-->

Kronik Toggle

Jalan Sunyi Megawati

KETIKA elite ingar-bingar berteriak di panggung politik, presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, tidak ikut-ikutan berteriak. Ia lebih memilih jalan sunyi dan sepi, tetapi tetap tak kehilangan kesadarannya memikirkan nasib rakyat.

Megawati dinilai sebagai perempuan pemimpin yang benar-benar jantan dan tak pernah mengeluh selama menjabat presiden. Hal itulah yang mengemuka dalam diskusi dan bedah buku berjudul Megawati: Anak Putra Sang Fajar, yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Kamis (16/2) malam, di Hotel Sahid, Jakarta. Penerbitan buku itu diprakarsai Ketua Yayasan Kusuma Pertiwi SB Wiryanti Sukamdani.

“Buku ini muncul dari dorongan teman-teman Ibu Megawati, bercerita tentang Ibu Mega sebagai anak Proklamator, menjadi presiden, dan ketua umum partai besar di Indonesia. Ini adalah perjalanan panjang Ibu Mega dan bisa menjadi contoh bagi perempuan Indonesia,” kata Wiryanti.

Megawati semula kurang menyetujui penerbitan buku ini karena merasa tak nyaman atau tidak enak hati. Namun, akhirnya ia menyetujui penerbitan buku tersebut.

“Buku ini seperti mission impossible, berawal dari ide Mbak Yanti (Wiryanti) yang disampaikan kepada saya 2,5 tahun lalu,” kata Megawati.

Dalam pidatonya, ia menjelaskan, buku itu juga bagian dari perjuangannya.

“Saya ingin meneruskan perjuanganku karena belum selesai,” ucap Megawati.

Dalam buku itu terangkum pendapat 50 orang dari berbagai profesi tentang sosok Megawati. Juga diceritakan tentang Megawati sebagai sosok sederhana, dapat dipercaya, berani, konsisten, terus bekerja untuk wong cilik, dan peduli kepada rakyat.

“Kurang tepat jika Ibu Mega hanya disebut sebagai anak biologis Proklamator, tetapi juga anak ideologis. Di tengah kegamangan atau prahara bangsa, buku ini bisa menjadi oase dan referensi bagi kaum perempuan. Menjadi pemimpin itu tidak bisa tiba-tiba, tetapi harus dididik sejak kecil,” kata Wiryanti.

Editor buku itu yang juga Redaktur Senior Kompas August Parengkuan memaparkan, buku ini mengupas kepemimpinan Megawati, bukan hanya sebagai presiden, melainkan juga sebagai pemimpin bangsa. Selama menjadi presiden, Megawati mau mengambil tanggung jawab menyelesaikan masalah bangsa.

Megawati juga dinilai sebagai tokoh yang taat hukum dan konstitusi. “Saat saya tanya apakah akan maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004, Ibu Mega mengatakan, Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) memutuskan Ketua Umum tidak otomatis menjadi calon presiden. Dia tunduk pada putusan partai. Dia tunduk pada hukum dan aturan yang ada,” kata August lagi.

Dalam bedah buku yang dipandu Effendi Gazali itu, tampil sebagai pembahas adalah politisi senior Sabam Sirait, Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun, tokoh perempuan Musdah Mulia, serta pemikir kebangsaan dan kenegaraan Yudi Latif.

Menurut Sabam, Megawati adalah presiden pertama Indonesia yang menggelar pemilu presiden secara langsung pada 2004. Namun, ia fair, tak mencampuri pemilihan itu. (lok)

*)Kompas, 17 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan