-->

Lainnya Toggle

Kidung Sastra di Bumi Dewata

Oleh Titania Febrianti

Setelah menghirup napas panjang, ia mulai menghidupkan isi naskah tersebut dalam nyanyian syahdu berirama lamban. Kalimat Jawa Kuno yang berasal dari turisan (torehan) kisah karya Mpu Tantular dalam lontar Kakawin Sutasoma mengalir dari mulutnya:

“Ri tan somyan… teng bhumi sahana… muwah ring kadi kami… “

(Jika engkau tiada berbelas kasih dan memperhatikan dunia seperti kami ini…)

Suaranya nyaring mendayu-dayu, menyejukkan hati dan udara yang menyengat siang itu. Setelah dua kali mewirama atau mendendang¬kan kalimat tersebut, ia mengerling ke arah Ni Nyoman Putriasa yang duduk di sisi kanannya,  berhenti sejenak, kemudian tersenyum dan mengangguk. Dengan langgam puitis, Ni Nyoman Putriasa menerjemahkan kalimat itu ke dalam bahasa Bali.

Beberapa fragmen dalam lontar Kakawin Sutasoma yang digubah enam ratus tahun silam ini harus dilantunkan dalam lomba mewirama pada acara Pesta Kesenian Bali 2011 yang terselenggara setiap pertengahan tahun di Denpasar. Inilah penggalan cerita kala Sutasoma yang rupawan mendapat wejangan dari Dewi Pertiwi dalam pelariannya ke hutan karena menolak ditahbiskan oleh sang ayahanda menjadi raja.

Bagi saya, kisah Sutasoma tidak lebih dari naskah yang mengandung kalimat bhineka tunggal ika, yang tertera pada Garuda Pancasila. Namun, kini kisah itu menjadi begitu merdu di tangan masyarakat Bali. Imajinasi saya lantas melayang kembali ke ratusan tahun yang lalu, saat syair ini diciptakan dan dilantunkan secara turun-temurun, hingga saat ini.

Di tengah alunan suara seruling Bali, saya dan I Ketut Suharsana, Kepala Perpustakaan dan Museum Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Gedong Kirtya yang kini bernaung di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Buleleng, bercakap-cakap di ruang kerjanya yang dipenuhi oleh perabot kayu.

Gedong Kirtya, yang awalnya bernama Stichting Liefrinck Van der Tuuk merupakan sebuah yayasan penyimpanan lontar. Yayasan ini didirikan berdasarkan hasil Pertemuan Kintamani oleh para cendekiawan Hindia Belanda, yang dihadiri pula oleh para pinandita (pemuka agama) dan raja-raja Bali, pada 1928. Dulunya gedung ini juga diperuntukkan bagi penyimpanan hasil penerbitan berkala yang terkait dengan segala penelitian yang dilakukan di pulau dewata.

Sejak saat itu, lontar-lontar milik masyarakat giat dipinjam dan digandakan ke atas lontar baru. Hingga tahun 1987, Gedong Kirtya mampu menyalin sekitar 4.000 buah lontar dengan beragam isi.

Namun, cita-cita pendiri untuk memusatkan salinan lontar tersebut di bumi Singaraja tak berlangsung lama. Suharsana berkisah, sejak perpindahan ibu kota provinsi dari Singaraja ke Denpasar sesuai keputusan Keputusan Menteri Dalam Negeri pada 1960 karena dinilai lebih representatif sebagai cermin ibu kota, Gedong Kirtya pun mulai terseok-seok membiayai kegiatan operasionalnya.

“Tahun 1987, turunlah Surat Keputusan Gubernur yang membubarkan Yayasan Gedong Kirtya,” ujarnya. Bersamaan dengan itu, datanglah kendaraan yang memboyong sebagian koleksi lontar Gedong Kirtya ke Denpasar. “Kalau ada dua lontar yang sama, ditinggal satu. Kalau hanya satu, ya dibawa,” lanjutnya. Sampai saat ini, lontar-lontar itu tersebar di perpustakaan lontar di daerah lain, salah satunya di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar.

Pada 2007, pendokumentasian dilaksanakan terhadap naskah-naskah lontar yang tersisa. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Perpustakaan Nasional. Kala itu, ada 32 naskah lontar yang isinya sempat didokumentasikan dalam bentuk film.

Kini, memasuki ruang lontar Gedong Kirtya seperti kembali ke masa lalu: naskah-naskah lontar didekap keropak atau kotak kayu, ditata apik di atas dua buah rak cokelat tua bertingkat enam. Di rak sepanjang sekitar tiga meter itu setiap keropak memiliki keterangan di ujungnya. Satu keropak mewadahi beberapa buah lontar.

“Ruang lontar yang ada di sini kita sucikan, lontar-lontarnya juga kita sakralkan,” ujar Suharsana. Di ujung lorong rak tampak meja sesaji. “Masih banyak lontar tahun 1800-an yang ada di sini,” lanjutnya. Sementara di dekat pintu masuk, beberapa buah rak berkaca disesaki buku-buku tua dari zaman Belanda yang warnanya kuning kecokelatan.

Tak berapa lama, sekelompok turis Eropa masuk ke ruangan dan berceloteh dalam bahasa Prancis dan Jerman. Di akhir kunjungan, mereka menyodorkan nama dan tanggal kelahiran, untuk diukir dalam aksara lokal di atas lontar, berikut dewa, atau satwa hari kelahiran berdasarkan penanggalan Bali.

Sebelum pergi, saya sempat melihat tulisan yang tergantung di dinding kantor. Menurut catatan koleksi bertanggal 31 Mei 2011, jumlah buku berbahasa Belanda yang dikoleksi Gedong Kirtya: 8.490 buah. Naskah lontar yang pernah disalin: 7.211 buah (sejumlah 4.000-an naskah disalin ke dalam lontar, sisanya adalah salinan isi lontar di atas kertas ). Sesaat mata saya sempat terpaku pada jumlah lontar yang ada kini: 1.757.

Di Tanah Riau yang tersohor akan kecantikan naskah Melayu, Anna Soraya, Kepala Divisi Konservasi Perpustakaan Nasional, berniat melakukan pelestarian dan pendokumentasian naskah. Setelah melewati perjalanan panjang dan tiba di rumah penduduk, ia tercengang saat disuguhi  kertas putih bertinta hitam: Lembaran fotokopi. Naskah asli berbahan dluwang (semacam kertas berbahan kulit kayu) telah dijual ke negeri tetangga, sang pemilik mengakui.

Tak hanya I Ketut Suharsana yang pilu  kehilangan lontar-lontar koleksi Gedong Kirtya. Nusantara nan kaya akan ragam aksara dan naskah (karya berbentuk tulisan tangan dan berusia lebih dari setengah abad) kerap memikat negara lain. Perpindahan naskah-naskah kuno ke tangan bangsa Eropa sejak zaman penjajahan, atau naskah tua yang berleret apik di rak kaca museum negara tetangga, bukanlah cerita baru. Sementara di rumahnya sendiri, naskah yang bersolek ilustrasi warna-warni dan tulisan tangan berabad-abad usianya ini kadang tak lagi punya nilai di tangan sang empunya.

“Perdagangan naskah memang sudah ada sejak dulu. Naskah yang dijual sekarang ini sudah naskah kualitas nomor dua atau tiga dari segi isi dan keindahan ilustrasinya,” ujar Anna di ruang kantornya yang lapang. Ia juga berkisah tentang Babad Imam Bonjol yang berpindah tangan dengan nilai rupiah yang spektakuler ke negara tetangga.

Kala melakukan pelestarian dan dokumentasi, banyak suka duka yang ia lewati. Anna tak hanya menjumpai pemilik naskah yang tega merelakan naskah nenek moyangnya, tetapi juga pemilik yang amat melindungi naskahnya walau mereka tidak tahu pasti isi yang terkandung di dalamnya sehingga membuat para pelestari sulit melaksanakan tugasnya.

Para pemilik naskah juga sadar betul akan nilai ekonomis yang dikandung oleh lembaran-lembaran kuno ini di mata orang asing. Di  tanah Aceh, Anna berjuang memenuhi tuntutan seorang istri almarhum pemilik pesantren yang menginginkan sebuah mesin cuci, sebagai syarat agar timnya bisa melakukan pelestarian dan pendokumentasian naskah. Namun mereka tak jua berhasil memotret isi naskah-naskah tersebut—hanya sampulnya dengan alasan mantra di dalamnya takut disalahgunakan. Beberapa bulan kemudian peneliti asing berhasil mendokumentasikan naskah-naskah tersebut.

Anna dan timnya tak sendiri dalam usahanya melestarikan atau memperbaiki naskah-naskah Nusantara. Di Palembang, mata Titik Pudjiastuti dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berbinar saat sekarung kumpulan naskah kuno yang konon berusia ratusan tahun dibawa turun dari loteng sebuah masjid dan disorongkan ke hadapannya. Saat ikatan dibuka, saat itu pula hatinya luruh. Karya yang tak terperi nilainya itu menyerpih dilahap rayap. “Akhirnya kita hanya bisa menangis,” ujarnya pilu bercampur gemas.

Di tengah upaya penyelamatan, para pelestari juga berusaha menyadarkan penduduk akan nilai warisan ini sesungguhnya. Mereka memberi edukasi mengenai perawatan naskah agar warisan leluhur ini tetap terjaga. Bahan yang dijumpai sehari-hari seperti air kapur sirih, cengkeh, lada, atau tumbukan halus arang kayu bisa mencegah ngengat dan kelembapan.

Di tanah Khatulistiwa, seiring bertambahnya usia, semakin rendah pula daya tahan sebuah naskah terhadap kelembapan juga rayap. Budaya penyalinan naskah kuno bermedia kertas semakin pupus. Maknanya pun hanya segelintir orang yang paham. Namun di Pulau Dewata, tradisi penyalinan naskah serta pemahaman isinya masih terus berlangsung hingga saat ini.

Di rumahnya yang berudara sejuk di daerah Jasi, Karangasem, Bali, I Wayan Edi Wistara memamerkan sulitnya menuris di atas lontar saat ia baru mempelajarinya sekitar dua puluh tahun silam. Pengrupak atau pengutik, alat yang digunakan, dipegang dengan jari kanan hampir sama dengan cara memegang pensil, tetapi jempol kiri ikut memberikan penekanan. Kerumitan semakin bertambah mengingat lontar ini diukir pada dua sisinya.

“Penekanan harus benar agar cukup untuk menggores lontar namun tak cukup dalam untuk membuatnya berlubang,” jelas Wayan sambil menekuri lontar yang baru saja ia turisi.

Lontar yang ia kerjakan tak melulu disalinnya dari lontar lain. Kadang orang datang kepadanya untuk meminta agar bukunya disalinkan ke lembar lontar, layaknya kisah Bharatayuddha. Doa-doa dan upacara kecil dilaksanakan sebelum dan sesudah menuris lontar.

Sikap juga harus diperhatikan. “Posisi kedua tangan sejajar dengan ulu hati,” ujar Ida I Dewa Gde Catra, yang saya panggil Pak Catra, seorang penyalin lontar yang tinggal di Amlapura. Sikap tubuh juga harus tegak. “Napas juga harus diatur agar tulisan stabil, karena itulah saya beryoga. Saat menulis, lembar lontarlah yang bergerak ke arah kiri. Bukan tangan kita”, lanjutnya.

Bali yang memulai banyak catatan menggunakan lontar masih dikenang Catra yang lahir pada 1935. Pria yang tak terlihat setua umurnya ini berkisah, bahwa catatan kelahiran, jual beli tanah, serta administrasi kemasyarakatan lainnya dituris di atas lontar dengan aksara bali. “Saya alami langsung hal itu sampai dengan sebelum tahun 1950,” paparnya.

“Hampir di setiap rumah orang Bali yang beragama Hindu pasti memiliki lontar. Ini sebenarnya boleh dikatakan satu kekayaan terpendam di masyarakat,” ujar Catra yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah.

Selain menyalin, ia juga tersohor akan produksi blangko lontarnya yang awet dan bermutu tinggi. “Mulai dari proses menebang daun lontar hingga jadi, bisa memakan waktu hingga dua tahun. Memang pekerjaan yang menjemukan,” ungkapnya.

Pada 1978, enam tahun setelah ia mulai belajar menuris lontar, Catra dihadapkan pada lontar tua rapuh dari Griya Pidada yang berjarak sekitar dua kilometer dari tempatnya tinggal kini: Sebuah salinan lontar Nagarakretagama berisi kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk saat beranjangsana dari Majapahit ke Lumajang.

Naskah ini ia salin ke atas kertas, seperti apa adanya. “Jika lontarnya bolong ya saya kosongkan isinya,” kenangnya. Sekitar 13 tahun kemudian, tepatnya pada 1991, ia meleburkan diri dalam tim yang merevisi hukum guru lagu Nagarakretagama, dengan acuan catatan salinannya tersebut.

Aksara lontar ini punya tanda khusus karena menggunakan hukum wirama saat membaca. Suara Ni Luh Suyeni seolah muncul di telinga saya saat Catra memamerkan salinan lontar Nagarakretagama miliknya, kini memiliki indeks mewirama. “Jenis mewiramanya 98 kali berganti,” ujarnya bangga.

Keterampilan menuris lontar tidak hanya dimiliki oleh mereka yang terpanggil hatinya untuk menyalin isi lontar-lontar kuno. Di Desa Tenganan nan sunyi, sekitar 30 menit berkendara dari Karangasem, I Nyoman Suanda sibuk menekuri tujuh lempir lontarnya yang diikat berbaris-baris. Ia sedang mempercantik gambar barong yang terletak di bagian paling atas, dari gambar peta bali yang ia turis dengan pengrupaknya. Sesekali ia menggosok lontar tersebut dengan sebutir kecil kemiri yang berfungsi semacam tinta. Kemudian disapunya dengan jemari. Permukaan lontar pun berubah menghitam atau berwarna cokelat,  memunculkan apa yang telah diturisnya.

Di mejanya yang dilapis taplak berwarna hijau itu digelar pula kalender Bali bergambar dewa-dewa yang ditemani kala. Ada yang dalam bahasa asing, ada pula yang dalam aksara Bali dengan gambar lebih rumit dan apik. Selain menekuni gambar-gambar seperti ini, Nyoman juga membuat pesanan seperti tanda mata untuk orang yang menikah di luar negeri, serta kartu nama dengan peta jalan di bagian belakang. Saya teringat, betapa Titik menekankan bahwa tradisi penulisan lontar berjalan dengan amat baik di Bali. Mereka sadar betul, tradisi ini menarik hati turis mancanegara.

Para pewirama bisa menyihir saya saat menghidupkan isi lontar melalui kemerduan suara mereka. Namun, saya menemukan makna lain yang amat mendalam dalam lontar keagamaan yang membawa saya ke bagian selatan Bali. Pagi itu angin berembus kencang di pantai Goa Lawah, mendorong tubuh-tubuh yang berdiri goyah di sela debur ombak yang menghantam pantai dengan tak menentu. Seorang Sri Mpu atau pandita pemimpin upacara, sibuk mengucap mantra di atas pelataran.

Tangan kirinya sibuk menggoyang genta yang bunyi¬nya menusuk telinga, mengalahkan amukan air di depan mata. Orang-orang berbusana putih duduk bersila menghadap laut lepas. Dupa-dupa yang ditancapkan di pasir hitam tak lagi tercium aromanya.

Lima buah sesaji berisi buah dan bunga berjajar rapi di atas pasir, di baris terdepan. Juga dua buah batang menjulang sekitar setengah meter yang akarnya dibalut kain putih, disebut puspa lingga, perlambang ruh orang yang telah tiada. Inilah Upakara Nuntun, yang biasanya diadakan setelah Ngaben dan Memutru, guna menuntun arwah berkeliling pura dan berpamitan kepada para leluhur.

“Nuntun adalah proses Maligya, mempersatukan roh yang lahir ke bumi untuk kembali ke asal. Proses ini mempermaklumkan seseorang yang pernah hidup, agar diampunkan kesalahannya, dan bisa kembali dengan tenang,” papar I Made Suparta dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Inilah upacara yang dihidupkan dari turisan di atas lontar Padma Buana. “Padma Buana adalah sembilan teratai di alam, yang dihubungkan dengan sembilan pura di bali. Secara simbolik biasanya upacara ini dilaksanakan dari tiga pura: pura gunung, tengah, dan laut, atau Pura Besakih, Pura Tampak Siring, dan Pura Goa Lawah,” lanjutnya.

Ni Wayan Widiastuti, dokter gigi yang bermukim di Jimbaran, adalah salah seorang pembawa puspa lingga. Selain ayah dan ibunya, upacara ini juga dipersembahkan bagi kakek dan dua orang kerabatnya.

Hari menjelang senja. Bayangan jatuh memanjang di lantai Pura Besakih. Setelah melakukan upacara selama sehari penuh di delapan buah pura, tibalah kami pada pura pengujung: Pura Penataran Agung. Di sini suara doa menyayup disapu angin di ketinggian. Keluarga yang hadir tak lagi sebanyak saat di Pura Goa Lawah. Perjalanan ini memang berat. Rombongan harus naik turun membawa sesaji yang tak ringan bobotnya ke pura-pura di lembah dan punggungan.

Suara aliran sungai yang membelah Bali Art Center Denpasar pagi itu lenyap dalam riuh lomba di area sekelilingnya. Di area Ratna Kanda, sembilan pria dan sembilan wanita remaja tingkat SMP mewakili kabupaten sedang mengalihaksarakan teks berbahasa Bali berhuruf latin ke dalam aksara Bali di atas daun lontar.

Saya sendiri tercenung di area Ayodya yang tempat duduknya bertingkat-tingkat. Berbalut busana adat berwarna putih dengan kain cokelat muda dan hiasan kepala, Ni Luh Suyeni dan Ni Nyoman Putriasa duduk bersimpuh menghadap keropak di sela asap dupa. Jantung saya berdebar saat mereka kembali mewirama dengan merdu.

Kerja keras pelantun dari Buleleng ini tak sia-sia. Mereka berhasil keluar jadi juara kedua di Pekan Kesenian Bali tahun ini. Di sini, di antara penyalin lontar, di tengah penuris belia, di hadapan pelantun wirama, tiap lempir lontar jadi sarat makna.

Turisan itu tak hanya sekadar torehan di atas daun. Di dalamnya terkandung nilai-nilai yang membuat naskah-naskah kuno terus hidup dan mengalir di dalam jiwa mereka yang memegang teguh budaya yang diturunkan oleh nenek moyang, sejak berabad silam.(*)

*)Nationalgeographicindonesia, januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan