-->

Lainnya Toggle

Onno W. Purbo, Peniup Seruling dan Pustakawan

Oleh:Bambang Haryanto

“Anda dari mana ?”

Itulah sepotong pertanyaan yang lajim diajukan oleh para resepsionis suatu kantor kepada tamu yang hendak menemui seseorang karyawan di kantor bersangkutan. Jawaban yang lajim adalah, tamu tersebut harus menyebutkan  nama instansi tempat dirinya bekerja.

Tetapi kalau pertanyaan serupa diajukan kepada Dr. Onno W. Purbo, situasi agak kurang enak segera terjadi. Karena ia akan menjawab bahwa dirinya, “Dari rumah.”

Padahal itu jawaban yang sejujurnya. Karena tokoh pergerakan demokratisasi layanan teknologi dan informasi Indonesia itu memang tidak memiliki kantor. Kantornya ya di rumahnya itu pula. Selepas berhenti dari pekerjaannya sebagai pengajar di ITB, ia berstatus sebagai penulis.

Dalam acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogyakarta, Juli 2010, saya bisa menemuinya. Baru kali itu bisa bertemu muka. Karena bertahun sebelumnya kontak antarkita hanya lewat email. Hal serupa juga terjadi dengan Donny Budi Utoyo, tokoh penggerak Internet Sehat.

Kebetulan majalah Esquire edisi Juni 2010 memuat profil Onno W. Purbo. Sementara di halaman lain tersaji fitur tentang perangai suporter sepakbola Indonesia yang, apalagi, kalau bukan suka membuat kerusuhan. Dalam tulisan itu pendapat saya dikutip  dalam kapasitas sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000) yang diakui di Museum Rekor Indonesia (MURI).  Majalah itu saya bawa, lalu saya minta tanda tangan Kang Onno.

SOLO CYBER DAY 2011. Tanggal 4 Desember 2011, kami bertemu lagi. Kepada Kang Onno dan Mas Donny, lagi-lagi saya minta tanda tangan lagi. Kali ini di kanvas kenangan keluarga besar saya Trah Martowirono yang ikut berperanserta mengelola salah satu stan dalam acara Solo Cyber Day 2011.

Orasi Onno W. Purbo di tengah ribuan siswa dalam acara Solo Cyber Day, 4 Desember 2011, di Solo.

Yang mengesankan adalah orasi dan diskusi Onno W. Purbo (dalam lingkaran) di depan ribuan siswa-siswa SMP-SMA Solo yang masing-masing memangku laptop. Saya segera membayangkan dirinya sebagai tokoh dalam dongeng terkenal, Peniup Seruling Dari Hamelin.

Dongeng itu saya kenal waktu duduk di klas 5 SD 3 Wonogiri. Teman sekelas saya, Mulyadi, yang menceritakannya di kelas. Tentang desa yang diamuk ribuan tikus, warganya tidak berdaya, hingga menemukan seorang peniup seruling yang berkemampuan magis. Warga desa kemudian meminta bantuannya.

Singkat cerita, ketika serulingnya ia tiup maka ribuan tikus mengikutinya. Barisan tikus-tikus itu ia pandu untuk memasuki gua, dan gua itu kemudian ia tutup selamanya.

Masalah besar lalu muncul. Warga desa tersebut ingkar janji. Tidak membayar si peniup seruling itu sesuai kesepakatan semula. Peniup Seruling jadi marah besar. Ia lalu kembali meniup seruling, tetapi kali ini bukan lagi tikus, melainkan ratusan anak-anak desa itu yang mengikutinya.

TINGGALKAN SAJA PERPUSTAKAAN. Sebelum acara Solo Cyber Day 2011 itu saya memperoleh titipan pesan di Facebook dari Bapak Blasius Sudarsono. “Titip salam untuk Onno. Ia dulu suka ngobrol di PDII-LIPI ketika masih menjabat sebagai Kepala Perpustakaan ITB Bandung.”

Baru tahu bila Kang Onno itu juga (pernah sebagai) pustakawan. Tetapi di mata saya, di pagi di depan Sriwedari Solo itu, ia ibarat seorang peniup seruling yang mengajak ribuan anak-anak untuk ramai-ramai keluar dari perpustakaan. Untuk meninggalkan perpustakaan.

Berkali-kali ia mengajak para pelajar itu untuk mengelola blog dan membujuknya agar mau meng-update isinya setiap hari. Anak-anak itu sepertinya ia giring untuk meninggalkan perpustakaan fisik (atom), untuk kemudian membangun sendiri perpustakaan maya yang berisi koleksi karya-karya mereka sendiri.

Imajinasi saya itu mungkin berlebihan. Mungkin juga tidak benar. Tetapi kesan saya sebagai pengunjung perpustakaan umum di Wonogiri sepertinya membenarkan dugaan itu. Beberapa tahun lalu, setiap jam bubar sekolah, banyak anak-anak SD mampir ke perpustakaan. Ketika  disediakan layanan akses Internet, mereka ramai-ramai berpindah dari buku ke  depan monitor komputer.  Tetapi tak lama kemudian, komputer-komputer itu kini lebih banyak menganggur.

Kemana perginya anak-anak itu ?

Sebagian saya temui sosok-sosoknya di Facebook. Mereka mengaksesnya melalui telepon seluler. Teman mayanya rata-rata diatas seribuan. Dengan nama-nama diri yang aneh mereka mampu membuat koloni sendiri, dengan bahasa sendiri, dengan merumpikan topik sesuai minat mereka sendiri pula. Hal serupa kiranya juga terjadi di kalangan pengguna perpustakaan yang lebih dewasa. Orang tua, guru, apalagi pustakawan, karena gaptek atau sempitnya wawasan, tidak mampu menembus untuk masuk dunia mereka.

Saya tidak tahu apa topik ini pernah menjadi isu serius di kalangan pustakawan Indonesia. Tetapi melihat kalangan pustakawan Indonesia yang lebih suka bersibuk dengan diri mereka sendiri, saya pesimis topik ini sudah masuk dalam jangkauan radar mereka.

Masih ada kabar baik. Pada akhir orasinya dalam acara Solo Cyber Day 2011 itu Kang Onno ibarat membunyikan seruling yang semoga terdengar bernada indah di kalangan pustakawan.

Untuk warga Solo, selain ia mengharapkan banyak menerima email dari para pelajar untuk perbincangan lebih lanjut, ia juga menghibahkan perpustakaan digital pribadinya. Sebesar 800-an gigabyte. Aksi Kang Onno itu langsung menimbulkan gejolak dan teka-teki yang menggumpal pada diri saya :

“Di era digital ini, alangkah hebat dan dahsyatnya bila pustakawan tidak hanya berperan secara tradisional sebagai administrator informasi. Tetapi sekaligus juga sebagai produser informasi.

Dengan demikian, siapa tahu, kemudian pustakawan bisa menyulap dirinya menjadi peniup seruling yang alunan nadanya mampu mengundang anak-anak yang hilang untuk kembali ke perpustakaan.”

Wonogiri, 11/2/2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan