-->

Kronik Toggle

Kabar Resensi Pekan Keempat Februari 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Diskursus Alternatif dalam Ilmu Sosial Asia; Tanggapan terhadap Eurosentrisme

Karya Syed Farid Alatas

Resensi ditulis Yasser Arafat

Dimuat KOMPAS, 26 Februari 2012

Ilmu sosial Barat menjadi rujukan, baik dalam novel konsep, teori, metodologi, penggunaan buku daras,  maupun bantuan dan riset dan pengajaran. Padahal ilmu sosial Barat sendiri memiliki sejumlah cacat bawaan yang sulit dimaklumi hingga kini. Pertama ia merupakan konstruksi pengetahuan sarat penghakiman bahwa Asia dan peradaban  non-Barat lainnya adalah dalil kelatarbelakangan umat manusia. Kedua beberapa konsep kunci dalam ilmu sosial Barat sungguh tak memadai untuk diterapkan di Asia. Misalnya konsep ‘religion’ yang sering dipakai oleh para antropolog dan sosiolog untuk melihat ‘agama’. Ketiga, ada darah kolonialisme yang mengaliri basis produksi dan tata operasionolisme ilmu sosial Barat.

Cerita Cinta Enrico

Karya Ayu Utami

Resensi ditulis Veven SP. Wardhana

Dimuat KORAN TEMPO, 26 Februari 2012

Terusik oleh teks sampul belakang: “Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata?”. Dalam buku ini Sosok utama “aku”, namanya Prasetya Riksa, bisa diacukan pada  sosok nyata fotografer Erik Prasetya, sementara nama kekasih yang kemudian menikah dan dinikahi senantiasa disingkat dalam inisial A hanya sekali disebutkan  komplet Justina A yang punya kesejaran akta kelahiran tertanggal 21 November 1968, tentulah sosok konkret  (Justina) Ayu Utami, penulis sejumlah novel, kolom dan buku Cerita Cinta Enrico ini. Yang menarik, pelbagai peristiwa yang dialami Rico selalu ada kaitannya dengan sejarah kontenporer Indonesia. Jika bukan sejarah nyata itu berpengaruh pada kehidupan Rico dan keluarga, sebaliknya kehidupan keluarga Rico yang sekali-sekali bahkan menggerakkan sejarah.

Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura

Karya Huub de Jonge

Resensi ditulis Naufil Istikhari Kr

Dimuat  JAWA POS, 26 Februari 2012

Streotip hadir sebagai kultur budaya untuk memandang kelompok lain dengan sebelah mata. Dalam kaskus Indonesia, tidak banyak kelompok etnis yang menyandang streotip negatif dan samar-samar sebanyak melekat pada orang Madura. Elias (1976) mencatat, apabila menyangkut streotip orang luar, ciri-ciri “jelek” sering dibentuk dengan mengambil contoh individu “terburuk” dalam kelompok tersebut. Soal streotip kelompok sendiri, ciri-ciri “baik” dipetik dari orang dalam yang “terbaik” itulah yang terjadi pada orang Madura. Meski merupakan etnis terbesar ketiga di Indonesia, orang-orang Madura tidak diuntungkan secara sosial. Pandangan miring yang terlanjur melekat tidak mudah dihilangkan.  Karena alasan itulah, De Jonge, antropolog asal Belanda, memiliki ketertarikan kuat terhadap kebudayaan orang-orang Madura yang di setiap lintasan sejarah hampir selalu berlumuran stigma, streotip, citra negatif, dan parasangka-prasangka yang menyedihkan.

Jerusalem: The Biography

Karya Simon Sebag Montefiore

Resensi ditulis Hilyatul Auliya

Dimuat JAWA POS, 26 Februari 2012

Buku yang berjudul lengkap Jerusalem: The Bigraphy ini merupakan sebuah sintesis yang didasarkan kepada satu pembacaan luas tentang sumber-sumber primer, kuno dan modern, melalui seminar-seminar pribadi para spesialis, profesor, arkeolog, serta berdasar kunjungan-kunjungan langsung ke Jerusalem yang tak terhitung yang dilakukan penulisnya. Sejarah sering disajikan sebagai serangkaian perubahan brutal dan balas dendam kekerasan. Tapi, buku ini menunjukan bahwa Jerusalem adalah sebuah kota kontinuitas dan koeksistensi, sebuah metropolis hibrida dari bangunan-bangunan hibrida dan masyarakat.

Berjalan Menembus Batas

Karya A Fuadi dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 26 Februari 2012

Kisah yang tertuang dalam buku ini bukan kisah politisi ataupun artis yang saban hari menguasai media masa. Buku ini hanya mengisahkan perjuangan hebat manusia-manusia biasa  yang hidup nyata tanpa kepalsuan membangun citra. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni melawan keterbatasan harta, menahan rasa sakit dan menembus batas usaha.

Belajar dari Seratus Puisi dari Seratus Penyair

Karya Sunardian Wirodono

Resensi ditulis A Asranur Arifin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 26 Februari 2012

Dalam buku ini penulis menghimpun  seratus puisi dari seratus penyair Indonesia sejak RA Kartini (1879-1904), Chairil Anwar, Sapardi Djoko Darmono, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini sampai nama Riskha Susanti. Setiap puisi mendapatkan semacam tanggapan yang akan mengantarkan pembaca pada pemahaman sebuah tema tertentu. Yang ditampilkan penulis bukan kronologi pemikiran tetapi begitu banyak pernik kebijaksaan yang akan tersusun menjadi sebuah mosaik kehidupan.

Ayahku Inspirasiku

Karya Mariska Lubis

Resensi ditulis Alwi Shahab

Dimuat REPUBLIKA, 26 Februari 2012

ketika Bung Karno bertekad menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa mandiri, dia pun menunjukan TD Pardede sebagai menteri Urusan Berdikari singkatan dari “berdiri di atas kaki sendiri”. Dia membentuk kabinet pada 1965, tak lama setelah terjadi G30S. Bagi presiden pertama RI ini, TD Perdede adalah orang yang mampu mengayuh biduk dalam gelombang. Meski TD Pardede telah berpulang pada usia 75 tahun pada 1991, sanjungan terhadapnya sebagai seorang pekerja keras membuat bangga mereka yang menghadiri launching buku tentang kehidupannya yang berjudul Ayahku Inspirasiku, pada 10 Februari 2011.

Identitas Tionghoa Muslim Indonesia, Pergulatan Mencari Jati Diri

Karya Afthonul Afif

Resensi ditulis 92

Dimuat SUARA MERDEKA, 26 Februari 2012

Buku ini menelusuri perilaku diskriminatif yang menimpa masyarakat Tionghoa. Orang Pribumi dan Tionghoa diadu-domba oleh rezim Orde Baru untuk melanggengkan  kekuasaan. Hal ini dilakukan pemerintah demi mengamankan “stabilitas” kekuasaan. Perlakuan deskriminatif yang dilakukan kelompok suku bangsa mayoritas pribumi terhadap kelompok minoritas Tionghoa, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat.

Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Karya Fatih Zam

Resensi ditulis Toa

Dimuat TRIBUN JOGJA, 26 Februari 2012

Novel ini mengangkat tema konflik horizontal antara jawara dan ulama (kiai dan santri) juga perihal meletusnya Gunung Krakatau. Pada bagian awal, pembaca disuguhi potongan-potongan kisah beberapa tokoh yang muncul silih berganti dengan persoalan masing-masing. Ada tokoh Badai, pendekar muda yang berambisi mencari kitab Serat Cikaudeun yang ditulis Syekh Mansyur, seorang ulama Banten. (Aya Hidayah)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan