-->

Kronik Toggle

Pakar: Indonesia Miskin Bacaan Berbudaya

JAKARTA— Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rachman MPd menilai bahwa negara kita kekurangan bahan bacaan anak-anak yang bertemakan budaya.

“Kita ini miskin bacaan kultural, kebanyakan bacaan anak-anak sekarang ini bersifat teknologi dan dunia global,” kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut dalam acara peluncuran serial buku bergambar untuk anak-anak berbahasa Inggris The Tale of Didgit Cobbleheart di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Arief mengatakan, kurangnya bahan bacaan yang bisa memberi informasi mengenai akar kebudayaan bangsa dapat menyebabkan krisis kebudayaan.

“Dalam kebudayaan bangsa kita terdapat nilai-nilai kearifan tersendiri yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang dan penyaring budaya global,” kata dia.

Bacaan yang mengandung nilai-nilai kultural akan melekat dalam karakter anak-anak sampai nanti mereka dewasa. “Karakter adalah nilai-nilai baik yang dalam keadaan terdesak pun masih bisa bertahan, bayangkan kalau anak-anak zaman sekarang tidak pernah mengenal kebaikan,” kata dia.

Meski begitu, Arief tidak menganjurkan sikap antipati karena bagaimanapun, menurut dia, dunia sudah berubah menjadi lebih global.

“Selain bacaan yang mengangkat budaya bangsa, pendidikan lintas budaya juga penting agar anak-anak mengenal perbedaan dan bisa mengatasi itu dengan baik. Tuhan tidak pernah membuat kita sama, jadi jangan antipati terhadap budaya luar,” kata dia.

*)Oase Kompas, 15 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan