. “Seharusnya sidang pledoi, tapi mohon maaf tidak siap,” kata kuasa hukum Pepi Fernando yang juga kuasa hukum Umar Patek, Asludin Hajani, saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin, 20 Februari 2012.

Ketua majelis hakim langsung menjadwalkan ulang sidang pledoi pada Kamis, 23 Februari 2012, pukul 10.00. Hal ini setelah mempertimbangkan masa tahanan terdakwa yang hanya sampai 15 Maret 2012 dan masih ada beberapa agenda sidang lain seperti replik dan duplik.

Pepi yang mengenakan baju lengan panjang warna krem mengatakan ketidaksiapannya membacakan pledoi ketika ditanya ketua majelis hakim. “Saya tidak siap,” kata Pepi singkat. Ekspresi wajah Pepi pun terlihat datar. Saat hakim memutuskan menunda sidang, ia langsung pergi meninggalkan ruang sidang melalui pintu belakang.

Pekan lalu jaksa penuntut umum menuntut Pepi dengan hukuman seumur hidup. Ia dinilai terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Pasal 15 juncto Pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme. Ia terbukti telah melakukan perbuatan bermufakat mencoba melakukan teror, merusak bangunan, dan meresahkan masyarakat.

Pepi bersama 16 anggota kelompoknya terlibat dalam enam tindak pidana terorisme dari Agustus 2010 sampai April 2011. Ia merakit bom termos yang ditujukan bagi rombongan Presiden SBY di daerah Cawang. Pada Maret 2011, mereka merakit bom buku. Bom ini kemudian dikirim ke Endriarto Anas, musisi Ahmad Dhani, Ulil Abshar Abdalla, dan Goris Mere.

Pada bulan yang sama Pepi kembali berupaya menyerang rombongan Presiden SBY dengan sebuah bom berbentuk kotak yang diletakkan di pinggir Jalan Raya Alternatif Cibubur. Namun rencana itu batal karena patroli polisi. Dia juga mencoba menyerang Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di daerah Tangerang Selatan, tapi gagal.

Pepi dan kelompoknya juga berencana meledakkan sebuah gereja di daerah Kranji Bekasi. Ini pun dibatalkan. Mereka memindahkan sasarannya di sebuah jembatan di Kanal Banjir Timur. Dua hari kemudian mereka mendapatkan informasi bahwa seorang pemulung tewas di lokasi mereka meletakkan bom.

Terakhir, mereka kembali merencanakan serangan di Gereja Christ Cathedral Serpong dengan bom yang berbentuk pipa. Sebelum bom itu meledak, Pepi keburu ditangkap di Aceh pada 21 April 2011.

ANANDA W. TERESIA

*)Tempo.co, 20 februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan