-->

Kronik Toggle

IVAA: Rupa-rupa Arsip tentang Perupaan

Indonesia Visual Art Archive memamerkan sejumlah hasil digitalisasi katalog dan berbagai dokumen tentang aktivitas senirupa Indonesia di ruang rupa, Jakarta, 21 Januari-3 Februari. Pengunjung pameran bisa menyalin salinan lunak yang dipamerkan.

Aryo Wisanggeni

Indonesian Visual Art Archive memampatkan nyaris dua abad perjalanan seni rupa Indonesia dalam ruangan 7 meter x 10 meter. Pameran arsip dokumentasi Copas segala bentuk rupa di masa lalu itu tak menyuguhkan begitu banyak perupaan.

Ruang pamer Galeri Ruangrupa, Jakarta, remang-remang. Hanya ada empat lampu sorot kecil yang menerangi tempelan ratusan potong kertas berisi rekam jejak peristiwa bangsa. Kadang kalimat di ratusan kertas tempelan itu membikin geli atau malah jengkel.

Ungkapan pelukis kondang Basoeki Abdullah, misalnya, ”perempuan itu lebih cocok dilukis daripada sebagai pelukis”, pasti membuat satu-dua orang tersenyum dan satu-dua orang lainnya sewot.

Segala temaram itu hanyalah pengantar suasana menuju obyek pameran sesungguhnya, empat komputer bulukan berisi kumpulan 153 salinan lunak katalog seni rupa garapan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang mencatat tumbuh-kembang-susut seni rupa sejak 1819 hingga 2011. Juga dua televisi yang terus memutar rekaman berbagai peristiwa seni rupa dan film seni koleksi IVAA.

Setiap pengunjung boleh ”mencuri” salinan lunak yang dipamerkan, beberapa hanya terdiri atas sampul katalog, beberapa lainnya salinan lunak utuh. ”Silakan mencuri semuanya, justru itu tujuannya,” kata Direktur Eksekutif IVAA Farah Wardani tertawa. Copas, berasal dari kata copy-paste, begitulah judul pameran arsip seni rupa yang berlangsung sampai 3 Februari 2012 lalu.

Arsip digital yang dipamerkan itu buah pengumpulan segala dokumen dan berkas terkait peristiwa seni rupa yang dirintis Yayasan Seni Cemeti, Yogyakarta, sejak 1997. Pada April 2007, Yayasan Seni Cemeti bersalin nama menjadi IVAA dan meregenerasi sejumlah pelakonnya.

”Apa yang dirintis Yayasan Seni Cemeti mengisi kekosongan peran museum. Banyak karya perupa yang sudah dikoleksi kolektor pribadi, berkelana di ruang privat, dan tidak berdialog dengan publiknya,” kata Farah.

Perburuan segala arsip seni rupa sejak 1997 telah mengumpulkan 180.000 dokumen, termasuk foto-foto yang dibuat tahun 1930-an. Digitalisasi yang dilakukan delapan staf IVAA sejak 2008 baru rampung 70 persen dan 20 persen di antaranya adalah digitalisasi mentah yang belum terindeks dan tidak bisa dicari secara otomatis. Namun, setidaknya IVAA telah merangkai sejumlah benang merah lini masa seni rupa Indonesia.

”Karya seniman sebelum era 2003 sangat kuat mengekspresikan berbagai isu yang dirasakan masyarakatnya. Seni rupa memiliki kesadaran tanggung jawab mengekspresikan keadilan dan berbagai isu politik. Kami meyakini seni rupa menjadi bentuk dokumentasi zamannya,” ungkap Farah.

Sejumlah 154 salinan lunak itu terbagi dalam kelompok tema ”Praktik Seni Visual dan Isu Lingkungan di Indonesia”, ”Wacana Gender dalam Seni Rupa Indonesia”, ”Dinamika Seni Rupa dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan dan Ekonomi”, dan ”Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keberagaman”. IVAA juga menawarkan lebih banyak salinan lunak berbagai arsipnya dalam empat seri katalog data yang diluncurkan awal tahun ini.

Memaknai arsip seni rupa dalam keempat tema itu memang membuat arsip digital tersebut ”bernyawa”, ”hidup”. Sejumlah diskusi yang digelar di sela pameran mengulik berbagai hal soal rupa seni rupa pada masa lalu dan menjadi perdebatan serius.

Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Irwansyah, yang menjadi penanggap seri katalog ”Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keberagaman”, misalnya, mengkritik IVAA yang tidak berani merumuskan definisi keberagaman dalam pemahaman para perupa dari empat periode waktu versi katalog IVAA.

”Karena tidak ada penjelasan tentang keberagaman, eksplorasi tiap periode tidak mendalam. Eksplorasinya sebatas keberagaman suku dan agama saja, padahal dimensi multikultur sangat luas dan beragam,” ujar Irwansyah.

Farah menyebutnya sebagai fakta benang merah karya seni rupa dan isu keberagaman di mana karya lahir dari pemahaman keberagamaan yang dangkal. ”Maka, inilah yang kini kami sodorkan kepada publik untuk memikirkan kembali seni rupa seperti apa yang harus kita bentuk di masa kini,” kata Farah membeber pameran arsip kelima IVAA itu.

Sumber: Kompas, 26 Februari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan